6 Cara Orang Sunda Memandang Hidup: Pelan dan Penuh Makna, Tapi Kini Mulai Terlupakan

Sukabumiupdate.com
Jumat 24 Apr 2026, 12:30 WIB
6 Cara Orang Sunda Memandang Hidup: Pelan dan Penuh Makna, Tapi Kini Mulai Terlupakan

Ilustrasi - Cara orang Sunda memandang hidup atau filosofi hidup orang Sunda sebenarnya tidak rumit, tidak tinggi dan tidak muluk (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Orang tua zaman dulu sebenarnya tidak banyak bicara soal “filosofi hidup”. Namun, dari cara mereka bersikap, berbicara, dan menjalani kehidupan sehari-hari semuanya sudah penuh makna.

Kebanyakan orang Sunda zaman dulu tidak mengejar hidup yang terlihat hebat, tapi cukup hidup yang tenang, cukup, dan bermanfaat untuk orang lain.

Kini, sikap hidup tersebut mulai menghilang. Kita bisa merasakan sendiri bagaimana di zaman sekarang semua harus serba cepat sehingga sudah sedikit orang yang menghargai proses sesuatu. Selain itu masih banyak sikap hidup orang Sunda zaman dulu yang mulai dilupakan, dan berikut beberapa diantaranya seperti dirangkum dari berbagai sumber.

Baca Juga: Dulu Biasa, Sekarang Langka: Tradisi Sunda yang Mulai Hilang

Baca Juga: Contoh Paparikan Bahasa Sunda Buat Hiburan Pas Ngumpul Bareng

1. “Hirup mah saukur mampir nginum”

Artinya hidup itu hanya singgah sebentar. Orang Sunda percaya bahwa hidup ini tidak selamanya. Makanya, mereka tidak terlalu mengejar dunia secara berlebihan. Tapi, bukan berarti tidak punya ambisi, mereka tahu kapan harus merasa cukup. Banyak dari orang zaman dulu menganggap jika hidup bukan soal seberapa lama, tapi seberapa berarti.

2. “Silih asah, silih asih, silih asuh”

Artinya saling belajar, saling menyayangi, saling menjaga. Ini merupakan inti kehidupan sosial orang Sunda. Silih asah (saling mengingatkan & belajar), silih asih (saling menyayangi), dan silih asuh (saling membimbing). Dulu, ini terasa di mana-mana, tapi sekarang, kadang bahkan dengan tetangga saja terasa jauh.

3. “Someah hade ka semah”

Artinya ramah kepada siapa saja. Orang Sunda dikenal lemes dan ramah yang bukan dibuat-buat, tapi karena mereka percaya jika sikap baik itu bukan pilihan, tapi kebiasaan.

Baca Juga: Mengenal Aksara Sunda: Lambang Bunyi Ngalagena, Swara dan Angka

4. “Ulah adigung, adiguna, adigang”

Artinya jangan sombong karena kekuatan, kepintaran, atau kekuasaan. Ini pengingat agar manusia tetap rendah hati. Karena dalam pandangan budaya Sunda pintar belum tentu bijak dan yang kuat belum tentu benar.

5. “Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman”

Artinya mengikuti waktu, menyesuaikan zaman. Orang Sunda tidak menolak perubahan, tapi juga tidak kehilangan jati diri. Kita tidak dilarang untuk mengikuti modernitas tapi jangan pernah melupakan akar budaya.

6. “Tepa salira”

Artinya bisa menempatkan diri dan memahami orang lain. Sikap hidup ini tentang empati. Kita harus tahu kapan harus bicara, tahu kapan harus diam dan tahu bagaimana bersikap

Itulah beberapa cara orang Sunda memandang hidup. Filosofi hidup orang Sunda sebenarnya tidak rumit, tidak tinggi dan tidak muluk. Tapi justru di situlah letak dalamnya, orang Sunda hidup sederhana, selalu bersikap baik, tidak menyakiti orang lain, dan tahu kapan harus cukup.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini