SUKABUMIUPDATE.com - Kasus tragis menimpa seekor lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di wilayah Sukabumi selatan. Satwa liar dilindungi tersebut ditemukan terluka parah di ladang pertanian milik warga di Kampung Cilumping, Desa Cidadap, Kecamatan Cidadap, Kabupaten Sukabumi, dan diduga kuat menjadi korban penembakan senapan angin oleh pemburu liar.
Dugaan tersebut diperkuat setelah primata endemik ini dievakuasi ke Jakarta untuk menjalani tindakan medis darurat. Berdasarkan hasil rontgen laboratorium, tim dokter menemukan proyektil peluru senapan angin (mimis) yang bersarang di dalam kepala dan beberapa bagian tubuhnya.
Relawan pencinta satwa, Edo, menjelaskan bahwa lutung Jawa tersebut pertama kali ditemukan oleh petani pada Selasa, 6 Oktober 2026. Karena kondisinya sudah sangat lemah akibat pendarahan hebat, warga dapat mengamankannya dengan mudah untuk kemudian dilaporkan ke pos Pemadam Kebakaran (Damkar) dan komunitas penyelamat satwa.
"Kondisinya sudah lemas dan terluka parah sehingga warga bisa mengevakuasinya dengan mudah. Karena warga tidak tahu cara menangani lukanya secara medis, mereka melapor ke anggota Damkar, lalu pihak Damkar menginformasikannya kepada kami," ujar Edo kepada sukabumiupdate.com, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Gempa Gunung Salak Rusak 19 Rumah di Kabandungan Sukabumi
Hasil Rontgen Medis Mengubah Dugaan Awal
Sebelum hasil rontgen keluar, tim relawan sempat menduga luka-luka pada tubuh satwa tersebut disebabkan oleh perkelahian antarkelompok monyet liar. Dugaan itu muncul karena adanya ceceran darah di atas bebatuan ladang, yang dikira akibat korban terjatuh dari pohon tinggi setelah kalah bertarung.
Selama tiga hari dirawat darurat oleh Edo di kediamannya di Kampung Cilimus, Desa Mekarsari, Kecamatan Sagaranten, lutung tersebut diketahui menderita patah tulang pada tangan dan kaki kiri, serta memar parah di sekitar mata kanan.
"Indikasinya lutung itu terpisah dari kelompoknya, lalu berkelahi dengan monyet lain hingga terjatuh dari pohon dan menghantam batu. Di lokasi ladang tempat ditemukannya, memang terdapat bercak darah pada batu," kata Edo.
Namun, spekulasi itu terbantahkan setelah Yayasan Pejaten Jakarta mengambil alih penanganan dan membawa primata tersebut ke ibu kota pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Pemeriksaan klinis membuktikan bahwa luka dalam yang diderita satwa malang ini diduga bersumber dari ulah pemburu.
"Dari informasi yang kami dapatkan, hasil rontgen medis di Jakarta menunjukkan selain luka luar yang parah, ternyata terdapat proyektil/peluru (mimis) senapan angin yang bersarang di bagian kepala dan dalam tubuhnya," ungkap Edo.
Baca Juga: Wanci Janari Gede Jam Berapa? Istilah Waktu dalam Budaya Sunda Saat Menjelang Subuh
Edo turut mengapresiasi dukung personel Damkar yang tak hanya membantu proses evakuasi fisik, tetapi juga menanggung biaya operasional transportasi serta menyediakan obat-obatan luar, termasuk salep mata, selama penanganan darurat.
Menurutnya saat ini lutung Jawa tersebut masih berada di bawah perawatan intensif tim medis di Pejaten Animal Shelter, Jakarta Selatan, untuk menjalani masa pemulihan.
Kecamatan Sagaranten Koordinasi dengan BKSDA Jabar
Dikonfirmasi terpisah, Camat Sagaranten, Hodan Pirmansyah, membenarkan adanya laporan penyelamatan satwa dilindungi tersebut. Otoritas kecamatan bersama dokter hewan dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Dinas Peternakan sudah melakukan observasi awal saat lutung tersebut transit di kediaman relawan.
"Atas adanya laporan, kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan kebenarannya. Bersama unsur Damkar dan dokter hewan dari Dinas Peternakan, kami melakukan observasi awal," ujar Hodan.
Hodan menegaskan, Pemerintah Kecamatan Sagaranten telah berkoordinasi langsung dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat untuk penanganan medis dan langkah konservasi lanjutan.
"Selanjutnya kami berkoordinasi dengan BKSDA untuk meminta bantuan penanganan serta observasi lebih lanjut," terangnya.
Ia kemudian mengimbau keras kepada seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan, untuk menjaga kelestarian ekosistem dan satwa liar. Warga diminta segera melapor ke pihak berwenang jika menemukan kasus serupa di lingkungan mereka.















