Oleh: Irwan One Ariefyanto
Wartawan Senior
Pagi itu, MRT dari Lebak Bulus melaju menuju pusat Jakarta. Penumpang menunduk ke ponsel masing-masing. Jempol mereka bergerak lebih cepat daripada kereta, terutama kalau menemukan berita gosip dan politik.
Saya sedang membaca berita dugaan penyadapan. Namun, AC gerbong dingin sekali, sementara perut masih kenyang setelah sarapan nasi uduk dua porsi. Kombinasi itu lebih ampuh daripada obat tidur. Huruf di layar mulai bergoyang, kelopak mata turun, lalu saya terkulai.
Entah berapa lama saya tertidur. Ketika mengangkat kepala, gerbong sudah kosong. Tak ada penumpang, tak ada notifikasi, bahkan tak ada ibu-ibu yang menyenggol tas.
Saya meraba wajah sendiri. Hidung lain, rahang lain. Di kaca jendela, terpantul wajah yang saya kenal dari poster bioskop: Christopher Nolan, sutradara Batman dan Oppenheimer.
Jangan tanya bagaimana saya bisa berubah menjadi Nolan. Kalau urusan mimpi saja bisa serumit film inception, penjelasan logis mungkin sudah tidak berlaku.
Di sebelah saya duduk Dan Brown, penulis The Da Vinci Code yang terkenal gemar memburu simbol dan konspirasi.
“Kita bikin film apa?” tanyanya, seolah-olah kami memang sudah janjian.
“Thriller politik,” jawab saya spontan. “Polisi menetapkan mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Ia juga sempat menjabat Kepala Staf Kepresidenan sebelum dicopot.”
“Sebentar. Namanya Prabowo, yang diduga disadap juga Prabowo?”
“Dua orang berbeda. Kebetulan nama belakangnya sama.”
Dan Brown langsung membuka buku catatan. “Tidak ada yang kebetulan! Dua Prabowo, satu kasus. Di Louvre, piramida kaca juga kelihatannya cuma piramida.”
“Di sini, nama belakang yang sama belum tentu kode rahasia.”
“Di Hollywood, itu petunjuk konspirasi.”
“Di Indonesia, itu alasan untuk rapat klarifikasi.”
Dan Brown tampak puas. Film kami bahkan belum mulai, tetapi ia sudah menemukan konspirasi.
“Kita mulai dari adegan pembuka,” kata saya, mulai terbawa gaya Nolan. “Kita mulai dari akhir: dibentuk tim pencari fakta. Lalu mundur ke awal: dibentuk tim pencari fakta lagi.”
“Itu bukan alur maju-mundur,” protes Dan Brown. “Itu alur maju-maju.”
“Betul. Tapi penonton mungkin tidak sadar.”
“Oke, kita butuh adegan aksi. Pasukan bergerak, jalan ditutup, helikopter melintas!”
Saya teringat kabar mengenai ribuan personel TNI Angkatan Laut yang disiagakan di sekitar Jakarta. Angka dan konteks pengerahannya masih perlu dipastikan, tetapi Dan Brown sudah telanjur membayangkan adegan perang.
“Bagus! Ribuan prajurit!” serunya. “Mereka menghadapi apa?”
“Dugaan penyadapan.”
“Ancaman konkretnya apa?”
“Nah, itu yang sedang kita cari.”
Dan Brown menutup buku catatannya. Di Hollywood, pasukan dikerahkan setelah ancaman terlihat. Dalam film kami, pasukan sudah siap, sementara ancamannya masih dalam tahap revisi naskah.
Di luar layar, Jakarta tetap berjalan seperti biasa. Pengemudi ojek daring menunggu pesanan. Abang gorengan melayani antrean. Pegawai kantor menggerutu soal macet, bukan soal makar.
“Kita butuh bukti,” kata Dan Brown. “Bagaimana kalau tokoh utama menemukan ponsel terkunci?”
Kami membayangkan adegannya. Tokoh utama mencoba tanggal lahir: gagal. Nama anak: gagal. Nama istri: gagal. Akhirnya, ia mengetik satu kata: mantan.
Ponsel terbuka.
Dan Brown terperangah. “Teknik peretasan apa itu?”
“Bukan peretasan. Itu pelajaran hidup. Mantan kadang lebih sulit dilupakan daripada kata sandinya.”
