Analisis Badan Geologi: Gempa M4,2 Sukabumi Berasal dari Sesar Aktif Cimandiri

Sukabumiupdate.com
Minggu 15 Mar 2026, 11:17 WIB
Analisis Badan Geologi: Gempa M4,2 Sukabumi Berasal dari Sesar Aktif Cimandiri

Peta geologi Gempa darat dangkal M4,2 di Sukabumi Minggu (15/3/2026) dini hari. (Sumber Foto: Badan Geologi)

SUKABUMIUPDATE.com – Badan Geologi Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan hasil analisis terkait gempa bumi tektonik berkekuatan M4,2 yang mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi, Minggu (15/3/2026) dini hari.

Juru bicara PVMBG, Yana Karyana, menjelaskan bahwa berdasarkan parameter sumbernya, gempa darat yang terjadi pada pukul 00:36:13 WIB dengan kedalaman hiposenter 4 kilometer ini memiliki mekanisme sesar mendatar mengiri (sinistral strike-slip).

“Kejadian gempa bumi ini berarah relatif Barat Barat Daya–Timur Timur Laut (BBD-TTL) dan diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas Sesar Aktif Cimandiri,” ujar Yana dalam keterangan resminya, Minggu siang.

Kondisi Geologi dan Amplifikasi Guncangan

Yana memaparkan bahwa wilayah episenter yang terletak di darat memiliki karakteristik morfologi yang beragam, mulai dari dataran hingga perbukitan. Litologi penyusun wilayah tersebut didominasi oleh batuan gunung api tersier dan kuarter, serta batuan sedimen yang sebagian telah mengalami pelapukan.

Baca Juga: Gempa M4,2 Dangkal Guncang Sukabumi, Episentrum di Karangjaya Gegerbitung

Hasil analisis tapak lokal (Vs30) mengklasifikasikan wilayah terdekat episenter ke dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat/batuan lunak) dan Kelas Tanah D (tanah sedang).

“Keberadaan tanah lunak ini menyebabkan guncangan gempa terasa lebih intens. Itulah mengapa di wilayah seperti Nyalindung, guncangan mencapai skala intensitas IV MMI,” jelas Yana.

Berdasarkan laporan PUSDALOPS PB BPBD Kabupaten Sukabumi, guncangan gempa tersebut menyebabkan kerusakan pada bangunan warga, yakni dinding atas bagian depan rumah ambruk dan beberapa bagian dinding lainnya mengalami retak. Badan Geologi juga mengonfirmasi bahwa daerah terdampak memang terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi tinggi.

Meski guncangan dirasakan luas hingga ke Cianjur, Bogor, hingga Lembang, Yana menegaskan bahwa kejadian gempa ini tidak memicu tsunami karena pusatnya berada di daratan.

Rekomendasi Badan Geologi

Menyikapi kondisi tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu hoaks terkait gempa dan tsunami. Masyarakat diminta untuk melakukan langkah-langkah mitigasi berikut:

  • Pemeriksaan Bangunan: Melakukan pengecekan mandiri pada struktur bangunan pascagempa untuk memastikan keamanan.
  • Waspada Longsor: Menjauhi area tebing karena gempa berpotensi memicu gerakan tanah (longsor), terutama jika terjadi hujan.
  • Kaidah Bangunan: Ke depan, bangunan di daerah rawan gempa diharapkan mengikuti standar konstruksi tahan gempa yang dilengkapi jalur evakuasi.
  • Patuh Petugas: Tetap mengikuti arahan dari BPBD setempat dan memperhatikan rambu-rambu evakuasi yang ada.

“Kami imbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan senantiasa memantau informasi dari sumber resmi,” pungkas Yana.

Berita Terkait
Berita Terkini