Wanci Janari Gede Jam Berapa? Istilah Waktu dalam Budaya Sunda Saat Menjelang Subuh

Wanci Janari Gede Jam Berapa? Istilah Waktu dalam Budaya Sunda Saat Menjelang Subuh

Ilustrasi - Wanci Janari Gedé bukan sekadar istilah untuk menunjukkan pukul tertentu, tetapi juga bagian dari kekayaan bahasa dan pengetahuan tradisional Sunda (Sumber : Freepik/Sketchepedia)

SUKABUMIUPDATE.com - Wanci Janari Gedé adalah penanda waktu tradisional Sunda untuk menunjukan waktu mendekati waktu subuh.

Pada saat ini, malam masih berlangsung, tetapi waktu subuh semakin dekat. Istilah tersebut menjadi bagian dari pembagian waktu sehari semalam yang dikenal masyarakat Sunda.

Mengutip dari berbagai sumber, dalam bahasa Sunda, janari merujuk pada waktu antara tengah malam dan subuh, sedangkan gedé berarti besar.

Istilah Janari Gedé merupakan penanda salah satu tahapan waktu dini hari, setelah Janari Leutik.

Baca Juga: Berburu Kabut Pagi di Argapuri, Destinasi Camping Sejuk di Bandung Selatan

Pembagian ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda tradisional memiliki sebutan yang cukup terperinci untuk mengenali pergantian waktu, bukan hanya membaginya menjadi pagi, siang, sore, dan malam.

Pada masa lalu, waktu ini berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan sebelum matahari terbit.

Di antaranya menyiapkan sahur, terutama ketika bulan Ramadan, melaksanakan ibadah malam bagi orang yang menjalankannya dan bersiap menyambut pagi, sebelum aktivitas sehari-hari dimulai.

Kebiasaan tersebut menjadi salah satu gambaran hubungan antara penanda waktu tradisional dengan aktivitas masyarakat.

Baca Juga: 10 Manfaat Brokoli untuk Kesehatan Tubuh, dari Menjaga Jantung hingga Imunitas

Wanci Janari Gedé bertepatan dengan pukul 02.00 hingga pukul 02.30, namun angka jamnya tidak seragam di semua daerah.

Penanda waktu seperti ini membantu masyarakat mengatur kegiatan sehari-hari, termasuk waktu beristirahat, bangun, beribadah, dan memulai pekerjaan.

Dengan demikian, Janari Gedé bukan sekadar istilah untuk menunjukkan pukul tertentu, tetapi juga bagian dari kekayaan bahasa dan pengetahuan tradisional Sunda tentang waktu.

Editor:Dede Imran
Berita Terkini