SUKABUMIUPDATE.com – Seorang satpam SPPG, Rafik Andrean (27), menjadi korban pengeroyokan sekelompok brandal motor yang membawa bendera Persib di sekitar Jalan Rambay menuju Jalur Lingkar Selatan, Kecamatan Cisaat pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.
Menariknya, peristiwa tersebut terjadi usai laga Final Piala Presiden tahun 2026 yang mempertemukan antara Persib Bandung vs Persebaya Surabaya pada Kamis (6/8/2026) yang digelar sekira pukul 19.30 WIB.
Aksi penyerangan tersebut terekam jelas melalui kamera cctv, berdasarkan video rekaman yang dilihat sukabumiupdate.com, korban bersama seorang temannya nampak sedang memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan, secara tiba-tiba datang sekelompok berandal motor mengacungkan senjata tajam berbagai jenis dan langsung mengejar korban.
Akibat kejadian tersebut, Rafik mengalami sejumlah luka, termasuk luka akibat senjata tajam di sekitar alis dekat mata dan bagian belakang kepala. Korban hingga kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Baca Juga: Kronologi Pengendara Scoopy Tewas dalam Kecelakaan dengan Mobil Sampah di Ciangsana Sukabumi
Istri korban, Meisya Dea Najwa, mengatakan pengeroyokan terjadi ketika suaminya yang merupakan seorang satpam di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Gunungguruh sedang menjalankan tugas membeli garam ke Pasar Cisaat bersama seorang asisten lapangan.
"Suami saya itu lagi kerja, kan suami saya itu satpam di SPPG dekat situ, disuruh beli garam jam satu malam ke Pasar Cisaat. Berangkat berdua sama asisten lapangan," kata Meisya kepada sukabumiupdate.com saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Minggu (9/8/2026).
Menurut Meisya, setelah membeli garam, Rafik dan rekannya dalam perjalanan pulang. Di tengah perjalanan, mereka berhenti setelah melihat sesuatu terjatuh di jalan.
Rafik kemudian turun dari sepeda motor untuk mencari barang yang disebut sebagai kunci rumah. Saat itu, sekelompok berandal motor datang dari arah Rambay.
"Dari jauh juga udah ngacungin senjata, suami saya langsung kabur terus jatuh dari motor. Yang satu temannya lari selamat, cuma luka jatuh doang," ujarnya.
Baca Juga: Karhutla Hanguskan 18 Hektare Lahan Perhutani di Jampangtengah Sukabumi, Api Masih Berkobar
Meisya mengatakan Rafik kemudian dikejar dan dikeroyok oleh kelompok tersebut. Korban disebut sempat dipukul menggunakan kayu sebelum berusaha melarikan diri.
"Suami saya kena keroyok, sebelumnya masih pakai kayu. Suami saya bangun lari, di sana dikejar lagi. Pokoknya hampir empat kali jatuh terus dikejar-kejar," katanya.
Dalam pengejaran tersebut, para pelaku diduga menggunakan senjata tajam berupa celurit dan golok. Rafik kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan menyeberang ke arah Gunungguruh hingga menemukan sebuah klinik di Jalur Lingkar Selatan.
Di lokasi tersebut, Rafik ditolong oleh satpam yang sedang berjaga dan kemudian dibawa masuk ke dalam pos keamanan.
Namun, menurut Meisya, kelompok tersebut masih mengejar korban hingga ke pos satpam. Mereka bahkan disebut meminta agar Rafik dikeluarkan dari pos tersebut.
"Di pos satpam juga masih dikejar, bahkan sampai ngancam juga minta dikeluarin itu suami saya. Mereka bilang, 'keluarin, udah paehan-paehan' katanya," tutur Meisya.
Satpam klinik kemudian berusaha melindungi Rafik hingga kelompok tersebut akhirnya meninggalkan lokasi.
"Si satpam juga bilang, 'udah jangan, orangnya juga udah parah, kasihan.' Dari situ udah nggak ada perkawanan lagi, bubar aja pada pergi," ujarnya.
Tangkapan layar berandal motor diduga mengibarkan bendera persib saat melakukan penyerangan terhadap korban.
Setelah situasi dinilai aman, Rafik langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Lebih lanjut, tak berselang lama setelah kejadian, Meisya menyebut teman korban sempat kembali ke tkp untuk mengambil motor, tas dan satu buah handphone milik korban, namun di lokasi, teman korban tidak mendapati motor, tas maupun handphone tersebut.
“Nah udah kejadian pengeroyokan itu, motor, tas sama hp suami saya itu nggak ada hilang di lokasi, kan sempet balik lagi sama temen suami saya itu dicari tapi nggak ada di lokasi, jadi sempet dibawa sama mereka (Berandal Motor). Udah gitu paginya mau laporan ke Polres, ternyata motor udah ada di Polres, katanya ada warga yang nganterin, tas sama hp juga ada,” tutur dia.
“Jadi kalau kata warga pas pagi-pagi itu ada motor, tas sama hp tapi nggak ada yang punya-nya, jadi dianterin ke Polres. Tapi emang waktu temen suami saya ke tkp itu motornya nggak ada, kayanya udah sempet diambil tapi dibalikin lagi sama mereka (Berandal Motor),” tambahnya.
Baca Juga: 332 Eks Buruh Tambang Emas Sukabumi Minta Langkah Konkret Penanganan Tunggakan Gaji Rp8,4 Miliar
Adapun kondisi terkini korban, Meisya mengatakan kondisi suaminya saat ini mulai membaik dan sudah sadar. Namun, berdasarkan keterangan dokter, terdapat pendarahan pada bagian otak.
"Kalau sekarang sudah agak mendingan, sudah sadar. Cuma kalau kata dokter katanya ada pendarahan di otak," katanya.
Selain pendarahan pada otak, korban mengalami luka akibat senjata tajam di bagian sekitar alis dekat mata dan belakang kepala.
Meisya mengatakan peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian. Ia berharap kasus tersebut dapat segera diusut dan para pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Hingga berita ini diturunkan, sukabumiupdate.com belum mendapatkan keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait insiden tersebut.















