SUKABUMIUPDATE.com - Rencana pembangunan data center berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menuai sorotan publik di media sosial. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pasokan air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan serta potensi kebisingan.
Kekhawatiran mengenai penggunaan air pada fasilitas data center dikaitkan publik dengan sebuah video dokumenter More Perfect Union pada 2025. Dokumenter tersebut mengangkat keluhan warga Georgia, Amerika Serikat, yang tinggal di sekitar data center milik Meta.
Dalam dokumenter itu, sejumlah warga mengeluhkan penurunan tekanan air hingga munculnya endapan pada sumur mereka. Persoalan tersebut kemudian berkembang dan berujung pada gugatan terhadap Meta.
Meta membantah tudingan tersebut dan menyatakan fasilitas data centernya tidak menggunakan air tanah. Hingga kini, dugaan keterkaitan antara keberadaan data center dan persoalan air yang dialami warga tersebut masih menjadi perdebatan.
Di tengah sorotan mengenai dampak lingkungan tersebut, pembangunan fasilitas data center berbasis AI di Jatiluhur tetap menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur teknologi nasional.
Baca Juga: Sering Dikira Flu, Ini Perbedaan Gejala Awal DBD dan Penyakit Lain
Dikutip dari laman Bapenda Jabar, Pembangunan fasilitas tersebut ditandai dengan kunjungan kerja Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam rangka peletakan batu pertama atau groundbreaking CGK4 Campus PT BDx Data Center Indonesia di Desa Jatiluhur, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Selasa (28/7/2026).
Proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun dan diproyeksikan menjadi salah satu pusat data AI berskala besar di Indonesia. Fasilitas ini diharapkan turut mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.
“Proyek pengembangan fasilitas data center lima lantai ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 8.000 meter persegi dengan cakupan kawasan yang disiapkan hingga 11 hektar,” tulis dalam keterangan.
Fasilitas tersebut didukung kapasitas daya listrik hingga 120 megawatt (MW) dan dibangun untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan serta pengolahan data digital berbasis teknologi tinggi.
Pemilihan Jatiluhur sebagai lokasi pembangunan didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Di antaranya kondisi geografis yang dinilai relatif aman dari potensi bencana seperti banjir, longsor, dan gempa bumi, serta dukungan infrastruktur berupa pasokan listrik dan air bersih.
Baca Juga: Penyelundupan 12,83 Gram Sabu ke Lapas Sukabumi Digagalkan, 2 Wanita Diamankan
Menyerap Tenaga Kerja
Dari sisi ketenagakerjaan, pembangunan hingga operasional fasilitas tersebut diperkirakan menyerap sekitar 2.000 hingga 3.000 tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan fase pembangunan dan operasional fasilitas.
Dikutip dari Tribratanews Purwakarta, dalam sambutannya saat groundbreaking, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa pembangunan data center BDx memiliki nilai strategis bagi masa depan transformasi digital Indonesia.
Tak hanya menjadi pusat penyimpanan dan pencadangan (backup) data berbagai lembaga, keberadaan data center tersebut diharapkan dapat memperkuat kedaulatan digital Indonesia yang selama ini masih bergantung pada pusat data di luar negeri.
Kebutuhan Air untuk Pendinginan Data Center
Sorotan terhadap kebutuhan air pada data center tidak terlepas dari penggunaan sistem pendinginan. Pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar karena pengoperasian server secara terus-menerus sehingga membutuhkan sistem pendinginan agar perangkat tetap bekerja optimal.
Baca Juga: Hanya 1 Armada yang Prima, Damkar Kota Sukabumi Kewalahan Padamkan Kebakaran TPA Cikundul
Mengutip penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature, menyebutkan bahwa pusat data berkapasitas 1 MW dengan jenis sistem pendinginan tertentu dapat menggunakan sekitar 25,5 juta liter air per tahun.
Kebutuhan air juga menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI. Model AI membutuhkan infrastruktur komputasi dengan kapasitas besar untuk proses pelatihan maupun pengoperasian, yang pada akhirnya meningkatkan kebutuhan energi dan sistem pendinginan.
Menghimpun dari World Economic Forum, perkiraan bahwa proses penggunaan model AI tertentu, termasuk GPT-3, memiliki jejak air yang berkaitan dengan kebutuhan pendinginan pusat data. Salah satu perkiraannya menyebutkan sekitar 500 mililiter air dapat digunakan untuk setiap 10 hingga 50 respons.
“Jika dikalikan dengan miliaran penggunanya, jejak air total AI menjadi sangat besar,”tulisnya WEF.
Dengan demikian, kebutuhan air dan potensi dampak lingkungan dari adanya data center AI menjadi salah satu aspek yang kini menjadi perbincangan publik. Apalagi saat ini di berbagai wilayah Indonesia sedang mengalami kekeringan akibat adanya kemarau panjang.










