SUKABUMIUPDATE.com - Tim medis RSUD R. Syamsudin, SH Kota Sukabumi telah merampungkan proses visum terhadap jenazah Afni Nopianti (30), korban tragedi longsor di Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tidak adanya luka berat atau patah tulang yang menjadi penyebab langsung kematian, melainkan adanya indikasi kuat kekurangan oksigen.
Humas RSUD R. Syamsudin SH, dr. Irfan Nugraha, menjelaskan bahwa proses visum luar dilakukan pada Kamis (16/4/2026) malam setelah pihak rumah sakit menerima permintaan resmi dari penyidik kepolisian dan tim Inafis.
“Kami melaksanakan visum itu mulainya sekitar pukul 8 malam. Sebetulnya korban datang sekitar pukul 7, tapi pemeriksaan sempat tertunda karena kami menunggu surat permintaan visum dari penyidik dan juga Inafis. Maka dari itu baru bisa dilaksanakan jam 8, selesai jam 9,” ujar Irfan saat dikonfirmasi sukabumiupdate.com di RSUD R. Syamsudin SH, Kamis malam.
Baca Juga: Korban Tertimbun di Kamar Mandi, BPBD Sukabumi Ungkap Tragedi Longsor di Sukalarang
Saat tiba di rumah sakit, kondisi jenazah dalam keadaan basah dan tertutup tumpukan kain karena dilaporkan tidak ada pakaian yang melekat di tubuh korban saat evakuasi. Berdasarkan pemeriksaan fisik, tim medis menemukan sejumlah luka lecet di beberapa bagian tubuh.
“Kondisi kedatangan korban saat datang itu memang basah, sudah ditutup dengan beberapa tumpuk kain, karena menurut info tidak ada pakaian yang menempel di tubuh korban, sehingga ditutup dengan bed cover, sprei, dan lain-lain,” jelasnya.
“Banyak ditemukan luka lecet, terutama di tubuh bagian kanan, di lengan juga. Tidak ada luka terbuka yang signifikan yang sekiranya bisa menyebabkan kematian,” tambah Irfan.
Tim medis juga tidak menemukan adanya tanda-tanda patah tulang akibat benturan keras material longsor maupun reruntuhan bangunan.
“Kalau untuk benturan sampai dengan patah tulang, kami tidak menemukan di pemeriksaan. Kalau lecet-lecet ada, ada yang kecil sampai dengan ada yang cukup lebar,” kata Irfan.
Baca Juga: Sungai Cibadak Meluap, 12 Rumah di Pamuruyan Terdampak Banjir
Indikasi Kekurangan Oksigen (Asfiksia)
Fokus utama hasil visum merujuk pada kondisi fisik korban yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan oksigen (asfiksia), diduga akibat tertimbun material tanah dalam durasi tertentu.
“Tanda kehabisan oksigen ada, tandanya dari wajah tampak biru keunguan, kemudian juga dari ujung-ujung jari tangan sudah tampak kebiruan,” ungkap Irfan.
Meski demikian, Irfan menekankan bahwa untuk memastikan penyebab pasti kematian secara klinis, diperlukan tindakan autopsi.
“Untuk dipastikan sebab kematiannya karena kehabisan oksigen atau tidak itu harus pemeriksaan autopsi,” ujarnya.
Terkait perkiraan waktu meninggalnya korban, tim medis mengestimasi bahwa kematian terjadi tidak lama setelah peristiwa longsor menerjang pada pukul 17.00 WIB.
“Untuk estimasi waktu kematian sepertinya tidak lama dari waktu kejadian sekitar pukul 5, jadi mungkin masih sekitar jam segitulah, setengah 6 mungkin,” pungkas Irfan.
Setelah seluruh rangkaian prosedur medis di RSUD R. Syamsudin, SH selesai, jenazah korban langsung diserahterimakan kepada pihak keluarga. Dengan pengawalan petugas dan suasana duka yang mendalam, jenazah diberangkatkan menuju rumah duka di wilayah Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, untuk proses pemulasaraan dan pemakaman.
Sebelumnya diberitakan, Afni, seorang karyawati pabrik, ditemukan meninggal dunia di dalam kamar mandi rumah kontrakannya di Kampung Griya Sukamaju, Desa Sukamaju, Sukalarang. Korban tertimbun material tebing setinggi 8 meter yang ambruk menimpa dinding belakang rumah saat hujan deras melanda wilayah tersebut.
Saat bencana terjadi, korban dilaporkan sedang seorang diri di dalam rumah kontrakan tersebut, sementara suaminya masih berada di tempat kerja.





