bankbjb

Kenali Modus Kejahatan di Dunia Perbankan dan Pentingnya Literasi Keuangan Digital

Fitriansyah
Penulis
Senin 22 Agt 2022, 19:53 WIB
Kenali Modus Kejahatan di Dunia Perbankan dan Pentingnya Literasi Keuangan Digital

SUKABUMIUPDATE.com - Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia atau OJK RI ungkap fakta mengejutkan, ditengah tingginya angka inklusi ke layanan perbankan di Indonesia, indeks literasi keuangan justru masih sangat rendah. Ini merupakan potensi kerawanan bagi nasabah bank di Indonesia, khususnya dari cengkraman pelaku kejahatan digital.

Dalam surveinya, OJK mencatat tingkat inklusi keuangan Indonesia baru mencapai level 76,9% pada 2019. Sedangkan tingkat literasi keuangan masih relatif rendah di posisi 38,03%, Bahkan, indeks literasi digital masih di Indonesia itu baru 3,49%. 

Dari 31,26% responden yang menggunakan layanan keuangan digital di Indonesia, sebagian besar atau 66,6% untuk pembayaran tagihan. Sisahnya 27,4% persen untuk pinjaman online, 9,9% untuk asuransi online, 4,6% untuk pembukaan rekening dan 4,3% untuk investasi online.

Angka-angka ini adalah potensi sekaligus ancaman karena saat ini Indonesia punya 55 juta pekerja profesional alias skilled workers, dan diproyeksi meningkat jadi 113 juta pada 2030. Seiring dengan tren tersebut, pengguna internet di Indonesia tumbuh 52,68% year on year (yoy) menjadi 202 juta orang per Januari 2021.

“Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang cukup besar untuk dikembangkan di masa mendatang. Kendati demikian, optimalisasi peluang perlu diikuti dengan upaya peningkatan literasi digital masyarakat guna meminimalisir kejahatan siber,” jelas Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas V.M. Tarihoran, dalam workshop ‘Literasi Digital Perbankan Peduli Lindungi Data Pribadi’, Jumat 19 Agustus 2022 lalu. 

Dalam diskusi bersama awak media yang digelar AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) dan BNI secara daring ini, Horas V.M. Tarihoran menyatakan inovasi di era keuangan digital membuat potensi ekonomi lebih terbuka. Namun semua pihak perlu mewaspadai, risiko keamanan siber juga terus terbuka, lanjut Horas V.M. Tarihoran utamanya disebabkan oleh literasi digital masyarakat yang rendah. 

“Sejauh ini, kita melihat ada sebanyak sekitar 38% dari masyarakat yang sudah mengakses produk keuangan rentan diserang oleh kejahatan siber,” paparnya.

Horas menyampaikan literasi keuangan menjadi kata kunci, dan tidak bisa dilakukan oleh OJK sendirian. Sektor jasa keuangan termasuk perbankan di Indonesia juga harus bertanggung jawab,terlebih, dari sekitar 3.100 lembaga jasa keuangan yang terdaftar di OJK, baru 40% yang melakukan kegiatan edukasi literasi keuangan minimal 1 kali setahun.

Hal ini harus dilakukan mengingat resiko di era digital yang akan membayangi nasabah bank. OJK menegaskan sedikitnya ada 4 poin yang menjadi catatan mereka dalam isu perlindungan konsumen.

Pertama, perlindungan konsumen, dimana perlu peningkatan pemahaman tentang digitalisasi produk dan layanan sekaligus manfaat, risiko serta hak dan kewajiban selaku konsumen. Kedua Data privacy dimana risiko kebocoran data, perlindungan dan keamanan data perlu jadi perhatian.


Fitriansyah
Editor
Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini