SUKABUMIUPDATE.com - Perjuangan memadamkan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul, Kota Sukabumi, belum berakhir. Memasuki hari keempat, Selasa (29/9/2026), sekitar 400 personel gabungan dikerahkan untuk memburu bara api yang masih bersembunyi di balik tumpukan sampah.
Bara yang berada di dalam timbunan sampah menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman. Api yang dipadamkan di permukaan belum menjadi jaminan bahwa kebakaran telah benar-benar selesai.
Pantauan langsung di lokasi, ratusan petugas gabungan berjibaku satu sama lain, mulai dari memegangi selang pemadam, mencangkul tumpukan sampah hingga dua unit alat berat yang dikerahkan untuk mengurai titik api di kedalaman.
Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo mengatakan, ratusan personel gabungan diterjunkan sejak pagi demi memaksimalkan proses pemadaman sekaligus pendinginan di sejumlah titik.
Baca Juga: Irigasi Bocor di Banyak Titik, Petani Sukabumi Kesulitan Air untuk 50 Hektare Sawah
"Khusus untuk Polri kita hari ini menerjunkan 150 personel, dari Kodim dan Batalyon TP juga menerjunkan 100 personel. Total tadi pada saat apel pagi sekitar 400 personel," kata Sentot, kepada sukabumiupdate.com pada Selasa (29/9/2026).
Personel gabungan terdiri dari unsur TNI, Polri, Pemerintah Kota Sukabumi beserta dinas terkait, mahasiswa hingga elemen masyarakat.
Penanganan kebakaran kemudian dibagi menjadi tiga sektor, yakni sektor A, B dan C. Petugas tidak hanya menyemprotkan air ke titik api, tetapi juga harus membongkar dan mengurai tumpukan sampah menggunakan alat berat.
Ekskavator atau beko pun dikerahkan untuk menyingkap timbunan sampah yang terbakar. Setelah bagian dalam tumpukan terbuka, petugas pemadam kebakaran lalu menyiramnya dengan air.
Baca Juga: Warga Jampangtengah Sukabumi Resah, Asap Pembakaran Batu Kapur Diduga Berbahan Limbah Padat
Cara tersebut dilakukan untuk menjangkau bara api yang tidak terlihat dari permukaan. Dengan demikian, air dapat masuk ke sela-sela sampah dan bara api didalam timbunan dapat padam.
"Begitu diurai, air masuk. Harapannya bara-bara api yang ada di dalam yang tidak bisa dipadamkan karena ada pengerukan, air bisa masuk," jelasnya.
Upaya tersebut penting dilakukan karena bara api dapat bertahan di dalam tumpukan sampah yang telah mengering dan kemudian kembali memunculkan api.
Diburu dengan Alat Termal
Perjuangan petugas tidak hanya berhenti setelah api berhasil dipadamkan, namun setiap lokasi yang telah melalui proses pemadaman dan pendinginan akan kembali diperiksa demi memastikan tidak ada bara api yang masih tersimpan di dalam.
Baca Juga: MUI Kabupaten Sukabumi Ajak Warga Minta Hujan Lewat Shalat Istisqa, Ini Tata Caranya
Basarnas bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan menggunakan alat termal untuk mendeteksi titik-titik yang masih memiliki suhu tinggi.
"Nanti diukur mana suhu yang masih tinggi, mana yang masih ada bara api di dalamnya," ujar Sentot.
Jika alat mendeteksi adanya suhu tinggi, petugas kembali turun untuk mengurai dan menyiram titik tersebut hingga benar-benar dingin.
Proses itu akan dilakukan berulang. Sebab, menurut Sentot, bara yang berada jauh di dalam timbunan sampah berpotensi kembali memicu api.
"Kita turun lagi sehingga bara api yang tadi diukur oleh alat termal bisa kita padamkan. Nah, ini akan terus berlanjut," katanya.
Petugas juga masih berharap kondisi cuaca membantu proses pemadaman. Namun, hujan tidak dapat diprediksi sehingga seluruh upaya tetap dilakukan secara maksimal.
15 Tangki Air Disiagakan
Di tengah perjuangan memburu bara tersembunyi, petugas juga menghadapi kendala lainnya yakni pasokan air.
Sumber air terdekat berada di Sungai Cimandiri. Jarak dan waktu tempuh kendaraan untuk mengambil air membuat proses pemadaman menjadi kurang efektif.
"Perhitungan bolak-balik itu setengah jam. Jadi tidak efektif sekali," ungkap Sentot.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sebanyak 15 tangki air disiagakan di lokasi agar kendaraan pemadam tidak harus berulang kali bolak-balik mengambil air.
Selain penanganan darurat, pemerintah daerah bersama kepolisian juga mulai membahas pembangunan sumber air permanen di sekitar TPA Cikundul.
Sumber air itu nantinya dapat berupa sumur bor atau artesis maupun bak penampungan air yang dibangun di sejumlah titik.
Baca Juga: Laka Tunggal di Panenjoan Ciemas Sukabumi, Ayah dan Anak Meninggal Dunia
"Kemungkinan akan dibangun sumber air, entah itu air artesis ataupun penampungan di bawah," kata Sentot.
Langkah tersebut disiapkan sebagai bagian dari mitigasi untuk menghadapi potensi kebakaran sekaligus mendukung penanganan TPA Cikundul ke depan.















