Lahan Alang-alang di Warungkiara Sukabumi Kebakaran, Api Diduga dari Bakar Sampah

Sukabumiupdate.com
Jumat 24 Jul 2026, 16:56 WIB
Lahan Alang-alang di Warungkiara Sukabumi Kebakaran, Api Diduga dari Bakar Sampah

Petugas Damkar saat memadamkan kebakaran lahan alang-alang di Warungkiara Sukabumi, Jumat (24/7/2026). (Sumber Foto: Damkar Cibadak)

SUKABUMIUPDATE.com – Kebakaran lahan kembali terjadi di Kabupaten Sukabumi. Kali ini, api menghanguskan sekitar 1.000 meter persegi lahan alang-alang di Kampung Simpenan RT 01 RW 02, Desa Sukaharja, Kecamatan Warungkiara, Jumat (24/7/2026) siang. Kebakaran diduga dipicu aktivitas pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan.

Laporan kejadian diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Sukabumi sekitar pukul 14.09 WIB. Tim dari Pos Damkar Cibadak langsung diberangkatkan dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.39 WIB untuk melakukan pemadaman.

Komandan Regu (Danru) Damkar Pos Cibadak, Iyep Yosepa, mengatakan hasil pemeriksaan sementara menunjukkan api berasal dari pembakaran sampah yang kemudian merembet ke lahan kering yang dipenuhi alang-alang.

"Dugaan sementara, api berasal dari pembakaran sampah yang tidak dijaga, kemudian merembet ke lahan kering yang dipenuhi alang-alang," ujar Iyep, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: 3 Bocah MD Akibat Kebakaran di Nyalindung Sukabumi, Polisi Ungkap Kronologi 

Menurutnya, kondisi cuaca panas yang disertai vegetasi kering membuat kobaran api cepat meluas. Beruntung, petugas berhasil mengendalikan api sebelum merembet ke area yang lebih luas, termasuk permukiman warga di sekitar lokasi.

"Alhamdulillah api berhasil dikendalikan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," katanya.

DPKP Kabupaten Sukabumi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, terutama selama musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Kami mengingatkan warga agar lebih berhati-hati. Jangan meninggalkan api dalam kondisi masih menyala karena dapat memicu kebakaran yang lebih besar dan membahayakan lingkungan maupun permukiman," tandasnya.

Berita Terkait
Berita Terkini