Kisah Miris dari Cidadap Sukabumi, 9 Bulan Kakek Uloh Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Sukabumiupdate.com
Kamis 08 Jan 2026, 22:38 WIB
Kisah Miris dari Cidadap Sukabumi, 9 Bulan Kakek Uloh Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reyot

Kakek Uloh (70), tinggal sebatang kara di sebuah gubuk reyot di tengah kebun dan hutan, di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. (Sumber : SU/Ilyas).

SUKABUMIUPDATE.com - Nasib pilu dialami Uloh (70), seorang kakek asal Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sudah sekitar sembilan bulan terakhir, ia hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot di tengah kebun dan hutan, setelah rumahnya hilang tertimbun longsor dan sang istri meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Kedusunan Kawungluwuk, Desa Cidadap, menyisakan luka mendalam bagi Uloh. Malam kejadian itu, rumah sederhana yang ia tempati bersama istrinya runtuh tertimbun material longsor. Uloh selamat, namun sang istri tak tertolong.

"Salapan sasih (Sembilan bulan)," ujar Uloh saat di temui sukabumiupdate.com di gubuknya yang berada di dalam hutan pada Kamis (8/1/2026).

Dengan tubuh renta dan postur kecil, Uloh kini harus bertahan hidup sendirian. Gubuk atau saung reyot beratapkan seadanya itu menjadi tempat tinggalnya. Saat malam tiba, dingin menusuk tulang. Hujan dan angin kerap menerpa tanpa ampun. Sarung lusuh menjadi satu-satunya selimut, sementara bara api dari kayu bakar menjadi teman setia untuk menghangatkan tubuhnya.

Baca Juga: Buntut Tewasnya WNA Arab Saudi, DPRD Sukabumi: Wahana Jetski Ilegal Harus Ditutup

Untuk makan sehari - hari, Uloh mengandalkan hasil kebun seadanya. Namun, nasib kembali tak berpihak. Kebun turubuk yang ia tanami habis diserang babi hutan. Tak hanya itu, beras bantuan yang sempat ia dapatkan dari pengungsian korban banjir bandang pun habis diacak-acak monyet.

“Bekel beas dicokotan ku monyet (Bekal beras diambil sama monyet). Da sok aya monyet di dieu (Kan disini suka ada monyet) ,” tuturnya.

Uloh juga menyampaikan detik-detik tragis saat longsor terjadi. Pada malam itu, ia dan istrinya berada di dalam rumah. Longsor datang tiba-tiba, membuat keduanya tertimbun reruntuhan bangunan.

"(Didalam rumah) Istri we duaan (Istri saja berdua). Istri mah pan katimbug, pupus (Istri kan tertimbun, meninggal). Kajadianna wengi (Kejadiannya malam)," kata Uloh.

Ia mengaku tak mampu menyelamatkan diri maupun menolong sang istri. Tubuhnya terjepit material bangunan, pecahan kaca, dan bata hingga menyebabkan luka di tangannya. "Teu tiasa kaluar, teu aya nu nulungan (engga bisa keluar, engga ada yang nolong)," kata dia.

Baca Juga: Pohon Tumbang Timpa Truk Kontainer di Jalan Nasional Sukabumi-Bogor

Dengan sisa tenaga, Uloh merangkak dan menggeser tubuhnya keluar dari timbunan. Setelah itu, ia sempat naik ke atas reruntuhan rumah untuk mencari istrinya.

"Atos kitu naek ningali kana runtuhan usuk, naek kana usuk ka luhur, teu aya nu nulungan. (Setelah itu naik melihat ke reruntuhan kayu kaso, naik ke atas kaso, tidak ada yang menolong)," ucapnya.

Hingga kini, Uloh hidup sendirian. Ia sebenarnya memiliki anak yang tinggal di Pasir Pogor. Beberapa waktu lalu, Uloh juga sempat menginap selama tiga malam di rumah anaknya untuk berobat. Namun, setelah itu ia memilih kembali ke gubuknya di Kampung Babakan Sarua, Desa Cidadap.

"Putra mah gaduh (Anak mah punya). Mulih ka dieu deui (pulang lagi ke sini)," ujarnya.

 

Berita Terkait
Berita Terkini