Elang Jawa hingga Macan Tutul, Siswa SDN Pasirwalang Sukabumi Belajar Kekayaan Hayati Gunung Salak

Sukabumiupdate.com
Jumat 05 Jun 2026, 21:12 WIB
Elang Jawa hingga Macan Tutul, Siswa SDN Pasirwalang Sukabumi Belajar Kekayaan Hayati Gunung Salak

Siswa SDN Pasirwalang, di Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, ikuti edukasi lingkungan dan keanekaragaman hayati kawasan Gunung Salak. (Sumber : Istimewa.)

SUKABUMIUPDATE.com - Kesadaran menjaga lingkungan dapat dibangun sejak usia dini, hal itulah yang terlihat saat puluhan siswa SDN Pasirwalang, Desa Walangsari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi, mengikuti kegiatan edukasi keanekaragaman hayati dan pelestarian lingkungan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pada Rabu (3/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak mengenal lebih dekat kekayaan hayati yang terdapat di kawasan Gunung Salak melalui berbagai sesi edukatif dan interaktif. Suasana kelas pun berlangsung meriah ketika gambar satwa liar ditampilkan di layar. Sejumlah siswa tampak antusias menjawab pertanyaan dan mengajukan rasa penasaran mereka mengenai keberadaan satwa-satwa tersebut di habitat aslinya.

Salah satu materi yang diperkenalkan adalah tiga satwa kunci kawasan Gunung Salak, yakni Elang Jawa, Owa Jawa, dan Macan Tutul Jawa. Ketiganya dikenal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Baca Juga: 8 Motor Dilaporkan Berjatuhan Akibat Tumpahan Oli di Simpang Ratu Cibadak

Safety Health & Environmental Engineer Star Energy Geothermal Salak Ltd. (SEGS), Shefira Herlindya Putri, mengatakan antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul selama kegiatan berlangsung.

“Anak-anak ternyata sangat antusias. Mereka banyak bertanya apakah satwa-satwa ini masih bisa ditemukan di Gunung Salak dan bagaimana cara menjaganya agar tidak punah,” ujar Shefira, kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan, Elang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa yang berperan sebagai predator puncak. Keberadaannya menjadi salah satu indikator bahwa rantai makanan di hutan masih terjaga. Sementara itu, Owa Jawa membantu penyebaran biji-bijian untuk regenerasi alami hutan, sedangkan Macan Tutul Jawa berperan menjaga keseimbangan populasi satwa lain.

Baca Juga: Viral! Anak 11 Tahun di Surade Diduga Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung

Selain mengenal satwa liar, siswa juga diperkenalkan dengan berbagai jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di kawasan Gunung Salak, seperti puspa, rasamala, saninten, pasang, kayu manis, huru, dan pakis. Melalui kuis dan permainan sederhana, mereka belajar mengenai fungsi tumbuhan dalam menjaga sumber air, kualitas tanah, serta menjadi habitat bagi berbagai satwa.

Materi edukasi juga mencakup pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan pendekatan yang mudah dipahami, siswa diberikan pemahaman mengenai bahaya membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah di area kering, hingga pentingnya melaporkan tanda-tanda kebakaran kepada pihak terkait.

“Menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau perusahaan, tapi tanggung jawab kita bersama. Dan kepedulian itu bisa mulai dibangun sejak usia dini,” kata Shefira.

Baca Juga: Laka Maut di Jalur Lingsel, Kronologi Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Motor Saat Nyebrang

Usai mengikuti sesi pembelajaran di kelas, para siswa bersama guru dan tim penyelenggara melakukan penanaman pohon kuncup merah di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai pentingnya pohon bagi kehidupan dan kelestarian lingkungan.

Kepala SDN Pasirwalang, Eti Mulyati, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa.

“Anak-anak jadi lebih mengenal lingkungan di sekitar mereka sendiri. Mereka belajar sambil bermain, jadi lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Melalui kegiatan edukasi tersebut, diharapkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati dapat tumbuh sejak dini, khususnya bagi generasi muda yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Salak.

 

Berita Terkait
Berita Terkini