Kasus DBD di Kota Sukabumi Melonjak Saat Musim Kemarau, Capai 402 Kasus

Sukabumiupdate.com
Selasa 01 Sep 2026, 10:44 WIB
Kasus DBD di Kota Sukabumi Melonjak Saat Musim Kemarau, Capai 402 Kasus

Ilustrasi penyakit berbahaya akibat gigitan nyamuk (Sumber: Freepik/@jcomp) (Sumber: Freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Musim kemarau panjang yang terjadi di Kota Sukabumi menyebabkan sejumlah penyakit mengalami peningkatan kasus. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengatakan lonjakan kasus DBD mulai terjadi pada pertengahan tahun, seiring dengan musim kemarau yang mulai berlangsung.

"Yang naik itu justru adalah DBD. Jadi walaupun masyarakat kan tahunya DBD itu saat musim penghujan. Kalau saat ini justru harus waspada di musim kemarau ini ternyata," ujar Denna, Senin (31/8/2026).

Peningkatan kasus terlihat signifikan sejak Mei 2026 dengan 49 kasus. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 61 kasus pada Juni dan kembali naik menjadi 83 kasus pada periode Juli-Agustus.

Secara kumulatif, kasus DBD di Kota Sukabumi sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 402 kasus.

Baca Juga: 518 Rekening ASN Pemkot Sukabumi Masuk Data PPATK Terkait Judi Online

Meski hingga saat ini belum ada kasus kematian akibat DBD, Denna menyebut tingkat insiden atau Incident Rate penyakit tersebut masih tergolong tinggi, yakni rata-rata 107 kasus per 100.000 penduduk.

Kecamatan Citamiang tercatat sebagai wilayah dengan kasus DBD tertinggi. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi kepadatan penduduk yang cukup tinggi di wilayah tersebut.

"Jadi incident rate-nya memang masih tinggi. Angka kejadian kasusnya itu 107 kasus per 100.000 penduduk, yang harusnya targetnya itu 10 kasus per 100.000 penduduk," sebutnya.

DBD Meningkat Saat Musim Kemarau

Denna menjelaskan, peningkatan kasus DBD pada musim kemarau berkaitan dengan pola daur hidup nyamuk Aedes aegypti.

Baca Juga: AJI Bandung Biro Sukabumi Kecam Dugaan Pemerasan Oknum Wartawan terhadap Kepala Sekolah

Telur nyamuk betina yang dapat mencapai hingga 300 ribu butir mampu bertahan dalam kondisi kering selama enam bulan. Ketika telur tersebut kembali terkena air, meski hanya berasal dari sedikit genangan seperti talang atau wadah yang bocor, telur dapat langsung menetas.

Selain itu, suhu udara yang semakin hangat selama musim kemarau turut mempercepat proses penetasan telur nyamuk. Jika dalam kondisi normal membutuhkan waktu sekitar 6-12 hari, proses tersebut dapat berlangsung hanya sekitar lima hari ketika suhu lebih tinggi.

"Kasus DBD ini justru tinggi di bulan Juli dan Agustus padahal musim kemarau. Suhu yang lebih panas membuat telur nyamuk menetas lebih cepat. Nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit pada pagi hingga siang hari, sehingga mayoritas kasus menyerang usia produktif dan anak sekolah yang sedang beraktivitas," lanjut Denna.

Menurut Denna, selain keberadaan jentik pada genangan air, kondisi lingkungan yang kotor juga menjadi salah satu faktor yang memungkinkan nyamuk berkembang biak dan bersarang.

Baca Juga: KDM Bereaksi, Viral Oknum Wartawan Sukabumi Ngamuk di Sekolah: Kirim Tim Hukum Jabar

Karena itu, kebersihan lingkungan serta Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran DBD.

"Intinya lingkungannya yang harus dijaga. Lakukan PSN jangan lupa melalui kegiatan 3M Plus. Menguras air, menutup wadah penampungan air, dan mendaur barang bekas," sebutnya.

Fogging Bukan Pencegahan Utama

Dinkes Kota Sukabumi juga menegaskan bahwa fogging atau pengasapan bukan merupakan langkah pencegahan utama DBD. Tindakan tersebut menjadi upaya penanggulangan akhir (terminal execution) yang harus dilakukan berdasarkan izin dan hasil penyelidikan epidemiologi (PE) oleh Puskesmas.

Langkah pencegahan yang paling efektif tetap dilakukan melalui PSN dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan 3M Plus.

"Padahal fogging itu bukan langkah pencegahan yang utama. Intinya tetap harus menjaga kebersihan lingkungan dengan 3M Plus tadi," ungkap Denna.

Baca Juga: Mulus, Jalan Mareleng-Ciracap Sepanjang 590 Meter Ditangani Dinas PU Sukabumi

Selain PSN, masyarakat juga dapat melakukan sejumlah langkah pencegahan tambahan, seperti menggunakan lotion antinyamuk, memakai kelambu, menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk seperti lavender dan serai, serta memelihara ikan pemakan jentik.

Sesuai arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dinkes Kota Sukabumi juga mengimbau masyarakat menerapkan Gerakan 1 Rumah 1 Jentik (G1R1J).

Gerakan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memantau dan membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi genangan air setidaknya satu kali dalam sepekan, baik di rumah maupun perkantoran.

Masyarakat juga diminta segera membawa anggota keluarga yang mengalami demam selama 1-2 hari ke salah satu dari 15 Puskesmas yang tersebar di Kota Sukabumi untuk mendapatkan pemeriksaan DBD secara gratis.

Langkah tersebut penting dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya fase kritis yang dapat berkembang menjadi dengue shock syndrome.

Sebagai upaya perlindungan tambahan selama musim kemarau, Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk mengonsumsi air putih minimal 1,5 liter per hari, menjaga pola makan bergizi seimbang, rutin mencuci tangan menggunakan sabun, serta memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari debu yang membawa kuman.

Berita Terkait
Berita Terkini