Jeritan Sang Kakak dan Duka Satu Kampung dalam Tragedi Kebakaran Nyalindung Sukabumi

Sukabumiupdate.com
Kamis 06 Agu 2026, 21:39 WIB
Jeritan Sang Kakak dan Duka Satu Kampung dalam Tragedi Kebakaran Nyalindung Sukabumi

Zeri Setiawan (kanan), Ketua RW 06 Kampung Babakanbandung, bersama Agus Santika, kakek korban, melihat proses pembangunan kembali rumah yang terbakar di Desa Wangunreja, Nyalindung Sukabumi. (Sumber Foto: SU/Ragil)

SUKABUMIUPDATE.com – Di Kampung Babakanbandung, RT 01/06, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, suara palu dan aktivitas para pekerja terdengar dari sebuah bangunan yang masih dalam proses pembangunan. Dinding rumah itu memang mulai berdiri kembali, menggantikan rumah panggung yang hangus terbakar beberapa pekan lalu.

Namun bagi keluarga korban dan warga sekitar, pembangunan rumah tersebut belum mampu menghapus luka yang ditinggalkan tragedi kebakaran pada Kamis, 23 Juli 2026 lalu.

Di lokasi itulah tiga bocah kakak beradik, Al Zenar Malik Seputro (9), Sakha Asadel Seputro (6), dan Shakila Almahyra Queenzha (4), kehilangan nyawa dalam kebakaran yang mengguncang satu kampung.

Ketua RW 06, Zeri Setiawan, mengaku peristiwa tersebut masih membekas dalam ingatan warga hingga hari ini.

"Sampai hari ini kadang kita masih teringat. Semua warga menangis. Bukan hanya keluarga, tapi satu kampung ikut berduka," ujar Zeri kepada sukabumiupdate.com, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga: Kisah Pilu Kebakaran Nyalindung Sukabumi: 3 Bocah Berpulang Bersama Cita-cita Jadi Polisi dan Guru

Zeri mengatakan, tragedi yang terjadi sekitar pukul 18.15 WIB tersebut bermula saat malam beranjak usai azan magrib. Sebagian besar kaum pria di kampung tengah menghadiri tahlilan warga yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi.

Rumah panggung berukuran 6x6 meter milik keluarga korban berdiri di tepi persawahan dan saat itu hanya diterangi cahaya lilin akibat pemadaman aliran listrik. Tak seorang pun mengira, dalam hitungan menit, kobaran api mendadak melahap tempat berteduh tersebut.

Suasana tahlilan yang semula khusyuk mendadak pecah menjadi kepanikan hebat tatkala seorang anak berlari sambil berteriak histeris memberitahukan kebakaran. Warga berhamburan menuju lokasi, namun si jago merah telah membumbung tinggi melahap seluruh material kayu bangunan.

Menurut Zeri, dugaan sementara kebakaran berasal dari lelehan lilin yang digunakan sebagai penerangan saat listrik padam.

"Asal api belum bisa dipastikan. Informasi yang kami terima, dugaan sementara berasal dari lilin yang diletakkan di atas piring plastik di kamar anak laki-laki. Saat itu listrik memang padam," ungkap Zeri.

Di tengah kepanikan, nenek korban sempat berusaha memadamkan api menggunakan air seadanya di kamar mandi. Tanpa alas kaki, ia menerobos bara hingga telapak kakinya melepuh. Namun, kobaran api bergerak jauh lebih cepat melingkupi seluruh sudut rumah.

Baca Juga: Vonis 6 Bulan Penjara Kepada Tujuh Terdakwa Kasus Kematian Lansia di Jampangkulon

Jeritan Sang Kakak

Lebih lanjut Zeri menceritakan, bahwa warga awalnya mengira seluruh penghuni telah berhasil menyelamatkan diri. Saat itu mereka juga fokus memadamkan api yang terus membesar akibat tiupan angin.

Namun, dugaan itu sirna seketika saat terdengar tangisan dan teriakan dari Nicky (15) kakak korban yang saat itu berhasil keluar dari rumah.

"Adik-adik saya masih di dalam!"

Jeritan histeris remaja perempuan yang masih duduk di bangku MTs tersebut membuat warga langsung berupaya menjebol dinding dari berbagai sisi. Semula, pencarian difokuskan ke kamar belakang, namun ruangan itu rupanya kamar sang nenek. Ketiga anak kecil itu ternyata terjebak di kamar depan yang sudah terkepung kobaran api hebat.

