SUKABUMIUPDATE.com – Inovasi bahan bakar minyak (BBM) berbasis limbah plastik bernama Petasol kini mulai menunjukkan dampak nyata. Dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Petasol telah diterapkan di puluhan daerah di Indonesia sebagai solusi alternatif untuk mengatasi persoalan energi sekaligus menekan volume sampah plastik.
Mengutip dari laman resminya, inovasi BRIN ini dapat mengolah berbagai jenis limbah LDPE, HDPE, PP, PS, dalam kondisi basah dan kotor setiap hari.
“Terobosan ini menjadi solusi untuk menjawab tantangan krisis energi, sekaligus permasalahan sampah plastik,“ jelas Kepala BRIN Arif Satria saat melakukan uji coba Petasol di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara Jateng, pada Jumat (24/4).
Arif menjelaskan bahwa dalam uji coba bahan bakar hasil olahan limbah plastik digunakan untuk menggerakkan perahu nelayan. Mesin perahu yang menyala dengan baik menunjukkan bahwa Petasol berpotensi diterapkan langsung di sektor perikanan dan aktivitas masyarakat pesisir.
Arif menambahkan, dalam uji coba tersebut, bahan bakar hasil olahan limbah plastik ini digunakan pada perahu nelayan. Nyalanya mesin pada perahu nelayan, menandai potensi penerapannya secara langsung di sektor perikanan.
“Petasol ini adalah bahan bakar yang diproduksi dari limbah plastik yang memang sudah tidak bisa didaur ulang. Ini adalah terobosan dari BRIN, dari teman-teman di Organisasi Riset bidang Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN,” kata Arif.
Baca Juga: Garuda Calling, Tiga Pemain Persib Bandung Dipanggil Timnas Indonesia
Ia menjelaskan, Petasol merupakan respon BRIN menghadapi berbagai situasi terkini seperti ancaman krisis energi. Sehingga BRIN meresponnya dengan mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar, yang berguna untuk perahu nelayan dan alat-alat pertanian.
Kelebihan dari Petasol ini, Arif menyebut, pertama ialah bisa mengubah bahan baku sampah yang yang tidak memiliki nilai ekonomi, menjadi produk yang bermanfaat. Kedua, emisi hasil dari bahan bakar ini sudah memenuhi standar Lemigas.
“Jadi ini adalah sebuah karya yang menurut saya satu menjawab persoalan lingkungan, kedua adalah menjawab persoalan energi, yang paling penting lagi adalah menyelesaikan masalah sampah. Karena Bapak Presiden sekarang konsen sekali terkait dengan cara mengatasi masalah sampah,” jelasnya.
Arif mengatakan, ke depan Petasol tidak hanya akan disebarkan di wilayah Kabupaten Jepara, namun juga di daerah-daerah pesisir dan kawasan pertanian lain se-Indonesia. Tidak hanya Petasol, termasuk juga inovasi BRIN lainnya.
“Alhamdulillah ini sudah diterapkan di kurang lebih 84 kabupaten/ kota, dan kami harapkan akan menyebar lebih luas lagi,” ucapnya.
Peneliti Ahli Utama OREM BRIN Tri Martini Patria, menjelaskan inovasi Petasol tidak hanya berdampak pada penyediaan energi alternatif, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi yang signifikan.
“Pemanfaatan limbah plastik melalui teknologi pirolisis ini mampu mengurangi emisi CO2e hingga 79 persen dibandingkan pembakaran terbuka. Selain itu, dari sisi ekonomi, terdapat potensi keuntungan hingga sekitar Rp4.700 per liter bahan bakar yang dihasilkan,” ujar Tri.
Ia mengatakan, kualitas bahan bakar yang dihasilkan juga telah melalui pengujian laboratorium dan memenuhi standar yang ditetapkan. Bahan bakar dari limbah plastik ini telah diuji oleh laboratorium BRIN dan Lemigas, dengan hasil yang memenuhi standar Diesel 48 dan 51, sehingga aman digunakan untuk kendaraan maupun mesin.
“Teknologi ini juga dapat diterapkan dalam skala komunitas. Dengan mesin pirolisis berkapasitas 50 kilogram, pengolahan ini dapat membantu menangani sampah plastik dari sekitar 1.000 Kepala Keluarga. Sehingga Petasol ini berpotensi menjadi solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” ucapnya.
Sumber : brin.go.id






