TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Kenali Modus Kejahatan di Dunia Perbankan dan Pentingnya Literasi Keuangan Digital

Penulis
Senin 22 Agt 2022, 19:53 WIB

Selain OJK dan BNI, AMSI juga menghadirkan Guru Besar Ilmu Komputer Sains Universitas Sampoerna, Prof. Teddy Mantoro sebagai salah satu pemateri untuk topik kejahatan perbankan ini. Dalam paparannya, Ketua IEEE Computational Intelligence Society, Indonesia Chapter ini mengawali dengan membuka data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), bahwa tercatat lebih dari 1,6 miliar anomali trafik atau serangan selama kurung waktu 2021, meningkat 3 kali lipat dibanding tahun 2022.

Dalam materi workshop berjudul cakap dan aman melakukan transaksi digital ini, Prof Teddy menyebut diperlukan peningkatan kapasitas karyawan atau SDM dari lembaga keuangan. Ini karena kejahatan perbankan khususnya phising upaya pencurian data dan aset nasabah adalah keteledoran user yang menjadi tanggung jawab perusahaan lembaga keuangan.

Ia menukil laporan knowbe4 tahun 2020. Dimana sekitar 31,4% karyawan perbankan gagal tes keamanan phising dasar. “Jadi literasi keuangan itu selain user juga perbankannya. Kalau terjadi kebocoran data menurut saya orang yang paling bertanggung jawab itu ya perusahaan perbankannya,” jelas Prof Teddy.

Pria yang juga masih menjabat sebagai Ketua IdNNS Indonesia Neural Network Society menyebut kasus kebocoran data nasabah bank ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Salah satu contoh yang diungkap Prof Teddynya data nasabah Bank Jatim yang diduga bocor dan diperjualbelikan di forum hacker seharga USD 250 ribu atau sekitar Rp3,5 miliar. 

photoGuru Besar Ilmu Komputer Sains Universitas Sampoerna, Prof. Teddy Mantoro workshop Literasi Digital Perbankan Peduli Lindungi Data Pribadi - (dok AMSI)</span

“Ini mengerikan. Akun @blAct0r yang menjajakannya di situs Raid Forum. Data yang ditawarkan berukuran cukup besar yakni 378 Gb,” jelasnya.

Berbicara kejahatan siber, lanjut Teddy hampir semua berkaitan dengan perbankan melalui email, yang menukil data USA Cyber Crime Type tahun 2019. Penelitian di Australia menyebutkan 97% orang di dunia tidak bisa membedakan phising email, tak hanya email tapi juga datang melalui whatsapp dan jalur komunikasi digital lainnya.

Hal yang membuat Prof Teddy sedikit gembira saat ini Indonesia berada peringkat 24 global cybersecurity index. “Ini dibuat oleh PBB, dimana ada 5 variabel penting untuk diukur, termasuk perbankan,” jelasnya.

Pertama teknologi, kemampuan untuk mengadopsi teknologi terbaru untuk mengatasi permasalahan terkini. Kedua, capacity building, ini menjadi tantangan di Indonesia karena kapasitas pemahamannya masih rendah, terutama user IT kalau pegawai bank sudah lebih baik mungkin rata-rata sudah Sarjana.

Ketiga organization, terkait jika ada insiden follow upnya penting, perlu standar baku untuk merespon. Keempat Cooperation, kemampuan bekerjasama masih rendah, dimana kalau ada kejadian malah saling menyalahkan. Kelima legal atau aturan, dimana masih dalam proses pemerintah.


Editor
Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x