SUKABUMIUPDATE.com - Gorengan seperti bakwan, tahu isi, risoles, atau tempe goreng memang menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih membuat banyak orang merasa belum lengkap jika berbuka tanpa gorengan. Namun di balik kelezatannya, konsumsi gorengan secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan.
Makanan yang digoreng terutama yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans dapat berdampak buruk jika dikonsumsi terlalu sering. Berikut beberapa bahaya konsumsi gorengan secara berlebihan:
1. Meningkatkan Risiko Kolesterol Tinggi
Gorengan umumnya dimasak dengan minyak yang dipanaskan pada suhu tinggi. Proses ini dapat menghasilkan lemak trans, terutama jika menggunakan minyak berulang kali (minyak jelantah). Lemak trans diketahui dapat:
- Meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL)
- Menurunkan kolesterol baik (HDL)
Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Sahur! Ini 10 Risiko Puasa Tanpa Sahur bagi Kesehatan
2. Memicu Penyakit Jantung
Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans secara terus-menerus berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis). Menurut rekomendasi kesehatan global, asupan lemak trans sebaiknya dibatasi seminimal mungkin karena berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
3. Menyebabkan Kenaikan Berat Badan dan Obesitas
Gorengan mengandung kalori tinggi karena proses penggorengan membuat makanan menyerap banyak minyak. Konsumsi berlebihan, terutama saat berbuka puasa ketika tubuh sedang sangat lapar, dapat menyebabkan asupan kalori berlebih yang berujung pada kenaikan berat badan.
4. Gangguan Pencernaan
Makanan berminyak dan berlemak tinggi lebih sulit dicerna. Akibatnya, setelah berbuka dengan banyak gorengan, seseorang bisa mengalami:
- Perut kembung
- Mual
- Rasa begah
- Asam lambung naik
Hal ini lebih berisiko pada penderita maag atau GERD.
Baca Juga: 8 Manfaat Blewah untuk Menjaga Tubuh Tetap Segar Saat Puasa
5. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2
Pola makan tinggi lemak dan kalori dalam jangka panjang dapat memicu resistensi insulin, yang menjadi faktor risiko utama diabetes tipe 2. Apalagi jika gorengan dikonsumsi bersamaan dengan minuman manis saat berbuka.
6. Paparan Zat Berbahaya dari Minyak Berulang
Penggunaan minyak goreng berulang kali dapat menghasilkan senyawa berbahaya akibat oksidasi, seperti aldehida dan radikal bebas. Paparan jangka panjang terhadap senyawa ini dikaitkan dengan peningkatan risiko peradangan kronis dan gangguan kesehatan lainnya.
7. Meningkatkan Peradangan dalam Tubuh
Lemak trans dan hasil oksidasi minyak dapat memicu respons peradangan. Peradangan kronis dalam tubuh berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan gangguan metabolik.
Gorengan memang menggoda dan sudah menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa di Indonesia. Namun, konsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga diabetes.
Kunci utamanya adalah bijak dalam mengatur porsi dan frekuensi konsumsi. Dengan pola makan yang seimbang, Anda tetap bisa menikmati momen berbuka tanpa mengorbankan kesehatan.
Baca Juga: Inspirasi Warna Baju Lebaran: 7 Warna Fashion yang Sedang Tren 2026
Sumber: Berbagai sumber




