SUKABUMIUPDATE.com – Warga Kampung Cihurang RT 01 RW 07, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi segera turun tangan melihat langsung kondisi warga terdampak bencana pergerakan tanah yang hingga kini belum mendapatkan kepastian relokasi.
Informasi yang dihimpun, bencana pergerakan tanah di wilayah tersebut disebut sudah terjadi sejak tahun 2022. Saat itu kondisinya belum terlalu parah, namun kembali terjadi pada tahun 2024 dan dampaknya semakin meluas hingga merusak puluhan rumah warga.
Salah seorang warga, Jamal (37), mengatakan sedikitnya ada sekitar 35 rumah yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut, termasuk satu masjid sebagai sarana ibadah warga. Meski sudah beberapa kali dilakukan survei oleh berbagai pihak, warga sampai saat ini masih menunggu realisasi bantuan relokasi dari pemerintah.
“Kalau awalnya dari tahun 2022, cuma belum terlalu parah. Terus kejadian lagi tahun 2024. Sampai hari ini belum ada kepastian relokasi,” ujar Jamal kepada sukabumiupdate.com, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, warga sangat berharap pemerintah daerah segera mempercepat proses relokasi, terlebih lahan disebut sudah tersedia di kawasan PT Citimu.
Baca Juga: Perbaikan Jalur Cibeber–Lampegan Selesai, KA Siliwangi Kembali Beroperasi Normal
“Harapan warga sekarang relokasi segera dibangun. Enggak usah 100 persen juga tidak apa-apa, yang penting ada kepastian. Kami juga ingin Pak Bupati Sukabumi (Asep Japar) turun langsung melihat kondisi di sini,” katanya.
Jamal menambahkan, saat ini masih ada sekitar lima kepala keluarga yang bertahan di lokasi rawan bencana karena belum memiliki tempat pindah. Mereka terpaksa tetap tinggal sambil menunggu kejelasan relokasi.
Sementara itu, kata Jamal, sekitar delapan rumah lainnya memilih membangun tempat tinggal secara mandiri. Sedangkan sebagian warga lain terpaksa menumpang di rumah kerabat.
“Yang masih di lokasi ada lima rumah. Mereka juga ingin pindah, tapi bingung harus ke mana. Sisanya banyak yang numpang ke saudara,” ucapnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Ujang (55). Ia mengaku masyarakat masih diliputi rasa waswas, terutama saat musim hujan tiba karena khawatir pergerakan tanah kembali terjadi.
“Kalau musim hujan itu warga suka waswas. Kadang tanah terasa bergeser, terus tembok rumah juga pernah ambruk,” ungkap Ujang.
Menurutnya, warga sebenarnya ingin segera pindah ke lokasi relokasi. Namun kendala biaya pembangunan rumah membuat sebagian warga belum bisa menempati lahan baru tersebut.
Baca Juga: Ibam dan Masa Depan Inovasi Indonesia yang Sedang Dipertaruhkan
“Relokasi sudah ada, cuma untuk mendirikan bangunannya warga kesulitan biaya. Jadi masih menunggu bantuan dari pemerintah,” ujarnya.
Ujang menambahkan, rumah warga yang mengalami kerusakan parah diperkirakan mencapai 25 unit, sementara total rumah terdampak di kawasan tersebut lebih dari 30 unit.
“Yang rusak parah ada sekitar 25 rumah. Kalau keseluruhan sampai ke atas itu lebih dari 30 rumah,” katanya.






