SUKABUMIUPDATE.com - Rumah panggung semipermanen di Kampung Babakanbandung RT 01/06, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, kini tinggal arang hitam. Tak ada lagi tawa riang anak-anak yang berlarian di halaman. Yang tersisa hanyalah aroma sangit sisa kebakaran, keheningan yang mencekam, dan duka mendalam yang tak terobati.
Tragedi memilukan pada Kamis malam, 23 Juli 2026 sekitar pukul 18.15 WIB tersebut mengubah jalan hidup sebuah keluarga untuk selamanya. Kobaran api yang berkobar cepat hangus melahap tempat berteduh yang selama ini diisi pasangan paruh baya bersama cucu-cucu tercinta mereka.
Di dalam kamar yang terkepung api, tiga bersaudara tak sempat menyelamatkan diri. Mereka adalah Al Zenar Malik Seputro (9), Sakha Asadel Seputro (6), serta sang adik terkecil, Shakila Almahyra Queenzha (4). Ketiganya mengembuskan napas terakhir secara bersamaan dalam musibah yang menyayat hati warga sekitar.
Di rumah kerabat tempat mengungsi, Nia Kurniasih (59), sang nenek, berusaha tegar. Namun setiap kali nama cucunya disebut, pertahanannya runtuh dan air matanya tak mampu lagi dibendung.
"Anak-anak itu baik. Mereka selalu dekat sama kami. Sekarang terasa sangat sepi," ucap Nia kepada sukabumiupdate.com, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: 3 Bocah MD Akibat Kebakaran di Nyalindung Sukabumi, Polisi Ungkap Kronologi
Sejak kedua orang tua mereka berpisah satu hingga dua tahun lalu, empat dari lima bersaudara tersebut diasuh oleh kakek dan neneknya di Wangunreja. Sementara sang ibu bekerja di Kecamatan Cibadak demi mengadu nasib menopang kebutuhan harian anak-anaknya.
Anak pertama kini duduk di bangku SMK dan anak kedua di MTs, sementara tiga adik kecil mereka telah berpulang bersamaan dalam musibah tersebut.
Mimpi Kecil yang Tak Sempat Terwujud di Balik Kasih Tanpa Syarat Kakek dan Nenek
Di balik puing-puing rumah yang hangus, ikut padam pula mimpi-mimpi sederhana yang baru saja mekar. Al Zenar, bocah yang baru naik kelas 4 SD, memendam cita-cita menjadi seorang anggota polisi. Dua pekan sebelum tragedi, keluarga sempat mengabadikan momen bahagia saat bertanya tentang impian masa depannya.
"Dia bilang ingin jadi polisi," kenang Nia lirih dengan suara bergetar.
Rekaman video yang semula dipersiapkan untuk menyambut tahun ajaran baru itu kini berubah menjadi rekaman kenangan terakhir dari mimpi anak laki-laki yang tak pernah sempat diwujudkan. Sementara adiknya, Sakha Asadel juga memiliki cita-cita yang tak kalah mulia. Bocah yang masih duduk di bangku PAUD itu bercita-cita menjadi seorang guru.
Mimpi sederhana yang lahir dari kepolosan seorang anak. Namun mimpi itu kini ikut padam bersama kobaran api yang melalap rumah mereka.
Baca Juga: Kebakaran di Nyalindung Sukabumi, Kades: Tiga Anak Tak Selamat Terjebak Api
Nia mengaku hingga kini masih sulit menerima kenyataan. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada kebiasaan cucu-cucunya. Suara langkah kecil, tawa riang, hingga panggilan "Nenek" yang hampir setiap hari terdengar, kini berganti kesunyian yang begitu menyakitkan.
Sementara itu, sang kakek, Agus Santika (60), mengenang momen-momen sederhana yang kini justru menjadi kenangan paling berharga. Setiap pulang bekerja, ia selalu disambut cucu-cucunya dengan pelukan dan senyum yang tak pernah absen.
"Kalau saya pulang kerja, mereka selalu menyambut. Mereka semua anak-anak yang saleh. Kami hanya ingin memperjuangkan cita-cita mereka," tutur Agus dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Agus dan Nia, membesarkan cucu-cucu mereka bukanlah beban. Di tengah keterbatasan ekonomi, keduanya berusaha memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik agar kelak anak-anak itu memiliki masa depan yang lebih baik.
Namun takdir berkata lain.
Tragedi ini tak hanya merenggut tiga nyawa tak berdosa, tetapi juga mematahkan fondasi harapan sebuah keluarga yang bertahan dalam kesederhanaan. Di balik puing-puing rumah yang hangus, tersimpan kisah tentang cinta tanpa syarat dari seorang kakek dan nenek, tentang perjuangan membesarkan cucu-cucu mereka, serta tentang mimpi-mimpi kecil yang terhenti jauh sebelum waktunya.
Kini keluarga hanya bisa memanjatkan doa agar Al Zenar, Sakha Asadel, dan Shakila Almahyra Queenzha mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Sementara bagi Nia dan Agus, kenangan tentang Al Zenar yang ingin berseragam polisi dan Sakha yang bermimpi berdiri di depan kelas akan selalu abadi. Seragam dan ruang kelas itu mungkin tak pernah sempat mereka sentuh, namun cita-cita tulus itu tak akan pernah ikut terbakar.