Dan Brown langsung mencatat. “Cocok untuk poster film!”
“Lalu, rahasia terbesarnya ada di mana?” tanyanya. “Dalam novel saya, rahasia terungkap di halaman terakhir.”
“Di sini, halaman terakhir berisi pengumuman pembentukan tim pencari fakta.”
“Itu spoiler dari adegan pembuka!”
“Makanya kita bikin film tiga jam. Biar penonton lupa.”
Tiba-tiba lampu berkedip. Dari atas lemari—entah sejak kapan gerbong MRT punya lemari—sesosok pocong jatuh terguling.
“Siapa kamu?!” Dan Brown melompat mundur.
“Saksi,” jawab pocong. “Saya mau mengadu. Perkaranya belum selesai, tetapi sudah terasa mau dikubur.”
“Siapa pelakunya?” tanya Dan Brown.
“Belum tahu.”
“Buktinya?”
“Belum ada. Di alam kubur, pemeriksaan selesai semalam. Di sini, pembentukan tim pemeriksanya saja belum selesai.”
Dan Brown memegangi kepala. “Bagaimana saya menulis cerita kalau saksinya sendiri tidak tahu apa-apa?”
Pocong itu menatapnya dengan sedih. “Tuan, kalau saya tahu semuanya, saya tidak perlu repot-repot loncat dari kuburan.”
Dari sudut gerbong terdengar suara tawa. Muncullah kuntilanak dengan rambut panjang menutupi wajah.
“Saya juga korban,” katanya. “Katanya hantu bisa menembus tembok. Ternyata menembus birokrasi jauh lebih sulit.”
Dan Brown mulai frustrasi. “Jadi, siapa penjahat dalam film kita?”
“Jangan buru-buru,” kata saya. “Faktanya belum cukup. Lebih baik penonton kecewa karena belum mendapat jawaban daripada kita mengarang jawaban supaya mereka senang.”
Pocong mengangguk setuju. Kuntilanak juga mengangguk, meski rambutnya membuat gerakan itu terlihat seperti sedang mengalami gangguan sinyal.
Tiba-tiba ponsel pocong berbunyi. Pesan dari pemilik kontrakan masuk: tagihan listrik dan air belum dibayar.
Pocong langsung menelepon.
“Bang, kalau orang sudah meninggal, masih bisa minta keringanan pembayaran?”
Kuntilanak menghela napas. “Saya juga punya tagihan harapan yang sudah jatuh tempo.”
Pengumuman MRT mendadak memotong percakapan.
“Stasiun Bendungan Hilir.”
Saya tersentak. Gerbong kembali penuh. Wajah saya kembali biasa. Christopher Nolan, Dan Brown, pocong, dan kuntilanak lenyap tanpa pamit.
Penumpang masih menunduk ke ponsel. Di media sosial, semua orang kembali merangkap detektif, jaksa, dan hakim, padahal yang dibaca baru judul berita.
Publik tentu berhak bertanya dan menuntut kejelasan. Namun, dugaan bukan putusan, kecurigaan bukan bukti, dan pengerahan pasukan sebesar apa pun tidak otomatis menjawab pertanyaan paling sederhana: ancamannya apa?
Kasus boleh belum selesai. Kepastian boleh masih ditunggu. Namun, tagihan listrik sudah jatuh tempo.
Besok mungkin dibentuk lagi tim pencari fakta. Tugasnya mencari fakta sekaligus mencari tahu mengapa tim sebelumnya belum menemukan fakta.
Dan Brown mungkin akan menulis novel berjudul The Mystery of the Missing Facts. Kalau Nolan yang menyutradarainya, penonton harus menonton tiga kali untuk memahami akhirnya, lalu tetap bertanya di parkiran, “Tadi itu maksudnya apa, ya?”
Sayangnya, bagi warga yang menunggu kepastian, hidup bukan film. Kita tidak bisa membeli tiket untuk menyaksikan akhir ceritanya. Kita hanya bisa berharap misterinya benar-benar terungkap, bukan sekadar dilanjutkan ke sekuel berikutnya.
Dan soal sarapan, lain kali satu porsi nasi uduk saja. Konspirasi sudah cukup berat tanpa tambahan karbohidrat.















