SUKABUMIUPDATE.com - Warga Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, kembali mengeluhkan kondisi air Sungai Cikaso yang mengalami kekeruhan parah di tengah musim kemarau. Padahal, seiring menyusutnya debit air sumur gali milik warga, aliran sungai tersebut menjadi salah satu alternatif utama yang sangat diandalkan untuk menopang kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Seorang warga Neglasari berinisial D (41) mengungkapkan bahwa kondisi keruhnya air Sungai Cikaso ini sudah berlangsung cukup lama. Berdasarkan pengamatan warga di lapangan, tingkat kekeruhan sungai tersebut melonjak drastis berbarengan dengan beroperasinya aktivitas penambangan emas di sekitar kawasan bantaran sungai.
“Sekarang musim kemarau, beberapa sumur warga mulai berkurang debit airnya. Jadi banyak yang kembali memanfaatkan air sungai. Tapi air Sungai Cikaso keruh terus, sulit digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar D kepada sukabumiupdate.com, Jumat (19/6/2026).
Baca Juga: Tambang Emas Ilegal di Nagawarna Lengkong, Petugas Temukan 40 Lubang Galian Berbahaya
Lebih lanjut, warga menduga kuat bahwa sumber pembuangan lumpur yang mencemari aliran sungai tersebut berasal dari aktivitas penambangan emas yang berlokasi di wilayah Kampung Cadas Ngampar, Desa Neglasari. Di area tersebut ditengarai terdapat dua titik galian tambang di atas lahan milik pribadi yang menggunakan mesin sedot berkekuatan besar untuk memproses batuan emas.
Lumpur pekat hasil dari sisa pencucian dan aktivitas tambang itu disinyalir dibuang dan mengalir langsung menuju badan Sungai Cikaso. Para penambang dilaporkan kerap beroperasi pada malam hari, meski tidak jarang pula mesin-mesin sedot tersebut tetap beraktivitas di siang hari, sehingga aliran sungai hampir tidak pernah mendapatkan waktu untuk menjernih secara alami.
“Lumpur hasil aktivitas tambang itu mengalir langsung ke Sungai Cikaso. Biasanya aktivitasnya malam hari, tapi siang juga sering beroperasi. Makanya air sungai hampir tidak pernah jernih,” ungkap D.
Baca Juga: Menjamurnya Tambang di Sungai Cikaso Sukabumi, Berburu Emas di Lahan Pribadi dan Perhutani
Menurut D, kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan ini memicu kekhawatiran massal di kalangan warga terkait kualitas dan keamanan air yang terpaksa mereka gunakan untuk mandi serta mencuci pakaian. Terlebih di tengah cekaman musim kemarau seperti saat ini, pilihan masyarakat untuk mendapatkan sumber air bersih alternatif menjadi semakin sempit dan terbatas.
Merespons persoalan pelik tersebut, masyarakat Desa Neglasari mendesak pihak berwenang dan instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak, pengecekan baku mutu air, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas penambangan emas tersebut.
“Kami berharap ada tindakan dari pemerintah atau instansi terkait agar kondisi sungai bisa kembali normal dan tidak merugikan masyarakat yang bergantung pada air sungai,” pungkas D.





