Doa Nabi Zakariya Untuk Memohon Keturunan Lengkap dengan Adab Dalam Berdoa

Doa Nabi Zakariya Untuk Memohon Keturunan Lengkap dengan Adab Dalam Berdoa

Ilustrasi - Bacaan doa Nabi Zakariya untuk memohon keturunan, lengkap dengan tulisan Arab, latin, arti, serta adab dalam berdoa (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Memiliki keturunan merupakan dambaan bagi banyak pasangan suami istri. Dalam ajaran Islam, umat Muslim dianjurkan untuk senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan keturunan yang saleh dan salehah.

Salah satu doa yang dapat diamalkan adalah doa Nabi Zakariya AS, yang dengan penuh harap memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak meskipun usianya telah lanjut.

Kisah dan doa tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran tentang besarnya kuasa Allah SWT dan pentingnya tidak berputus asa dalam berdoa.

Baca Juga: Daftar Nama Anak Hewan dalam Bahasa Sunda, Ada Pedet hingga Godel

Selain mengetahui bacaannya, umat Islam juga perlu memahami adab berdoa agar permohonan disampaikan dengan baik.

Berikut bacaan doa Nabi Zakariya untuk memohon keturunan, lengkap dengan tulisan Arab, latin, arti, serta adab dalam berdoa.

1. QS. Ali 'Imran Ayat 38

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Bacaan Latin: Rabbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thayyibah, innaka samii'ud-du'aa.

Artinya: "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."

2. QS. Al-Anbiyā' Ayat 89

رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ

Bacaan Latin: Rabbi la tazarni fardan wa anta khairul warisin.

Artinya: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), dan Engkaulah sebaik-baik waris."

Adab dan Tips Mengamalkan Doa

  1. Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  2. Memanjatkan doa dengan khusyuk dan penuh kerendahan hati kepada Allah SWT.
  3. Mengakui kelemahan diri dan menyadari ketergantungan penuh kepada Allah SWT meskipun dalam kondisi yang secara akal/medis sulit.
  4. Dianjurkan dibaca pada waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, atau saat sujud dalam shalat.
Editor:Dede Imran
Berita Terkini