SUKABUMIUPDATE.com – Anggota DPRD Jawa Barat, Muhammad Jaenudin menggelar kegiatan DPRD Mengabdi dalam Pendidikan Demokrasi di SMKN 1 Sukabumi, yang berlokasi di Desa Sudajaya Girang, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan dihadiri para guru, kepala sekolah, ratusan siswa kelas X, serta narasumber yang membahas tema pendidikan demokrasi. Para siswa yang hadir dalam kegiatan ini tidak hanya mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Anggota DPRD maupun narasumber, namun diberi ruang tanya jawab yang interaktif dan mendidik.
Dalam paparannya, Jaenudin menekankan pentingnya pendidikan demokrasi dikenalkan sejak dini melalui lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah merupakan tempat para pelajar belajar kepemimpinan, baik melalui lingkungan di sekolah maupun bimbingan langsung para guru.
Ia menilai pembahasan mengenai demokrasi tidak perlu dianggap tabu di lingkungan pendidikan. “Jangan tabu bicara demokrasi di sekolah. Memilih ketua OSIS juga bagian dari demokrasi. Mendengarkan visi dan misi calon ketua OSIS merupakan praktik demokrasi di lingkungan sekolah,” ujar Jaenudin.
Ia menjelaskan, demokrasi tidak hanya berkaitan dengan pemilihan presiden maupun anggota legislatif, tetapi juga tercermin dalam aktivitas sederhana di sekolah.
“Jadi bicara demokrasi itu tidak hanya bicara pemilihan presiden dan DPR, memilih ketua OSIS pun bagian dari demokrasi,” katanya.
Baca Juga: Al Nassr Juara Saudi Pro League, Cristiano Ronaldo Ukir Rekor Baru
Dalam kegiatan tersebut, Jaenudin juga mengajak para siswa memahami sejarah perjuangan para pendiri bangsa dalam membangun Indonesia, termasuk pemikiran Presiden pertama RI, Soekarno.
Ia memaparkan salah satu gagasan besar Soekarno, yakni konsep Trisakti yang dicetuskan dalam pidato Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 1964. Konsep tersebut menekankan tiga pilar utama pembangunan bangsa.
Pertama, berdaulat dalam politik, yakni bangsa Indonesia harus mandiri dan tidak mudah diintervensi pihak asing. Kedua, berdikari dalam bidang ekonomi dengan mengutamakan kekuatan nasional dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Sementara pilar ketiga adalah berkepribadian dalam kebudayaan, yakni menjaga dan berpegang teguh pada budaya serta jati diri bangsa Indonesia.
Melalui kegiatan pendidikan demokrasi tersebut, Jaenudin berharap para pelajar tidak hanya memahami sistem demokrasi, tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan, nasionalisme, serta semangat menjaga identitas bangsa sejak usia sekolah. (adv)






