Makna di Balik Prosesi Penyiraman Air 4 Penjuru Sukabumi dalam Sekar Budaya HJKS ke-156

Sukabumiupdate.com
Kamis 10 Sep 2026, 11:17 WIB
Makna di Balik Prosesi Penyiraman Air 4 Penjuru Sukabumi dalam Sekar Budaya HJKS ke-156

Bupati Sukabumi Asep Japar menyiramkan air dari empat penjuru Kabupaten Sukabumi ke patung penyu di Tugu Swasti Saba Alun-alun Palabuhanratu dalam prosesi Sekar Budaya HJKS ke-156. (Sumber Foto: SU/Ilyas)

SUKABUMIUPDATE.com - Suasana berbeda terasa dalam Upacara Sekar Budaya memperingati Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 tahun 2026. Bukan sekadar seremoni, perayaan yang digelar di Alun-alun Palabuhanratu, Kamis (10/9/2026), itu turut menghadirkan pesan budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Sukabumi.

Di tengah khidmatnya rangkaian upacara, perhatian tertuju pada prosesi yang sarat makna. Kendi berisi air dari empat penjuru Kabupaten Sukabumi dibawa ke pusat kegiatan untuk kemudian disatukan melalui prosesi penyiraman ke patung penyu di Tugu Swasti Saba.

Prosesi tersebut dilakukan oleh Bupati Sukabumi Asep Japar bersama Wakil Bupati Andreas, Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali, Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, serta Dandim 0622/Kabupaten Sukabumi Letkol Inf Agung Ariwibowo.

Air yang dibawa dari empat penjuru tersebut bukan sekadar air biasa. Masing-masing berasal dari sumber mata air terpilih yang tidak pernah mengering. Air dari empat wilayah itu kemudian dipertemukan di Palabuhanratu yang menjadi dayeuh (ibu kota) Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga: Arti Logo dan Makna Serta Daftar 13 Event Semarak Hari Jadi Kabupaten Sukabumi ke-156

Tokoh budaya sekaligus sesepuh Palabuhanratu, Asep Nurbagelar atau akrab disapa Abah Embep, menjelaskan bahwa prosesi tersebut menggambarkan penyatuan Sukabumi dari empat penjuru mata angin: kulon (barat), wetan (timur), kaler (utara), dan kidul (selatan).

"Jadi tadi sengaja mengambil empat kendi itu artinya kita mengambil dari empat penjuru mata angin, artinya Pancer Pangawinan. Inilah Kabupaten Sukabumi, ibu kotanya atau dayeuh-nya di Palabuhanratu, makanya disatukan di sini," ujar Abah Embep kepada sukabumiupdate.com di lokasi.

Menurutnya, konsep ini sengaja dihadirkan sebagai bagian dari upaya melestarikan kebudayaan daerah. Perayaan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi tidak hanya dikemas dalam bentuk upacara resmi, tetapi juga diberi sentuhan kearifan lokal yang tumbuh dari para seniman dan budayawan Palabuhanratu.

Empat sumber mata air tersebut memiliki latar belakang lokasi yang berbeda. Dari wilayah Pajampangan (selatan), air diambil dari Cibutun. Dari arah Cikembar (utara/tengah), air berasal dari kawasan Gunung Salak. Sementara dari timur, air diambil dari sumber mata air Gunung Gede, dan dari wilayah barat berasal dari sumber mata air Cikahuripan di kawasan Cagar Alam.

Baca Juga: Bupati Asjap Dorong Kebangkitan Black Gold Asal Sukabumi di Festival Kopi 2026

Pemilihan air sebagai unsur utama prosesi memiliki alasan mendalam. Dalam filosofi yang disampaikan Abah Embep, air merupakan sumber kehidupan sekaligus penggerak kehidupan manusia.

"Air itu merupakan salah satu sumber kehidupan, merupakan salah satu penggerak hidup. Kita tanpa air mestinya akan mengalami hal-hal yang tidak diharapkan," katanya.

Setelah dipertemukan, air disiramkan ke patung penyu yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Sukabumi. Bagi Abah Embep, penyu bukan sekadar ornamen. Hewan ini memiliki makna simbolis keberlanjutan dan ketahanan. Penyiraman air ke patung penyu menjadi simbol doa agar daerah dan masyarakat Sukabumi senantiasa mendapat keselamatan, keberkahan, dan rahmat Tuhan.

"Mudah-mudahan dengan dikucurkan cai (air) ke sana, tetap rahayu, abadi, ginuluran, aya dina rahmat Gusti," tuturnya.

Prosesi ini menjadi salah satu pembeda utama dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi tahun ini. Upacara resmi tetap menjadi agenda utama, tetapi diperkaya dengan unsur budaya lokal yang memperkuat identitas daerah.

Di sepanjang rangkaian kegiatan, masyarakat tampak antusias menyaksikan dan mengikuti prosesi. Kehadiran warga membuat peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi tidak hanya menjadi agenda administratif pemerintahan, tetapi juga ruang perjumpaan masyarakat dengan warisan budayanya.

Abah Embep menambahkan, sebenarnya masih ada unsur budaya lain yang idealnya turut dihadirkan, seperti penyimpanan berbagai jenis tanaman pangan dan umbi-umbian (hasil bumi) sebagai simbol ketahanan pangan dan harapan masa depan. Namun, pada pelaksanaan tahun ini unsur tersebut belum sempat disiapkan.

Meski demikian, prosesi penyatuan air empat penjuru tetap menyampaikan pesan kuat dalam Sekar Budaya HJKS ke-156: tentang penyatuan wilayah, kehidupan yang bersumber dari air, serta harapan agar Kabupaten Sukabumi terus tumbuh dalam keberkahan tanpa meninggalkan akar budayanya.

Berita Terkait
Berita Terkini