"Biarin Saja, Kalau Meninggal Dikubur di Pemakaman": Bukti Chat Dugaan Penelantaran Sebelum NS Meninggal

Sukabumiupdate.com
Selasa 24 Feb 2026, 18:03 WIB
"Biarin Saja, Kalau Meninggal Dikubur di Pemakaman": Bukti Chat Dugaan Penelantaran Sebelum NS Meninggal

Ibu kandung almarhum NS, Lisnawati, mengungkap fakta mengejutkan menjelang kematian putranya (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Ibu kandung almarhum NS, Lisnawati, mengungkap fakta mengejutkan menjelang kematian putranya. Didampingi tim kuasa hukumnya, ia mendatangi Polres Sukabumi untuk melaporkan mantan suaminya berinisial AS serta ibu tiri korban berinisial TR (47) atas dugaan penelantaran hingga pembunuhan berencana, Selasa (24/2/2026).

Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, bersama Mira Widyawati dan tim membeberkan adanya percakapan singkat (SMS) dari ayah korban berinisial AS yang disebut terjadi dua hari sebelum NS meninggal dunia.

Krisna menegaskan, AS merupakan ayah kandung almarhum Nizam. Ia menyebut, dalam percakapan tersebut, ayah korban diduga tidak menunjukkan upaya penanganan medis yang serius. Bahkan, menurut kuasa hukum, terdapat pernyataan yang dinilai mengindikasikan pembiaran terhadap kondisi korban yang tengah sakit.

Baca Juga: Warga Dilarang Ngabuburit di Jalur Kereta Api, KAI Ingatkan Sanksi Pidana

"Jadi intinya chat dari ayahnya Nizam ke Ibu ini tanggal 17 Februari, dua hari sebelum meninggal, isinya menyampaikan bahwa Nizam ini sakit di rumah. Ibu bilang, Kenapa enggak dibawa ke rumah sakit?" Ayahnya jawab: "Biarin aja, kalaupun dia meninggal tinggal dimakamkan di pemakaman keluarga dekat bapaknya si bapak ini (AS) begitu intinya," kata Krisna.

Menurutnya, laporan tersebut diajukan sebagai bentuk upaya hukum seorang ibu yang kehilangan anaknya dan menduga adanya kelalaian serta pembiaran sebelum korban meninggal dunia.

Klien kami melapor sebagai korban yang telah kehilangan anaknya. Patut diduga adanya kelalaian dan pembiaran, sehingga kami melaporkan saudara AS dengan nomor laporan polisi STPL/B/106/II/2026/SPKT/Polres Sukabumi/Polda Jawa Barat,” ujar Krisna pada awak media, pada Selasa (24/2/2026).

Baca Juga: Persija Incar Tiga Poin di Ternate, Mauricio Waspadai Produktivitas Malut United

Lebih lanjut, pihak kuasa hukum menilai kondisi fisik korban mengalami perubahan setelah berada dalam pengasuhan ayahnya. Mereka menduga adanya keterlambatan penanganan medis meski korban disebut mengalami luka lebam dan luka bakar sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.

"Dulu anak dirawat ibunya sampai usia tujuh tahun dalam keadaan sehat dan bahagia. Setelah beralih ke ayahnya, kami melihat ada perubahan fisik. Ketika diminta dibawa ke rumah sakit, jawabannya belum ada waktu dan masih sibuk. Bahkan sempat dikatakan jika meninggal agar diikhlaskan," ungkapnya.

Atas dasar itu, pihaknya melaporkan AS dengan sangkaan Pasal 76B juncto Pasal 77B Undang-Undang Perlindungan Anak terkait dugaan pembiaran dan penelantaran anak. Selain itu, tim kuasa hukum juga melayangkan laporan terpisah terhadap ibu tiri korban, TR, atas dugaan pembunuhan berencana.

Baca Juga: AMSI Dorong Keseimbangan Kepentingan Perdagangan Internasional & Perlindungan Industri Media Nasional

"Iya, ada dua laporan polisi. Satu terkait dugaan pembiaran dan penelantaran oleh ayah kandung, dan satu lagi terhadap ibu tiri dengan dugaan pembunuhan berencana," tegasnya.

Sementara itu, Ibu kandung almarhum NS, Lisnawati, menyampaikan pernyataan haru terkait hubungan terakhirnya dengan sang anak sebelum meninggal dunia. Ia mengaku sudah sekitar empat tahun tidak bertemu maupun berkomunikasi dengan putranya.

"Sudah 4 tahunan. Terakhir komunikasi juga 4 tahun yang lalu. Setelah itu tidak ada komunikasi sama sekali karena dibatasi oleh ayahnya," ungkap Lisnawati.

Baca Juga: 5 Doa untuk Orang Tua yang Dapat Diamalkan Selama Bulan Ramadan

Lisnawati juga menjelaskan bahwa dirinya saat ini tinggal di Cianjur Kota. Ia menyebut, terakhir kali bertemu anaknya adalah saat mengantar ke pesantren sekitar empat tahun lalu.

"Saya tinggal di Cianjur Kota. Anak saya mesantren, dan saya yang mengantar dia ke pesantren 4 tahun lalu, cuma mengantar saja," tuturnya.

Terkait informasi penyakit yang sempat disampaikan pihak keluarga ayah korban, Lisnawati mengaku mendengar kabar bahwa anaknya disebut menderita leukemia. Namun, ia menilai ada kejanggalan atas informasi tersebut. "Kata ibu tirinya begitu, katanya sakit leukemia. Tapi menurut saya ada kejanggalan," katanya.

Baca Juga: 11 Tatarucingan Sunda Lucu, “Hayamna Bodas, Naonna anu Hideung?”

Lebih jauh, Lisnawati juga mengungkap karakter mantan suaminya, AS, yang disebut temperamental selama mereka masih bersama. Ia mengaku kerap mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bahkan sejak masa kehamilan.

"Iya, temperamental. Saya sering dipukul, sering dijambak. Bahkan waktu saya hamil, dia pernah bilang, ‘Sudahlah kamu meninggal saja sama anak saya,’ sambil membawa motor dengan ugal-ugalan," ujarnya dengan suara bergetar.

Saat ditanya alasan perlakuan tersebut, Lisnawati mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebabnya. "Enggak tahu alasannya," ucapanya.

Baca Juga: Ramadan Penyintas Bencana Lembursawah: 100 KK Masih Menanti Kepastian Huntap

Di akhir pernyataannya, Lisnawati hanya bisa menyampaikan doa terbaik untuk putranya yang telah tiada. "Ya, doa yang terbaik buat anak saya," ungkapnya.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini