SUKABUMIUPDATE.com – Gerakan pelestarian lingkungan bertajuk Aksi Cikaso Lestari resmi dimulai dengan penanaman 15.000 bibit pohon di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikaso, tepatnya di Leuweung Kabuyutan, Blok Perhutani Hanjuang Tengah, Kampung Jantra, Desa Tegalega, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, drh. Slamet, bersama jajaran Kementerian Kehutanan RI, Perhutani, BPDAS Citarum-Ciliwung, Komunitas Pegiat Lingkungan Umbara Cikaso, Baraya Slamet, RPH Sukabumi, PASS Empat Enam SMAN 1 Sagaranten, Mapala, Pramuka SMAN 1 Lengkong, serta unsur Forkompimcam Kecamatan Pabuaran dan Lengkong.
Bibit yang ditanam pada tahap awal terdiri dari pohon balsa dan manglid. Penanaman dilakukan sebagai upaya memulihkan kondisi hulu DAS Cikaso yang selama beberapa tahun terakhir mengalami degradasi lingkungan.
Dalam sambutannya, drh. Slamet mengatakan gerakan tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi Sungai Cikaso yang kerap dilanda banjir saat musim hujan dan mengalami kekeringan ketika musim kemarau.
"Sebagai bagian dari warga Sukabumi saya turut prihatin. Kita tidak hanya menyalahkan atau mengutuk keadaan, tetapi harus melakukan sesuatu. Hari ini kita memulai penghijauan dari Leuweung Kabuyutan dan gerakan ini akan terus berlanjut," ujarnya kepada Sukabumiupdate.com.
Baca Juga: Kebakaran 5 Rumah di Cisolok Sukabumi: Tersisah Pakaian Dibadan, Belasan Jiwa Mengungsi
Ia menjelaskan, program tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kehutanan melalui BPDAS Citarum-Ciliwung yang menyediakan 15.000 bibit pohon.
Menurutnya, gerakan tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga memastikan seluruh tanaman dapat dirawat hingga tumbuh.
"Saya tidak mau hanya ada gerakan menanam, tetapi gerakan menanam dan merawat. Mudah-mudahan langkah kecil ini menjadi upaya nyata menghijaukan kembali Sukabumi," katanya.
Selain pohon balsa dan manglid, kawasan tersebut nantinya akan ditanami sekitar 1.000 bibit pohon endemik yang merupakan dukungan dari Kementerian Kehutanan dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Penanaman pohon endemik akan difokuskan di zona inti kawasan hutan.
Sementara di zona penyangga akan ditanam berbagai tanaman produktif seperti durian, termasuk varietas Musang King, jengkol, petai, serta tanaman bernilai ekonomi lainnya.
Baca Juga: Lapak Judi Berkedok Timezone Beromzet Rp 2,1 Miliar per Bulan Digrebek Polisi
"Harapannya masyarakat sekitar hutan ikut menjaga dan merawat hutan karena mereka juga akan memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pohon-pohon produktif tersebut," tambah Slamet.
Sementara itu, Ketua Komunitas Umbara Cikaso, Ali Wahyudin, menjelaskan Leuweung Kabuyutan merupakan titik nol atau hulu Sungai Cikaso yang menjadi fokus utama rehabilitasi hutan.
Menurutnya, di kawasan tersebut masih tersisa tiga pohon rasamala raksasa yang merupakan tanaman endemik Jawa Barat.
"Kami berkomitmen mengembalikan populasi pohon endemik melalui pembangunan Arboretum atau Hutan Pendidikan di kawasan hulu DAS Cikaso. Nantinya kawasan ini bisa dimanfaatkan oleh peneliti, mahasiswa, hingga pelajar sebagai laboratorium alam," ujarnya.
Ali mengakui penanaman pada awal musim kemarau memiliki tantangan tersendiri. Untuk itu, tim telah menyiapkan sistem penyiraman hemat biaya menggunakan metode drip irrigation.
Baca Juga: Minta Tegas Bertindak, KDM: Nyali Satpol PP Tergantung Kepala Daerah
Sistem tersebut memanfaatkan galon bekas air mineral ukuran 19 liter yang dimodifikasi dengan aerator akuarium sehingga air dapat menetes secara perlahan untuk menjaga kelembaban tanah di sekitar bibit pohon.
"Inovasi ini memanfaatkan limbah galon dan aerator akuarium sebagai sistem irigasi tetes sederhana. Harapannya bibit tetap mendapatkan suplai air selama musim kemarau sehingga tingkat keberhasilan penanaman lebih tinggi," pungkasnya. (adv)






