Bantuan Tak Bertahan Lama, Warga Cibadak Masih Hadapi Krisis Air dan Kini Andalkan Kali

Sukabumiupdate.com
Minggu 02 Agu 2026, 10:28 WIB
Bantuan Tak Bertahan Lama, Warga Cibadak Masih Hadapi Krisis Air dan Kini Andalkan Kali

Warga membawa ember untuk mengambil air dari aliran kali di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jumat (31/7/2026). | Foto: SU/Ibnu Sanubari

SUKABUMIUPDATE.com - Kiriman air bersih yang sempat diterima warga Kampung Babakansari RW 17, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, belum mampu mengatasi krisis air bersih akibat musim kemarau yang cukup panjang. Bantuan ini hanya dapat memenuhi kebutuhan satu hingga dua hari.

Ketua RW 17 Kampung Babakansari, Edi Supredi, mengungkapkan kondisi kekeringan di wilayahnya saat ini justru semakin memburuk. Sumur-sumur masyarakat tidak lagi menghasilkan air sehingga mereka mengandalkan aliran kali untuk keperluan. Bantuan air pernah datang pada 22 Juli 2026 sebanyak ribuan liter.

"Kemarau makin lama makin parah. Bantuan dari tangki hanya untuk satu hari. Paling lama dua hari kalau tempat penampungannya lebih banyak. Bukan mengering lagi, enggak ada airnya (soal sumur gali milik penduduk)," kata Edi kepada sukabumiupdate.com, Jumat (31/7/2026).

Untuk mandi dan mencuci, masyarakat terpaksa mengambil air dari kali yang lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dan ditempuh dengan berjalan kaki. Air itu dibawa menggunakan jeriken atau ember dengan dipikul atau menggunakan sepeda motor bagi warga yang memilikinya.

Baca Juga: Kekeringan di Sekarwangi Cibadak, 15 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan untuk Ratusan KK

Sementara untuk minum, lanjut Edi, dipenuhi dengan membeli air kemasan atau galon isi ulang. "Untung-untung yang punya motor pakai motor (saat mengambil dari kali)," katanya.

Selain mengambil langsung, sebagian masyarakat memilih membeli dari warga lain yang berinisiatif memasang mesin dan pipa untuk mengalirkan air dari leuwi di aliran kali yang sama. Menurut Edi, harganya Rp 5 ribu per jeriken. Uang tersebut digunakan untuk pemeliharaan mesin dan kebutuhan listrik. "Banyak juga warga yang membeli," ujar dia.

Tak hanya air bersih, kemarau juga memukul sektor pertanian. Edi mengatakan lahan pertanian sudah tidak dapat ditanami dan sebagian tanaman yang telah tumbuh, mengalami kematian. "Lahan pertanian hancur. Enggak bisa ditanam, bahkan yang ada pun mati. Terutama sayuran, dan sebagian tanaman buah juga," lanjutnya.

Hal lain yang ikut terdampak adalah usaha tapai ubi rumahan yang menjadi sumber penghasilan warga. Produksi makanan ini menurun karena terbatasnya air bersih. "Dulu dalam sekali produksi bisa dua sampai tiga kuintal. Sekarang paling satu kuintal. Airnya (untuk keperluan mengolah) tidak ada," kata dia.

Baca Juga: Sungai Cidadap Cokelat Pekat Diduga Akibat Tambang Liar, Warga Simpenan Krisis Air Bersih

Edi berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang berupa pembangunan sumur bor untuk dimanfaatkan masyarakat. Selain itu, fasilitas Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) yang sudah tidak berfungsi sejak tiga tahun, bisa segera diperbaiki. "Kalau bisa dibantu sumur bor yang benar-benar dapat dimanfaatkan," katanya.

Heri, warga Kampung Babakansari, mengaku sudah sekitar dua bulan harus mengambil air dari kobakan di wilayah terdekat karena tidak ada lagi sumber air di sekitar rumahnya. Air yang diambilnya digunakan untuk mandi dan mencuci, sedangkan kebutuhan minum dipenuhi dengan membeli galon isi ulang. "Paling buat cuci-cuci, mandi. Kalau minum ya air galon," ujar dia.

Dari rumahnya, Heri harus berjalan sekitar 500 meter menuju lokasi pengambilan air. Dalam sehari, ia bisa bolak-balik tiga hingga empat kali untuk kebutuhan keluarganya. "Kesulitannya ya jauh. Rumah saya di atas. Jadi kalau musim kemarau begini harus ngambil air," katanya.

Menurut Heri, bantuan air bersih yang pernah diterima memang membantu, namun belum cukup karena air merupakan kebutuhan yang harus tersedia setiap hari. "Kalau ada bantuan kan enggak setiap hari. Sementara air itu dibutuhkan setiap hari, jadi enggak cukup," ucapnya.

Berita Terkait
Berita Terkini