Kondisi kebakaran di Nyalindung Kabupaten SukabumiKondisi kebakaran di Nyalindung Kabupaten Sukabumi

Upaya pemadaman kian dramatis karena debit air irigasi mengering akibat dampak musim kemarau panjang. Zeri menyebut, warga terpaksa membuka pintu irigasi terlebih dahulu agar air dapat mengalir menuju lokasi kebakaran.

Sambil menunggu, mereka mencabut tanaman padi di sekitar rumah untuk mencegah api menjalar ke bangunan lain.

Namun semua upaya itu tak mampu mengalahkan ganasnya kobaran api.

Dalam waktu kurang dari satu jam, rumah tersebut rata dengan tanah.

Ketika petugas pemadam kebakaran tiba, api telah berhasil dipadamkan warga dan petugas hanya melakukan proses pendinginan. 

Saat bara mulai mereda, warga bersama petugas memasuki puing-puing rumah. Pemandangan yang mereka temukan menjadi luka yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Dua anak ditemukan di atas kasur.

Salah satunya adalah Sakha Asadel Seputro, bocah yang baru beberapa hari menjalani khitan. Saat ditemukan, ia masih memeluk erat adiknya, Shakila Almahyra Queenzha. Seolah dalam detik-detik terakhirnya, ia berusaha melindungi sang adik dari kobaran api.

Sementara sang kakak, Al Zenar Malik Seputro, ditemukan tak jauh dari pintu kamar. Diduga ia sempat berusaha keluar untuk menyelamatkan diri. Namun api lebih dulu menutup jalan pulangnya.

Usai proses evakuasi, Zeri menyatakan bahwa keluarga bersama aparat kepolisian, Koramil, tenaga kesehatan, dan pemerintah kecamatan bermusyawarah. Mereka sepakat ketiga jenazah tersebut dimakamkan malam itu juga di TPU Lemahluhur.

Ayah korban yang berada di Banyuwangi belum sempat tiba, namun telah memberikan izin. Sementara sang ibu datang ke lokasi dalam kondisi syok sesaat setelah menerima kabar duka.

"Kami juga meminta masyarakat yang memiliki video evakuasi agar tidak mengunggahnya ke media sosial. Kami kasihan kepada keluarga. Mereka sedang kehilangan tiga anak sekaligus," kata Zeri.

Baca Juga: Bupati Sukabumi Buka Suara Soal Kades Tamanjaya Positif Sabu

Luka yang Belum Sembuh

Ketiga korban merupakan anak dari pasangan Iwan Seputro dan Meilani yang telah berpisah sekitar satu hingga dua tahun sebelumnya.

Karena sang ibu bekerja di wilayah Cibadak, mereka tinggal bersama kakek dan neneknya, Agus Santika (60) dan Nia Kurniasih (59).

Saat kebakaran terjadi, Agus sedang bekerja di Bogor. Sementara anak sulung keluarga tersebut sedang menjalani praktik kerja lapangan di Bandung.

Hanya Nicky Oktaviany Seputro, kakak kedua mereka yang berhasil selamat.

Kini rumah itu memang telah berdiri kembali. Namun bagi Agus, Nia, dan warga Kampung Babakanbandung, ada sesuatu yang tak pernah bisa dibangun ulang. Yaitu suara tawa tiga bocah yang dulu memenuhi rumah itu setiap hari.

Rumah baru mungkin telah menggantikan bangunan yang terbakar. Tetapi kenangan tentang Al Zenar, Sakha, dan Shakila akan tetap tinggal.

Menjadi pengingat bahwa dalam hitungan puluhan menit, api bukan hanya melahap sebuah rumah, tetapi juga merenggut masa depan sebuah keluarga.

Di akhir perbincangan, Zeri menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu keluarga korban bangkit dari musibah tersebut, mulai dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Desa Wangunreja, unsur Muspika Kecamatan Nyalindung, relawan, para donatur, hingga masyarakat yang memberikan bantuan dan doa.

"Kami tidak akan pernah lupa bantuan semua pihak. Mudah-mudahan menjadi amal kebaikan bagi semuanya," tutupnya.

Berita Terkait
Berita Terkini