Usai Viral Tinggal di Musala-MCK Sukabumi, Meti dan 2 Anaknya Segera Punya Hunian Layak

Sukabumiupdate.com
Rabu 22 Jul 2026, 21:16 WIB
Usai Viral Tinggal di Musala-MCK Sukabumi, Meti dan 2 Anaknya Segera Punya Hunian Layak

Kolase foto Meti dan proses renovasi hunian baru untuknya di Kampung Sawahbera, RT 03/03, Dayeuhluhur Warudoyong, Kota Sukabumi. Rabu (22/7/2026). (Sumber Foto: SU/Asep Awaludin)

SUKABUMIUPDATE.com – Kisah Meti Aryanti (43), korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang selama lebih dari tiga tahun bertahan hidup bersama dua anaknya di bangunan bekas musala yang berada di area MCK umum di Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, mendapat perhatian luas publik.

Menindaklanjuti viralnya kisah tersebut, Pemerintah Kelurahan Dayeuhluhur bersama pengurus RT, RW, dan warga setempat bergerak menyiapkan tempat tinggal yang lebih layak bagi Meti dan keluarganya.

Lurah Dayeuhluhur, Supardi, mengatakan pihaknya telah bersepakat memindahkan Meti ke bangunan Posyandu Remaja (Posyanrem) yang berada di kawasan Vila Cantik. Bangunan tersebut sebelumnya dibangun melalui Program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2RW).

"Alhamdulillah kami sudah menemukan solusi. Bu Meti akan dipindahkan ke tempat yang lebih layak, yaitu di bangunan Posyandu Remaja yang berada di dekat Vila Cantik. Bahkan bangunan itu juga akan ditambah ruangannya melalui hasil musyawarah RT, RW dan swadaya murni masyarakat," ujar Supardi kepada sukabumiupdate.com, Rabu (22/7/2026).

Baca Juga: Cerita Meti di Kota Sukabumi: Korban KDRT, Bertahan Hidup di Musala-MCK Bersama 2 Anaknya

Supardi juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial maupun sejumlah pemberitaan yang menyebut Meti tinggal di dalam WC umum. Menurutnya, bangunan yang ditempati Meti selama ini merupakan bekas musala yang berada di kompleks MCK umum, bukan ruang toilet.

"Walaupun saya dengan para Ketua RT dan Ketua RW tidak sependapat dengan pemberitaan yang memviralkan bahwa Bu Meti tinggal di WC, itu tidak dibenarkan sama sekali. Faktanya, bangunan yang ditempati Bu Meti awalnya adalah musala yang berada di area MCK umum," jelasnya.

Ia menerangkan, musala tersebut dibangun saat warga sekitar masih memanfaatkan fasilitas MCK umum. Namun seiring berjalannya waktu, sebagian besar warga telah memiliki kamar mandi sendiri sehingga musala tersebut tidak lagi digunakan dan kemudian dimanfaatkan sebagai tempat tinggal sementara bagi Meti.

Menurut Supardi, keberadaan Meti di lokasi tersebut juga merupakan bentuk kepedulian warga setelah perempuan itu mengalami KDRT dan berpisah dengan suaminya.

"Awal mulanya Bu Meti mengalami KDRT oleh suaminya hingga akhirnya bercerai. Karena kondisi ekonominya kurang beruntung, akhirnya memanfaatkan musala yang ada di sini sebagai tempat tinggal," katanya.

Baca Juga: DP3A: 2 dari 12 Anak Korban Dugaan Pelecehan Kakek 72 Tahun di Sukabumi Jalani Visum

Ia menambahkan, sejak awal warga bersama pengurus lingkungan berupaya membantu Meti agar tetap memiliki tempat berteduh meski dengan kondisi yang sangat terbatas.

"Memang inisiatif warga juga agar Bu Meti bisa tinggal di situ, karena kalau harus mengontrak tentu membutuhkan biaya, sementara suaminya tidak bertanggung jawab. Selama ini kebutuhan hidup Bu Meti juga banyak dibantu oleh warga serta pengurus RT dan RW," ungkapnya.

Selain menyiapkan hunian baru, Pemerintah Kelurahan Dayeuhluhur memastikan Meti tetap menerima berbagai program bantuan sosial yang menjadi haknya.

"Untuk kebutuhan Bu Meti, alhamdulillah seluruh hak bantuan sosial dalam bentuk apa pun tetap diterima," pungkasnya.

Dengan adanya hunian baru yang sedang dipersiapkan melalui gotong royong warga, diharapkan Meti bersama kedua anaknya dapat menjalani kehidupan yang lebih nyaman dan layak setelah bertahun-tahun menempati bangunan sederhana di area MCK umum.

Berita Terkait
Berita Terkini