SUKABUMIUPDATE.com - Bupati Sukabumi Asep Japar akhirnya buka suara terkait rencana proyek pengeboran energi panas bumi (geothermal) yang akan dilakukan di kaki Gunung Halimun, tepatnya di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Proyek tersebut belakangan menuai penolakan dari warga yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Asep Japar menegaskan bahwa rencana pengembangan geothermal di wilayah Cikakak merupakan program pemerintah pusat. Meski demikian, Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi tidak tinggal diam dan masih melakukan kajian mendalam terkait rencana tersebut.
"Ya, itu ‘kan program pusat ya, yang ada titiknya di Cikakak. Dan itu tetap kita ‘kan lagi dikaji. Bahkan saya menghimbau kepada tim yang ada di sana, tim geothermal ya. nah itu harus memberikan sosialisasi kepada warga masyarakat," kata Asep Japar pada sukabumiupdate.com Kamis (29/1/2026).
Baca Juga: Berkas Lengkap, Mantan Kades Korupsi BLT Desa Karangtengah Segera Disidangkan
Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara pihak pengembang dan masyarakat, terutama agar warga tidak merasa kaget dengan adanya aktivitas proyek berskala besar di wilayah mereka.
"Jadi jangan sampai nanti masyarakat itu kaget dengan adanya kegiatan, apalagi yang sifatnya besar. Seperti apa harus ada (sosialisasi) dengan warga masyarakat," tegasnya.
Diketahui, penolakan dilakukan oleh sebagian besar warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak yang selama ini berprofesi sebagai petani. Kekhawatiran akan dampak negatif proyek geothermal terhadap lahan pertanian menjadi alasan utama penolakan warga terhadap rencana tersebut.
Baca Juga: Pelajar Temukan Belatung di Menu MBG SD di Jampangtengah Sukabumi, Tempenya Juga Berbau
Saat ditanya terkait sikap Pemda apakah menyetujui proyek geothermal, Asep Japar menyatakan bahwa energi panas bumi pada prinsipnya dapat menjadi salah satu solusi energi dan berpotensi membantu pembangunan di Kabupaten Sukabumi.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa persetujuan tidak bisa dilakukan tanpa melibatkan masyarakat.
"Ya kalau kita kan apalagi, hari ini bahwa panas bumi ya, itu kan kita itu merupakan salah satu juga untuk membantu di Kabupaten Sukabumi. Tapi sebelumnya harus mengadakan dulu pertemuan, sosialisasi dengan masyarakat gitu ya," kata Asep Japar.
Baca Juga: Chiki Fawzi Mendadak Dicopot Sebagai Petugas Haji 2026: Salah Satu Mimpi Terbesarku
Ditolak Warga
Sejumlah warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menggeruduk Kantor Desa pada Senin 19 Januari 2026. Mereka disebut menolak keras adanya proyek pengeboran energi panas bumi geothermal yang rencananya akan dilakukan di kaki Gunung Halimun.
Dedi Mulyadi, seorang tokoh masyarakat dari Kampung Sirnarasa, mengungkapkan, aksi ini merupakan bentuk ketidakpuasan masyarakat atas kurangnya keterbukaan pihak desa mengenai rencana tersebut.
"Hari ini kami benar-benar atas dasar ketidakterbukaan Desa Sirnarasa dengan masyarakat Sirnarasa, kami menolak tentang adanya geothermal di Desa Sirnarasa," kata Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Dijadwalkan Tiba di Bandara Soekarno Hatta Siang, Lanti TKW Sukabumi Akhirnya Pulang!
Dedi mengungkapkan bahwa masyarakat setempat sangat khawatir dengan keberadaan proyek Geothermal di kawasannya itu akan merusak alam yang sejak dulu sudah mereka tempati dan menjadi sumber penghidupan masyarakat desa.
"Masyarakat 80 persen petani. Ketika petani hari ini garapan kita walaupun itu tanah hutan, garapan kita yang sudah berpuluh-puluh tahun hingga hari ini, apakah kedepannya anak cucu kita masih bisa bertahan dengan pertanian," jelas Dedi Mulyadi.
"Maka kami mengeluarkan aspirasi seperti ini hari ini, pengen duduk bareng di Desa Sirnarasa kalau ada dengan Kepala Desanya. Jadi apa solusinya ketika kita menolak tentang ini," tuturnya.
Baca Juga: Update 22 Orang Keracunan MBG di Simpenan, Enam Dirujuk ke RSUD: Ini Daftarnya
Selain itu, Dedi menuturkan bahwa jarak antara lokasi pengeboran menuju pemukiman warga tidak kurang dari 1 kilometer tepat di atas pemukiman warga membuat warga khawatir terhadap dampak yang akan ditimbulkan.
"Banyak kekhawatiran, karena lokasinya itu di atas pemukiman Sirnarasa, nggak ada satu kilo dari pemukiman, di atas pemukiman. Kami sangat khawatir selaku warga yang di bawah pengeboran itu," ujarnya.




