SUKABUMIUPDATE.com - Di sebuah rumah panggung sederhana di tepi jalan provinsi Jampangtengah–Kiaradua, tepatnya di Kampung Pasirangin, Desa Jampangtengah, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Ani (57 tahun) berusaha bertahan hidup di tengah derita sakit dan himpitan ekonomi.
Bangunan berukuran sekitar 4 x 5 meter itu merupakan warung kopi sekaligus tempat tinggal. Di tempat sempit itulah, Ani menjalani hari-harinya seorang diri. Sudah tiga bulan terakhir, perempuan paruh baya itu mengaku tidak makan nasi. Bukan karena pantangan medis, melainkan karena tak mampu membeli beras.
“Sudah tiga bulan tidak makan nasi. Kalau lapar, saya ambil daun singkong atau daun pepaya direbus. Sepiring itu bisa untuk sehari sekali makan,” ujar Ani kepada sukabumiupdate.com, Kamis (19/2/2026).
Demi mempertahankan warung kopi yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan, Ani memilih menahan lapar. Warungnya pun jarang disinggahi pembeli. Sesekali ada warga yang merasa iba dan memberinya sedikit uang, namun jumlahnya tak cukup untuk membeli beras, membayar kontrakan, apalagi untuk berobat.
Baca Juga: Suasana Berburu Takjil Hari Pertama Puasa di Perum BCA Cidahu Sukabumi
Ani mengidap stroke dan asam urat akut. Kondisi kesehatannya terus memburuk sejak 2018. Ia mengaku separuh daging dan kulit di bagian bokongnya hilang akibat luka karena sering bergeser atau “ngesot” saat bergerak.
“Ini sakit sebelah, sudah hilang dagingnya sebelah. Makanya mau jalan susah, paling juga pegangan. Kalau dapat pinjaman, saya mau berobat sama buat modal kopi,” tuturnya lirih.
Untuk berjalan, ia harus berpegangan pada dinding atau benda di sekitarnya. Aktivitas sederhana seperti mengambil air atau merapikan warung menjadi perjuangan tersendiri.
Warung sekaligus rumah yang ditempatinya merupakan bangunan kontrakan dengan biaya Rp250 ribu per bulan. Saat ini, ia telah menunggak selama dua bulan.
“Ngontraknya Rp250 ribu, ini sudah dua bulan belum dibayar. Suka ditagih yang punya kontrakan, tapi saya hanya bisa menangis. Mau pulang ke mana? Saya tidak punya rumah,” keluhnya.
Ironisnya, rumah kontrakan tersebut tidak memiliki akses air bersih. Untuk kebutuhan sehari-hari, Ani membeli dua galon air seharga Rp10 ribu yang diantar tukang ojek. Namun ongkos ojek pun belum mampu ia bayar. “Saya tidak punya air. Beli dua galon Rp10 ribu, diantar tukang ojek, belum bayar ojeknya,” katanya.
Di balik kondisi fisiknya yang lemah, Ani juga memikul beban batin. Ia mengaku sudah lama tidak diurus kedua anaknya yang kini telah dewasa. Anak-anaknya menuding ia meninggalkan mereka sejak kecil.
Baca Juga: Jam Kerja ASN Kota Sukabumi Berubah Selama Ramadan, Disiplin Tetap Ditekankan
Ani tak membantah pernah pergi. Namun, ia mengaku terpaksa meninggalkan kedua anaknya karena sering mendapat kekerasan dari suami. Suaminya pun kini telah lama pergi entah ke mana.
“Saya tinggalkan anak karena suami galak, sering memukul. Saya kabur ke orang tua. Tapi waktu itu diminta uang Rp500 ribu kalau mau cerai, orang tua tidak punya. Saya balik lagi, digebukin lagi. Saya tidak kuat, akhirnya kabur ke Jakarta,” tuturnya.
Sejak 2018, ketika penyakitnya semakin parah dan kakinya tak lagi kuat menopang tubuh, Ani tak mampu lagi bekerja seperti dulu. Warung kopi kecil itulah satu-satunya cara ia bertahan hidup.
Di tengah segala keterbatasan, harapan Ani terdengar begitu sederhana. Ia ingin bisa berobat, membayar tunggakan kontrakan, dan memiliki sedikit modal untuk mempertahankan warungnya. “Kalau bisa ada modal Rp500 ribu untuk bayar kontrakan dan modal ngewarung sama berobat,” ucapnya penuh harap.
Di sudut warung kopi yang sunyi itu, Ani menunggu keajaiban, atau setidaknya uluran tangan, agar ia tak lagi harus memilih antara makan atau membuka warung demi menyambung hidup.






