SUKABUMIUPDATE.com – Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 4,2 yang mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi pada Minggu (15/3/2026) dini hari, berdampak pada kerusakan bangunan rumah milik warga.
Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengonfirmasi hingga saat ini terdapat dua kecamatan yang melaporkan dampak kerusakan fisik akibat getaran gempa darat tersebut.
"Hanya 2 kecamatan yang melaporkan. Salah satunya bangunannya sudah lapuk," ujar Daeng, Minggu sore.
Di Kecamatan Sukalarang, gempa menyebabkan kerusakan pada rumah milik Bubun Bunyamin, warga Kampung Marga Jaya, RT 25/04, Desa Sukamaju.
"Dinding atas bagian depan rumah ambruk, sementara bagian dinding lainnya mengalami retakan yang cukup signifikan," tambah Daeng.
Baca Juga: Analisis Badan Geologi: Gempa M4,2 Sukabumi Berasal dari Sesar Aktif Cimandiri
Rumah tersebut dihuni oleh dua kepala keluarga (KK) dengan total delapan jiwa. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. P2BK Sukalarang saat ini telah melakukan assessment dan mengoordinasikan bantuan material bangunan bagi korban.
Sementara itu, di Kecamatan Simpenan, musibah serupa terjadi di Kampung Babakan Asem, RT 008/002, Desa Loji. Rumah milik M. Henda Sanusi mengalami ambruk pada bagian dapur akibat getaran gempa yang memicu bangunan yang memang sudah lapuk untuk runtuh.
"Bangunan dapur berukuran 6x4 meter dengan tinggi 3 meter mengalami kerusakan total. Kerugian material ditaksir mencapai Rp40 juta," jelas Daeng.
Akibat kerusakan tersebut, satu keluarga yang terdiri dari lima jiwa terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat. Saat ini, kebutuhan mendesak bagi korban di Desa Loji meliputi bahan pangan, terpal, serta bantuan material bangunan untuk perbaikan.
BPBD Kabupaten Sukabumi melalui Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) di masing-masing lokasi telah melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta relawan setempat.
Daeng Sutisna kembali menekankan bahwa guncangan gempa menjadi pemicu ambruknya bangunan tersebut, terutama karena kondisi struktur bangunan yang memang sudah tidak layak huni atau mengalami pelapukan.
"Tim di lapangan terus memantau situasi. Kami mengimbau warga tetap waspada jika ada bangunan yang memang sudah rapuh agar segera dilakukan penguatan atau tidak ditempati saat cuaca ekstrem atau pascagempa," pungkasnya.





