SUKABUMIUPDATE.com – Petugas gabungan pemadaman kebakaran di lahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, hingga Senin petang (28/9/2026) masih berupaya memadamkan api. Kebakaran TPA Cikundul sudah berlangsung tiga hari, mulai Sabtu siang 26 September 2026.
Petugas pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan sejumlah titik api yang kembali muncul di kawasan TPA nonaktif tersebut. Kondisi lahan yang masih panas dan banyaknya material mudah terbakar menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
Kabid Damkar Kota Sukabumi, Ujang Rustandi mengatakan, penanganan tetap dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP), terutama dengan mengurai titik-titik api yang menjadi prioritas.
"Sebagaimana hari-hari kemarin kita tetap ada (penanganan), dikarenakan api masih menyala, sesuai dengan SOP tetap kita laksanakan apa penguraian titik-titik yang akan kita prioritaskan," ujar Ujang, kepada sukabumiupdate.com di lokasi pada Senin (28/9/2026).
Baca Juga: Jelang Indonesia vs Malaysia, Joey Pelupessy Ungkap Kunci Kekompakan Skuad Garuda
Menurutnya, petugas masih kesulitan menghentikan api karena kondisi lahan di bawah permukaan timbunan sampah masih panas. Material seperti plastik diduga membuat panas dan gas terperangkap di dalam tumpukan sampah sehingga api dapat kembali muncul meski sebelumnya telah padam.
"Karena kondisi lahannya masih panas gitu kan, kita masih ada kesulitan dalam hal untuk menghentikan titik-titik api. Dikarenakan lokasinya banyak bahan plastik sepertinya ada unsur kaya gas-gasnya yang sudah masuk, sehingga api itu tidak serta-merta mati," jelasnya.
Ujang menjelaskan, pola kemunculan api berlangsung berulang. Ketika api berhasil dipadamkan, asap kembali muncul dan kemudian disusul kemunculan api di titik lainnya.
"Ketika api padam, tiba-tiba muncul lagi asap. Ketika asap muncul, muncul lagi api. Seperti itu," ungkapnya.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Informasi, PLN Indonesia Power UBP JPR Raih Penghargaan IJTI Award Sukabumi Raya
Pada Minggu (27/9), kondisi tersebut bahkan terjadi hingga dini hari. Ujang menyebut titik api kembali muncul sekitar pukul 02.00 WIB dan kembali terlihat pada waktu subuh. "Dari kemarin kejadian seperti itu. Tadi malam aja pukul 02.00 mulai lagi, gitu kan. Tadi subuh itu muncul lagi api, tiba-tiba hilang lagi. Sesuai dengan kondisi di bawah (tumpukan sampah), karena di bawah kan ini mungkin banyak bahan-bahan yang sifatnya menghasilkan panas gitu," katanya.
Selain kondisi material di dalam timbunan sampah, faktor cuaca juga menjadi kendala dalam penanganan. Menurut Ujang, kondisi di sekitar lokasi TPA masih panas meski sejumlah wilayah lain diguyur hujan.
"Nah, cuaca juga ketika tempat-tempat lain hujan, di sini masih tetap panas gitu kan. Sehingga kita agak sedikit kesulitan dalam hal penanganan," ujarnya.
Angin yang terkadang cukup kencang juga membuat kondisi di lokasi semakin sulit dikendalikan. Bahkan, menurut Ujang, pusaran angin dapat mengangkat kembali material dari timbunan sampah. "Angin juga ada kadang-kadang ada puting beliung juga. Sehingga tiba-tiba ketika puting beliung muncul, jadi yang di bawah juga mulai keangkat lagi," jelasnya.
Baca Juga: Kemeriahan HJKS ke-156 di Waluran Sukabumi: Pelayanan Publik, Kesehatan dan Ekonomi Kerakyatan
Untuk proses pemadaman, petugas masih menggunakan metode penguraian timbunan sampah secara berkala dengan bantuan alat berat. "Ya pemadaman secara berkala dengan cara mengurai titik-titik api menggunakan alat berat seperti beko. Sementara belum ada upaya penanganan khusus, upaya masih dilakukan seperti biasa," kata Ujang.
Ia mengaku petugas masih kesulitan memastikan jumlah titik api secara pasti lantaran titik api baru terus bermunculan di sejumlah bagian lahan. "Nah kita agak kesulitan menghitung titik api, kan sekarang muncul lagi. Boleh dilihat itu kan, di situ muncul lagi titik api yang kemarin itu enggak ada. Disini kemarin nggak ada," ungkapnya.
Ujang mengatakan, sejumlah titik yang sebelumnya telah dinyatakan padam kembali memunculkan api. "Kena kan, sekarang muncul lagi kan. Ini kan yang kemarin tuh ini bener-bener kosong sudah padam, tapi sekarang muncul yang baru," katanya.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi, luas lahan TPA nonaktif yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 2,6 hektar. Sudah 20 persen dari luar keseluruhan area yang mencapai 10,7 hektar.
Baca Juga: Masuk Desil 6, Keluarga Tukang Tambal Ban di Sukabumi Kehilangan Akses Pendidikan dan Kesehatan
"Lahan ini total sekitar 2,6 hektar yang sebelah sini. Berdasarkan informasi dari DLH itu 2,6 hektar yang terbakar, ini lahan TPA nonaktif," pungkas Ujang.















