SUKABUMIUPDATE.com - Ditengah meningkatnya aktivitas vulkanik gunung anak kratau, gempa bermagnitudo 5,3 mengguncang sebagian Banten khususnya wilayah selatan pada Rabu dini hari, (8/7/2026). Gempa yang berpusat di perairan sekitar sumur banten ini disebut BMKG berada di zona Megathrust Selat Sunda (MSS).
Titik pusat lindu tepatnya berada di laut pada jarak 62 kilometer arah barat daya Sumur, Pandeglang, Banten, pada kedalaman 43 kilometer. Hasil pemodelan BMKG menunjukkan gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
"Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi," bunyi bagian dari keterangan yang dibagikan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, pascagempa itu, Rabu 8 Juli 2026.
Baca Juga: Jabar dan Selangor Jajaki Kerja Sama Perdagangan dan Investasi, Konferensi Digelar di Bandung
Zona subduksi atau tumbukan antar lempeng bumi dikenal pula sebagai zona megathrust atau zona yang berpotensi menghasilkan gempa kuat. Zona MSS atau Megathrust Selat Sunda. Menurut BMKG, gempa tersebut dirasakan terkuat pada skala IV MMI, yakni di Sumur.
Dilansir dari berbagai sumber, MSS adalah zona subduksi aktif yang diperkirakan mampu memicu gempa dahsyat dengan kekuatan maksimal magnitudo 8,7 hingga 9,0 atau lebih. Wilayah ini sedang mengalami akumulasi energi dan menurut para ahli telah memasuki siklus 200 tahunan, sehingga menyimpan potensi ancaman tsunami besar di pesisir selatan Jawa dan Sumatra.
MSS merupakan bagian dari sistem zona subduksi Sunda yang membentang di sepanjang pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dan menunjam ke bawah dengan laju sekitar 60 hingga 70 mm per tahun.
Baca Juga: Rekap Transfer Persib Bandung 8 Juli 2026, 9 Pemain Keluar 6 Masuk, Siapa Saja?
Para ahli, termasuk dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjadikan wilayah ini sebagai titik perhatian utama karena statusnya yang diidentifikasi sebagai seismic gap. Kondisi ini berarti wilayah tersebut telah lama sepi dari gempa besar (akumulasi regangan energi) padahal wilayah sekitarnya sering mengalami aktivitas kegempaan
Gempa kuat di tengah Geliat Erupsi Anak Krakatau
Gempa tektonik ini terjadi ditengah meningkatkan aktivitas vulkanik gunung api Anak Krakatau yang berada di selat sunda. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi melaporkan Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Hingga Rabu, 8 Juli 2026, pukul 09.54 WIB, gunung api di Selat Sunda itu tercatat telah mengalami enam kali erupsi hanya dalam rentang waktu kurang dari 10 jam.
Berdasarkan laporan PVMBG, erupsi pertama terjadi pada pukul 00.11 WIB. Letusan tersebut tidak dapat diamati secara visual karena kondisi pengamatan, namun terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 24 milimeter dan durasi 40 detik.
Baca Juga: KUA Nagrak Sukabumi Dibobol Maling, Printer Buku Nikah, Laptop hingga Tabung LPG Raib
Aktivitas kemudian berlanjut pada pukul 05.50 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu, cokelat hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara dan barat laut. Erupsi ini memiliki amplitudo maksimum 26,1 milimeter dengan durasi 44 detik.
Sekitar satu jam kemudian, tepatnya pukul 07.11 WIB, Anak Krakatau kembali meletus. Kali ini kolom abu kembali mencapai sekitar 250 meter di atas puncak dengan warna kelabu hingga hitam dan intensitas sedang hingga tebal ke arah barat laut. Erupsi berlangsung selama 31 detik dengan amplitudo maksimum 44,4 milimeter.
Aktivitas vulkanik belum mereda. Pada pukul 08.42 WIB, terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut. Letusan ini terekam selama 40 detik dengan amplitudo maksimum 35 milimeter.
Baca Juga: Daftar Top Skor dan Top Assist Sementara Piala Dunia 2026, Messi Olise Bersinar
Tak lama berselang, pukul 09.35 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali menyemburkan abu vulkanik setinggi sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang bergerak ke arah barat laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 49 milimeter dan berlangsung sekitar 27 detik.
Erupsi terjadi lagi pada pukul 09.54 WIB. Kolom abu kembali mencapai sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 meter di atas permukaan laut dengan warna kelabu dan intensitas tebal ke arah barat laut.
"Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 45 mm dan durasi 13 detik," kata salah satu petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Deny Mardiono, dalam laporannya untuk PVMBG, Rabu.
Baca Juga: Kota Sukabumi Siaga Kemarau Hingga Akhir September 2026: Daftar Wilayah yang Sering Terdampak
Meski aktivitas erupsi terjadi berulang kali dalam satu hari, PVMBG masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pendaki agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Warga juga diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik gunung tersebut.





