SUKABUMIUPDATE.com - Dua guru asal Kabupaten Sukabumi berhasil meraih medali emas atau Gold Medal (Grand Prize) dalam ajang International Mathematical Science Creative Competition (IMSCC) 2026 di Korea Selatan. Prestasi tersebut diraih melalui inovasi bertajuk Smart Hanjeli yang mengangkat potensi tanaman lokal Sukabumi.
Kedua guru tersebut adalah Adila Irawan, M.Pd. dan Rahayu Utami, S.Pd., yang merupakan tenaga pendidik SMPN 1 Sukaraja. Keduanya tergabung dalam Tim Coix Squad yang mengembangkan inovasi berbasis teknologi dan pemanfaatan tanaman hanjeli.
Prestasi tersebut mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, mengaku bangga atas pencapaian kedua tenaga pendidik tersebut yang mampu membawa nama daerah ke tingkat internasional.
"Tentunya kita merasa bangga ya, ada perwakilan guru kita dari SMP Sukaraja yang diundang ke Korea untuk mendapatkan penghargaan yang berkaitan dengan ilmu matematika, kalau tidak salah," kata Deden saat diwawancarai, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa kontribusi seorang guru tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Ia berharap pencapaian Adila dan Rahayu dapat menjadi motivasi bagi tenaga pendidik lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya.
Baca Juga: Lapang Sekarwangi Disulap Jadi Ruang Publik, Bupati Sukabumi Targetkan Jadi Ikon Baru Cibadak
"Mudah-mudahan ini juga jadi motivasi bagi guru-guru yang lainnya. Bukan hanya mengajar, tentunya, tapi memberikan kontribusi hal-hal yang lain sehingga kita diapresiasi bukan hanya di tingkat kabupaten, bahkan di Korea diberi kesempatan," ujarnya.
Deden menyebut, kedua guru tersebut juga tengah menjalani pendidikan lanjutan. Adila sedang menyelesaikan pendidikan doktoral (S3), sedangkan Rahayu menempuh pendidikan magister (S2).
Dari sisi dukungan, Disdik Kabupaten Sukabumi turut membantu proses keberangkatan keduanya ke Korea Selatan. Bantuan tersebut diberikan untuk mendukung keikutsertaan mereka dalam kompetisi internasional.
"Kemarin kita lepas juga, ada beberapa bantuan yang memang untuk membantu proses keberangkatan dua orang guru itu," ungkapnya.
Berawal dari Pengembangan Inovasi
Sebelum meraih penghargaan di Korea Selatan, perjalanan Tim Coix Squad melalui sejumlah tahapan kompetisi. Pada Agustus 2026, mereka terlebih dahulu mengikuti Indonesian Science Technology Engineering and Mathematics Creativity Competition (ISTEMCC) 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Baca Juga: Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo Jadi Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Dalam ajang tersebut, tim mengembangkan inovasi Smart Chloroplast yang berhasil meraih Special Award kategori Capture Design Project pada babak final 16 Agustus 2026. Selanjutnya, mereka mengembangkan inovasi Smart Hanjeli yang dibawa ke kompetisi IMSCC 2026 di Korea Selatan.
Smart Hanjeli dikembangkan dalam bentuk greenhouse adaptif dengan memadukan konstruksi 4DFrame dan teknologi Embodied AI atau kecerdasan buatan yang terintegrasi dengan perangkat fisik. Inovasi tersebut dirancang untuk membantu mengoptimalkan kondisi mikroklimat serta efisiensi penggunaan air bagi tanaman hanjeli.
Selain sebagai teknologi pendukung pertanian, greenhouse tersebut juga dirancang menjadi media pembelajaran interaktif bagi siswa. Pemilihan tanaman hanjeli bukan tanpa alasan. Tanaman dengan nama ilmiah Coix lacryma-jobi itu merupakan salah satu potensi hayati lokal Sukabumi yang berkaitan dengan kawasan Geopark Ciletuh.
Hal tersebut juga menjadi perhatian Deden. Menurutnya, hanjeli memiliki keterkaitan dengan potensi wilayah Waluran, ketahanan pangan, serta kekayaan kawasan geopark.
"Yang hanjeli itu kan Waluran terutama ya. Hanjeli juga itu bagian dari khazanah geopark, ketahanan pangan juga, sehingga itu yang diangkat," jelasnya.
Baca Juga: Saksi: Ngeri! Pemotor Wanita Tersangkut Kabel Wifi di Jalan Surade - Ujunggenteng Sukabumi
Deden berharap pengembangan inovasi pendidikan ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran dan kompetensi pendidik, tetapi juga mampu memperkenalkan potensi daerah. Dengan demikian, karya yang dihasilkan guru maupun peserta didik dapat menjadi salah satu sarana untuk mengangkat kekayaan budaya dan pariwisata Kabupaten Sukabumi.
"Mudah-mudahan dari sisi-sisi yang lain, selain meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak didik dan peningkatan kualitas pendidiknya, juga bisa turut mengangkat potensi-potensi lokal yang ada, khususnya di Kabupaten Sukabumi. Ketika mereka melakukan kegiatan, sekaligus mengangkat budaya, kemudian juga pariwisata yang ada di Kabupaten Sukabumi," tuturnya.
Disdik Siapkan Penghargaan saat Hari Guru
Atas pencapaian tersebut, Deden mengatakan Disdik Kabupaten Sukabumi berencana memberikan penghargaan kepada Adila dan Rahayu setelah keduanya kembali dari Korea Selatan. Pemberian apresiasi itu direncanakan bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional pada November 2026.
"Sepulangnya dari Korea, di Hari Guru kita juga akan memberikan reward. Kebetulan bertepatan dengan Hari Guru, nanti kita akan memberikan penghargaan kepada kedua orang yang hari ini berangkat ke sana," katanya. (*)














