SUKABUMIUPDATE.com - Keluhan petani di Kampung Cidahon RT 02/07 Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, semakin menguat. Saluran Daerah Irigasi (DI) Citepus yang menjadi sumber pengairan lahan pertanian mengalami kebocoran di banyak titik, sehingga pasokan air tidak optimal.
Kondisi itu telah dirasakan petani sekitar empat bulan. Saat musim kemarau, air yang sebelumnya masih mampu mengaliri lahan pertanian, kini banyak berkurang sebelum mencapai persawahan di hilir. Menurut Petugas UPTD Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sukabumi, Saepul Rohman, kebocoran menjadi salah satu persoalan.
Ia menjelaskan saluran DI Citepus yang menjadi kewenangan UPTD Dinas PU Kabupaten Sukabumi memiliki panjang sekitar 3,7 kilometer. Sementara sekitar satu kilometer lainnya berada di wilayah pertanian. “Kebocorannya banyak sehingga air tidak sampai ke lokasi yang membutuhkan, terutama sawah,” kata Saepul pada Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan hasil survei, sekitar 30 persen bagian saluran mengalami kerusakan, sedangkan 70 persen lainnya masih dalam kondisi layak. Saepul menyebut kondisi ini akan menjadi bahan usulan untuk penanganan lebih lanjut. Perbaikan nantinya dapat diarahkan pada sejumlah titik yang mengalami kebocoran, retak, maupun kerusakan lainnya.
“Pertama, kami survei kerusakannya. Setelah itu diusulkan untuk rehabilitasi, terutama bagian yang bocor, retak, dan rusak,” ujarnya.
Baca Juga: Kekeringan Belum Berakhir, 4 Desa di Cicurug Sukabumi Dapat Bantuan 29 Ribu Liter Air Bersih
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang, mengatakan kerusakan saluran irigasi berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian warga. Padahal, hampir 50 hektare lahan sawah yang berada di bawah layanan irigasi tersebut selama ini tergolong produktif.
“Tahun sekarang petani benar-benar mengeluh. Dari hulu sampai hilir banyak yang tidak beres, terutama karena banyak kebocoran. Biasanya musim kemarau empat bulan pun masih bisa produksi, tetapi sekarang petani benar-benar kesulitan,” ujar dia.
Menurut Dadang, saluran yang menghubungkan sumber air dari Sungai Citepus menuju wilayah pertanian memiliki lintasan cukup panjang. Kebocoran di sejumlah titik pun semakin berdampak terhadap ketersediaan air bagi petani di hilir. Dari sekitar 53 petani yang tergabung Poktan Mukti Tani, sebagian kini tidak lagi dapat mengandalkan sawah seperti biasanya.
Untuk bertahan, sejumlah warga bahkan mencoba mencari penghasilan lain dengan melaut. “Kalau sawah tidak bisa ditanami, paling kami ke laut. Namanya juga usaha, tetapi kadang ada hasil, kadang nihil,” katanya.
Dadang menyebut petani sebenarnya telah berupaya melakukan perbaikan secara mandiri. Warga menggunakan terpal, plastik, hingga material seadanya untuk menutup sejumlah bagian saluran yang bocor.
Tak hanya itu, para petani juga sempat mengumpulkan iuran secara sukarela hingga sekitar Rp 6 juta untuk memperbaiki saluran irigasi tersebut.
Namun, upaya swadaya itu dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Keterbatasan material serta kondisi saluran yang mengalami kerusakan membuat penanganan sementara belum maksimal.
“Kami berharap ada perbaikan dari instansi terkait. Kalau ada perbaikan, petani siap turun dan bergotong royong karena memang sangat membutuhkan air,” ujar Dadang.
Ia berharap rehabilitasi DI Citepus dapat segera dilakukan, khususnya pada bagian saluran yang mengalami kerusakan dan kebocoran.
Menurutnya, percepatan perbaikan penting dilakukan agar petani kembali dapat mengolah lahan pertanian secara normal. “Harapannya secepatnya diperbaiki. Jangan terlalu lama karena petani kasihan. Kami membutuhkan saluran ini supaya bisa kembali berproduksi,” ucapnya.















