SUKABUMIUPDATE.com - Deretan perahu wisata yang biasanya hilir mudik mengantar wisatawan menuju Curug Cikaso kini lebih banyak terikat diam di bantaran Sungai Cikaso, Kampung Ciniti, Desa Cibitung, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi. Musim kemarau yang menyebabkan debit air Curug Cikaso menyusut membuat aktivitas wisata ikut melambat.
Namun, bagi warga setempat, surutnya sungai bukan sekadar pertanda sepinya wisatawan. Musim ini justru menjadi waktu yang tepat untuk berburu hurang atau udang sungai serta kepiting yang mulai bermunculan di aliran Sungai Cikaso.
Ada yang mencari dari bibir sungai, ada pula yang memanfaatkan perahu yang ditambatkan di tengah aliran. Sebagian besar pemburu udang merupakan pengemudi perahu wisata Curug Cikaso yang untuk sementara beralih mencari penghasilan dari hasil sungai.
Baca Juga: Pemprov Jabar Ambil Alih Teras Cihampelas Bandung, Penataan Ditargetkan Rampung Oktober 2026
Gozal, warga Kampung Ciniti, mengatakan musim kemarau memang selalu identik dengan melimpahnya udang dan kepiting sungai. Karena itu, warga yang sehari-hari mengantar wisatawan kini memanfaatkan waktu senggang untuk berburu hasil sungai.
"Kalau musim kemarau seperti sekarang memang udang sama kepiting mulai banyak. Jadi warga yang biasanya mengantar pengunjung ke Curug Cikaso sekarang lebih banyak berburu hurang," ujar Gozal kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, menangkap udang menggunakan jala (kecrik) memiliki teknik tersendiri. Untuk mencari di tengah sungai, perahu harus ditambahkan menggunakan dua batang bambu yang dipasang di bagian hulu dan hilir dengan jarak sekitar 20 meter. Kedua bambu kemudian dihubungkan menggunakan tali tambang yang dimasukkan ke lubang tambatan perahu agar posisi perahu tetap diam meski berada di tengah arus.
Baca Juga: Pemkot Sukabumi Tuntaskan Legalitas Aset Daerah, Ayep Zaki: Jangan Sampai Diserobot
"Perahunya harus diam supaya saat menjala tidak bergeser. Sepanjang tali itu nanti dilempari umpan setiap sekitar satu meter," jelasnya.
Sementara jika berburu di tepian sungai, warga cukup memasang pancang kecil dari bambu atau kayu sebagai penanda lokasi umpan sebelum jala ditebarkan.
Umpan yang digunakan pun dibuat secara tradisional. Campurannya terdiri dari dedak (huut), pelet ikan atau pakan ayam (layer), ditambah terasi, kemudian dicampur tanah dan sedikit air hingga dapat dikepal sebesar genggaman tangan orang dewasa.
"Kalau pakai dedak sekitar dua liter, ditambah terasi atau pelet, terus dicampur tanah supaya tidak mudah hancur saat dilempar ke sungai," tuturnya.
Kondisi curug cikaso Sukabumi mengering akibat kemarau
Modal sekali berburu udang relatif terjangkau, berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu untuk membeli bahan umpan. Dalam satu sesi, sekitar 20 kepalan umpan ditebar di beberapa titik, kemudian jala dilempar sebanyak tiga kali sebelum umpan kembali ditambahkan.
Meski hasil tangkapan tidak selalu sama, Gozal mengatakan rata-rata pemburu udang bisa memperoleh sekitar dua hingga tiga liter dalam sekali berburu. Saat kondisi sungai sedang bagus, hasil tangkapan bahkan bisa mencapai 10 hingga 12 liter.
Baca Juga: Persib Bandung Akhiri Perlawanan Persija, Kembali ke Final Piala Presiden Setelah 11 Tahun
"Itu relatif, tergantung rezeki. Kalau lagi bagus pernah ada yang dapat 10 liter sampai 12 liter," ungkapnya.
Sebagian kecil hasil tangkapan dikonsumsi sendiri, namun mayoritas dijual karena permintaan pasar cukup tinggi. Bahkan, menurut Gozal, udang sering kali sudah habis dipesan sebelum dibawa pulang ke rumah.
"Kalau hasilnya, sebagian besar dijual. Belum juga sampai rumah biasanya sudah banyak yang beli," katanya.
Baca Juga: Syekh Ahmad Al Misry Jadi Buronan Interpol, Dugaan Pelecehan Seksual Santri di Indonesia
Harga udang sungai mencapai sekitar Rp50 ribu per liter. Dengan perbandingan tiga liter setara sekitar 2,3 hingga 2,5 kilogram, hasil tersebut menjadi tambahan penghasilan yang cukup berarti bagi warga selama sektor wisata sedang lesu.
Tak hanya dijual dalam kondisi segar, sebagian udang juga dipasarkan hidup-hidup sebagai umpan memancing. Udang disimpan dalam wadah berisi pasir dan air Sungai Cikaso atau di bak penampungan yang dilengkapi blower agar tetap hidup.
Ada yang dijual per ekor buat umpan mancing. Kalau dijual hidup-hidup nilainya bisa lebih tinggi. Kalau satu liter udang biasa sekitar Rp50 ribu, yang hidup perbandingannya bisa sampai sekitar Rp100 ribu," jelasnya.
Baca Juga: Tabungan Tahara-Siwajar BPR Sukabumi Sagaranten Tumbuh Positif, Simpanan Naik Rp800 Juta per Bulan
Bagi masyarakat Kampung Ciniti, musim kemarau memang menghadirkan tantangan karena berkurangnya aktivitas wisata Curug Cikaso. Namun di balik surutnya aliran Sungai Cikaso, tersimpan cara lain untuk bertahan hidup.
Tradisi berburu hurang yang diwariskan turun-temurun menjadi bukti bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan alam. Saat air terjun kehilangan sebagian debitnya dan perahu wisata berhenti beroperasi, sungai yang sama tetap menjadi sumber penghidupan bagi warga hingga musim hujan kembali datang dan wisata Curug Cikaso kembali ramai.















