7 Sikap Hidup Orang Sunda yang Bisa Diterapkan di Zaman Modern Agar Lebih Tenang

Sukabumiupdate.com
Rabu 29 Apr 2026, 18:30 WIB
7 Sikap Hidup Orang Sunda yang Bisa Diterapkan di Zaman Modern Agar Lebih Tenang

Ilustrasi - Sikap hidup orang Sunda mengajarkan tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap, berhubungan dengan orang lain, dan memahami dirinya sendiri (Sumber : AI/ChatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Filosofi hidup orang Sunda sering dianggap sederhana, tidak rumit, tidak penuh istilah besar. Tapi justru di balik kesederhanaannya, tersimpan cara pandang yang dalam tentang kehidupan.

Tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap, berhubungan dengan orang lain, dan memahami dirinya sendiri. Di zaman sekarang, ketika banyak orang mencari makna hidup ke mana-mana, mungkin jawabannya sudah ada sejak dulu hanya saja kita lupa melihatnya.

Nah, berikut ini beberapa sikap hidup orang Sunda yang masih relevan dan bisa diterapkan di zaman sekarang agar hidup lebih tenang.

Baca Juga: Pamali Sunda: Antara Mitos dan Makna yang Tersembunyi, Pamali Apa Yang Paling Diingat?

Baca Juga: Dulu Biasa, Sekarang Langka: Tradisi Sunda yang Mulai Hilang

1. Hidup Harus Seimbang

Orang Sunda sangat menjunjung “Kasaimbangan” (keseimbangan) antara diri sendiri dan orang lain, antara manusia dan alam serta antara dunia dan batin

Nenek moyang Sunda tidak suka yang berlebihan, seperti kata papatah Sunda “Hirup ulah kaleuleuwihi, boh dina bungah boh dina susah.” Artinya jangan terlalu larut dalam senang dan jangan tenggelam dalam sedih, semua harus diterima dengan tenang

2. Leuleus Jeung Someah Itu Kekuatan

Banyak yang mengira sifat lembut itu lemah. Padahal dalam budaya Sunda, justru sebaliknya. Leuleus berarti halus dalam bersikap, bukan lemah. Someah berarti ramah dalam perlakuan, bukan kepura-puraan, tapi bentuk pengendalian diri. Nenek moyang Sunda tahu orang kuat itu bukan yang keras, tapi yang bisa menahan diri.

3. Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer

Dalam konsep manusia ideal Sunda harus cageur (sehat fisik dan mental), bageur (baik hati), bener (jujur), pinter (cerdas) dan singer (terampil).
Dalam konsep tersebut urutannya cukup menarik. Bukan “pinter” dulu tapi bageur dan bener dulu. Artinya karakter lebih penting daripada kecerdasan.

4. Teu Sagala Kudu Diomongkeun

Orang Sunda tahu bahwa tidak semua harus diucapkan. Manusia harus bisa menahan, menyaring dan memilih kata. Ini bukan karena tidak jujur, tapi karena menjaga perasaan orang lain.

5. Hormat Ka Nu Kolot, Mikanyaah Ka Nu Leutik

Artinya kita manusia harus hormat kepada yang tua dan sayang ke yang muda. Ini bukan sekadar sopan santun, tapi sistem nilai. Yang tua dihargai pengalaman dan ilmunya, lalu yang muda dilindungi dan dibimbing.

6. Hidup Dekat dengan Alam

Orang Sunda dulu tidak memisahkan diri dari alam tapi menjadi bagian dari alam. Manusia bukan entitas yang terpisah dari alam. Tubuh, biologis, dan kelangsungan hidup manusia sepenuhnya bergantung pada ekosistem bumi, menjadikannya satu kesatuan sistem yang saling ketergantungan.

7. Narima Bukan Berarti Menyerah

Narima (menerima) dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan pasrah tanpa usaha. Jadi kita harus memaksimalkan usaha yang bisa dilakukan, baru setelah itu menerima apa yang jadi bagian kita.

Itulah beberapa sikap hidup orang Sunda yang bisa diterapkan di zaman sekarang agar hidup lebih tenang meski zaman sudah serba cepat.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini