Ironi Data Kemiskinan di Kota Sukabumi, 2 Lansia Hidup Susah Masuk Desil 7 dan 9

Sukabumiupdate.com
Kamis 10 Sep 2026, 14:40 WIB
Ironi Data Kemiskinan di Kota Sukabumi, 2 Lansia Hidup Susah Masuk Desil 7 dan 9

Een Suhaenah 67 tahun lansia pencari barang bekas warga Kota Sukabumi masuk desil 7 (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Kondisi sejumlah warga lanjut usia di Kota Sukabumi menjadi sorotan setelah status desil dalam data kesejahteraan mereka dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi kehidupan sehari-hari. Akibat status desil terbaru tersebut, mereka tak bisa lagi menerima bantuan sosial yang sebelumnya didapatkan dari pemerintah.

Ini kisah dua perempuan lansia warga 04/04, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Yang satu hidup seorang diri mengandalkan rongsokan, sementara yang lainnya dalam kondisi sakit tidak mampu berjalan, keduanya bertahan hidup dari kerabat dekat dan warga sekitar.

Een Suhaenah, di usia 67 tahun harus mencari rongsokan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Dia hidup seorang diri di sebuah kamar 2 x 2 meter persegi yang ditempatinya selama hampir dua setengah tahun tanpa sewa, karena bangunan itu milik kerabatnya.

Baca Juga: Tingkatkan Akses Warga, Dinas PU Sukabumi Aspal Hotmix Jalan Cigadog-Cimangir Sagaranten

"Saya tinggal di sini sudah hampir dua tahun setengah sendiri. Awalnya sempat ngontrak, terus pindah ke sini," ujar Een kepada sukabumiupdate.com di kediamannya Kamis (10/9/2026).

Untuk bertahan hidup, Een mengandalkan penghasilan dari mengumpulkan barang-barang bekas yang kemudian dijual. Baginya, pekerjaan tersebut tetap dijalani selama bisa menghasilkan uang untuk membeli makanan.

"Sehari-hari saya nyari rongsokan saja. Buat makan," katanya.

Baca Juga: Tim Restek Nusa Putra University Raih Hibah Rp50 Juta di Hackathon PRIME STeP 2026 IPB

Een mengaku kaget saat mengetahui status desil berubah. Informasi itu didapatkannya dari pendamping sosial di wilayah tersebut. 

Berdasarkan pengecekan yang dilihatnya, saat ini ia tercatat dalam desil 7. "Iya, sudah dicek, dilihat dari layar katanya masuk desil 7," tuturnya.

Status tersebut menjadi perhatian karena Een sebelumnya adalah penerima menerima bantuan sosial dari pemerintah. “Dapat kalau sebelumnya, sekarang enggak ada. Katanya gantian dapatnya, nanti dirapatin katanya," ungkap Een.

Baca Juga: Badan Geologi: Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Potensi Letusan Masih Tinggi

Tak Bisa Berjalan, Irwana Tercatat Desil 9

Kondisi cukup tragis dialami Irwana, lansia 72 tahun tetangga Een. Dalam update data kesejahteraan sosial terbaru, Irwana tercatat berada di desil 9.

Adik kandung Irwana, Yanti (67), mengaku terkejut ketika mengetahui status baru tersebut. Sebab, kondisi kakaknya saat ini memprihatinkan dan membutuhkan bantuan.

"Saya tahu itu setelah ada kunjungan dari kelurahan, pas dicek ternyata kakak saya ini masuk desil 9, sementara keadaannya kayak begini (memprihatinkan)," ujar Yanti.

Baca Juga: Makna di Balik Prosesi Penyiraman Air 4 Penjuru Sukabumi dalam Sekar Budaya HJKS ke-156

Yanti mengatakan keluarga tidak mengetahui status desil Irwana sebelumnya karena belum pernah melakukan pengecekan. Status desil 9 baru diketahui ketika petugas kelurahan datang dan melakukan pengecekan data.

"Nggak ngerti saya, nggak pernah ngecek juga sebelumnya. Yang pasti pas dicek itu sekarang masuk desil 9," katanya.

Menurut Yanti, Irwana sudah hampir tiga tahun sakit, bahkan sudah tidak mampu berjalan maupun berdiri sendiri. Untuk berpindah posisi, tubuhnya harus diangkat dan digendong oleh anaknya.

Baca Juga: Gagal Nanjak di Tanjakan Baeud Warungkiara, Mobil L300 Terguling Lalu Tabrak Strada

Untuk aktivitas buang air besar, Irwana juga harus menggunakan pispot di tempat tidur karena tidak mampu berjalan menuju kamar mandi. Di tengah kondisi tersebut, Irwana disebut belum pernah menerima bantuan sosial. 

Kehidupan sehari-harinya hanya mengandalkan penghasilan anaknya yang bekerja sebagai juru parkir di terminal dengan sistem kerja dua hari sekali. "Kalau makan itu kan anaknya jadi juru parkir di terminal dua hari sekali, kadang-kadang enggak dapat uang. Kalau ada juga beli nasi bungkus satu dimakan berdua. Di rumah ini cuma berdua, ibu sama anak aja," ucapnya.

Akurasi Desil

Desil adalah metode dalam statistik yang membagi data terurut menjadi sepuluh bagian yang sama besar, di mana masing-masing bagian mewakili 10% dari total populasi atau sampel. Dalam konteks kebijakan sosial dan kesejahteraan di Indonesia, desil digunakan oleh pemerintah dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memetakan tingkat kesejahteraan rumah tangga.

Baca Juga: Panenjoan Situ Sukarame, Cara Berbeda Menikmati Danau di Parakansalak dari Ketinggian

Pemerintah melakukan pembagian tingkat kesejahteraan warga kedalam Desil 1–10. Dimana penduduk atau keluarga di Indonesia diurutkan dari tingkat kesejahteraan yang paling rendah hingga yang paling tinggi, lalu dikelompokkan ke dalam 10 tingkatan

Desil 1: Kelompok 10% masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling bawah atau sangat miskin. Desil 2–4: Kelompok lapisan rentan miskin hingga hampir mampu (secara akumulatif 40% terbawah sering menjadi sasaran program perlindungan sosial).

Desil 5: Kelompok menengah bawah (dapat diusulkan untuk penerima bantuan iuran jaminan kesehatan).

Baca Juga: 7 Rumah di Simpenan Sukabumi Ludes Terbakar Diduga akibat Rembetan Karhutla

Desil 6–9: Kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah hingga mapan. Desil 10: Kelompok 10% masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi atau paling mapan. 

Data desil dipakai pemerintah sebagai acuan utama penyaluran bantuan sosial (bansos) agar tepat sasaran. Posisi desil bukan harga mati atau vonis status tetap. Posisi ini bisa berubah seiring pembaruan data berkala yang memuat kondisi riil ekonomi keluarga. 

Terkait desil terbaru lansia Een dan Irwana, redaksi sukabumiupdate masih berusaha mengkonfirmasi hal tersebut kepada pemerintah daerah, melalui kelurahan, kecamatan hingga dinas sosial.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini