SUKABUMIUPDATE.com - Tahukah Anda jika di dunia ini ada beberapa golongan orang yang tidak akan pernah tembus oleh Iblis. Mereka-mereka ini bahkan memiliki hijab yang melindungi dari godaan-godaan iblis yang terkutuk.
Ustadz Adi Hidayat melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official menjelaskan tentang golongan manusia yang memiliki “hijab” atau benteng sehingga tidak bisa ditembus oleh godaan iblis.
Dalam penjelasannya, Ustadz Adi Hidayat menerangkan bahwa iblis pada awalnya berasal dari golongan jin yang taat kepada Allah. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Kahfi ayat 50, yang menyebutkan bahwa iblis berasal dari golongan jin.
Namun, iblis kemudian melakukan penyimpangan besar. Penyimpangan itu bukan sekadar kesalahan biasa, tetapi disertai dengan kesombongan yang membuatnya tidak mau bertobat kepada Allah.
Kesombongan inilah yang menjadi akar persoalan. Iblis merasa dirinya lebih baik daripada Nabi Adam. Karena perasaan itulah, ia menolak menaati perintah Allah untuk bersujud kepada Adam.
Allah kemudian menegur iblis sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 11–13. Teguran Allah bukan semata-mata tentang sujud kepada Adam, tetapi tentang ketidaktaatan iblis terhadap perintah Allah.
Baca Juga: Berawal dari Suara Gaduh, Misteri Mayat Laki-laki di Bak Air Rumah Kosong di Pamuruyan
Allah berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk sujud ketika Aku memerintahkanmu?”
Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Artinya, persoalan utamanya bukan tentang Adam, tetapi tentang perintah Allah yang tidak dipatuhi.
Iblis kemudian menjawab dengan penuh kesombongan, “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
Dari sinilah terlihat bahwa kesombongan membuat iblis menolak kebenaran. Karena sikap itulah, Allah mengharamkan sifat sombong dan menjadikan kesombongan sebagai salah satu sifat penghuni neraka.
Dari kisah ini, Allah memberi pelajaran kepada manusia agar tidak memiliki sifat seperti iblis. Jika seseorang bersikap sombong seperti iblis, maka ia bisa terlempar dari rahmat Allah sebagaimana iblis diusir dari rahmat-Nya.
Ilustrasi Iblis. | Youtube/@Andi Richiez.
Lebih jauh lagi, dalam Surah Al-Hijr ayat 43–44, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang mengikuti jalan iblis akan dijanjikan masuk ke neraka Jahannam yang memiliki tujuh pintu. Setiap pintu diperuntukkan bagi golongan tertentu dari pengikut iblis.
Iblis sendiri mengakui dalam ayat sebelumnya bahwa ia akan menggoda seluruh anak cucu Adam agar mengikuti godaannya.
Namun, ada satu golongan manusia yang tidak bisa ditembus oleh iblis. Hal ini disebutkan dalam Surah Al-Hijr ayat 40.
“Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”
Golongan tersebut adalah hamba-hamba Allah yang memiliki “hijab” atau benteng yang melindungi mereka dari godaan iblis. Benteng inilah yang menjadi inti dari makna Surah Al-Hijr.
Jika seseorang memiliki benteng ini, iblis memang tetap akan mencoba menggoda, tetapi godaan itu tidak akan mampu menembus dirinya.
Kunci dari benteng tersebut adalah keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.
Allah memerintahkan manusia untuk berusaha meraih keikhlasan sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5. Orang yang berusaha ikhlas disebut mukhlis. Ketika keikhlasan itu benar-benar dianugerahkan oleh Allah, derajatnya meningkat menjadi mukhlash.
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar),”
Orang yang telah mencapai tingkat keikhlasan ini sangat sulit ditembus oleh iblis.
Ciri lain dari orang-orang yang ikhlas dijelaskan dalam lanjutan ayat Surah Al-Hijr ayat 47. Mereka adalah golongan orang bertakwa yang akan mendapatkan balasan berupa surga.
Allah Berfirman: “Dan di surga kelak akan Kami lenyapkan segala rasa dendam, benci, dengki, dan iri yang ada dan terpendam dalam hati mereka selama di dunia. Dengan demikian, mereka merasa bersaudara dan bersahabat satu dengan lainnya dalam suasana bahagia dan gembira. Mereka duduk saling berhadapan di atas dipan-dipan yang telah disiapkan bagi mereka,”
Salah satu ciri utama orang yang ikhlas adalah mampu membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk. Dalam ayat 47, Allah menyebutkan bahwa penghuni surga telah dihilangkan dari hati mereka rasa dendam, iri, dan cemburu.
Dengan hati yang bersih, mereka dapat membangun persaudaraan yang tulus. Karena persaudaraan itu pula, kelak mereka akan berkumpul di surga dalam keadaan saling berhadapan dengan penuh kebahagiaan.
“Dan hebatnya karena sifat persaudaraan ini saat di dunia, dikumpulkanlah sesama saudara ini saling menarik saat di surga, bertemu dan duduk berhadap-hadapan dengan keadaan yang sangat riang. Karena itulah nanti banyak ayat di Quran mengajak kita untuk menumbuhkan persaudaraan, menjauhi sifat-sifat perselisihan, saling iri hati, hanya orang yang iri hati dan cemburu yang sulit memasuki pintu surga karena iblis pertama kali diusir dari surga karena sifat iri hati dan cemburunya,” ujar Ustadz Adi Hidayat.
Ustadz Adi Hidayat kemudian menambahkan, bahwa Allah kemudian memerintahkan umat Islam untuk menjaga persatuan sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 103:
wa‘tashimû biḫablillâhi jamî‘aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni‘matallâhi ‘alaikum idz kuntum a‘dâ'an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini‘matihî ikhwânâ, wa kuntum ‘alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la‘allakum tahtadûn
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk,”
Dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa dengan nikmat Allah, manusia dipersatukan dalam persaudaraan.
Karena itu, persaudaraan dalam Islam tidak boleh rusak hanya karena godaan iblis, seperti iri hati, dengki, dan permusuhan.
Dengan menjaga keikhlasan, membersihkan hati dari sifat buruk, serta memperkuat persaudaraan, seorang hamba dapat memiliki benteng yang kuat sehingga tidak mudah ditembus oleh godaan iblis.


