Evakuasi Dramatis 9 Domba dari Kandang Ambruk Saat Longsor di Jampangtengah

Sukabumiupdate.com
Kamis 16 Apr 2026, 16:17 WIB
Evakuasi Dramatis 9 Domba dari Kandang Ambruk Saat Longsor di Jampangtengah

Warga mengevakuasi domba yang terjebak di reruntuhan kandang akibat longsor di Kampung Cijiwa, Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Rabu (15/4/2026). (Sumber Foto: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com – Bencana alam yang melanda Kampung Cijiwa RT 26/05, Desa Nangerang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, menyisakan cerita dramatis tentang aksi heroik warga. Sebanyak sembilan ekor domba berhasil dievakuasi hidup-hidup setelah sebuah pergerakan tanah memicu longsor yang menerjang dan menimpa kandang ternak milik warga pada Rabu, 15 April 2026.

Kepala Desa Nangerang, Sopyan, menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula dari pergerakan tanah di area perbukitan setelah diguyur hujan deras. Tanah yang berada di posisi atas tergerus aliran air, lalu meluncur ke bawah membawa material lumpur yang langsung menghantam bangunan kandang hingga hancur.

Dalam rekaman video yang diterima redaksi, terlihat detik-detik mencekam saat warga bahu-membahu membongkar tumpukan bambu dan material bangunan yang dipenuhi lumpur.

Di tengah kondisi tanah yang masih labil, warga harus merayap di antara patahan kayu untuk menarik satu per satu domba yang terjepit di dalam reruntuhan. Suara embikan domba yang stres bersahutan dengan riuh instruksi warga yang bergegas melakukan penyelamatan.

“Tanahnya bergerak dari atas, tergerus air lalu meluncur menimpa kandang domba tersebut. Pemilik kandang sempat panik saat kandang ambruk, namun langsung mengevakuasi ternaknya ke tempat yang lebih aman dengan bantuan warga sekitar. Alhamdulillah seluruh domba berhasil diselamatkan,” ujar Sopyan kepada sukabumiupdate.com, Kamis sore (16/4/2026).

Baca Juga: Diterjang Longsor dan Pergerakan Tanah, Desa Nangerang Dikepung Ancaman dari Berbagai Titik

Selain menghancurkan fasilitas peternakan, longsoran dari tebing setinggi 120 meter tersebut membawa dampak serius bagi sektor pertanian. Saluran irigasi Cibening dilaporkan terputus sepanjang 50 meter karena tertimbun material tanah yang bergerak dari atas.

Kondisi ini menyebabkan sekitar 2.000 meter persegi sawah rusak total, sementara sekitar 5 hektare lahan tani lainnya kini terancam kekeringan karena hilangnya akses air utama.

"Saluran irigasi Cibening terputus sepanjang 50 meter, sehingga berdampak pada lahan pertanian warga,” tambah Sopyan.

Bencana ini menjadi rangkaian dari laporan pergerakan tanah yang sebelumnya terjadi di Bukit Pasirmuncang. Di Kedusunan Cilimus sendiri, tercatat ada tiga unit rumah yang dihuni oleh 13 jiwa yang kini berada dalam zona bahaya karena posisi rumah yang sangat dekat dengan jalur lintasan longsor.

Baca Juga: Ada Proyek Pengembangan Stasiun Bogor, Jalur KRL 6-8 Ditutup Sementara Selama 3 Bulan

Pemerintah Desa Nangerang saat ini terus melakukan penanganan darurat dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk perbaikan infrastruktur irigasi. Warga yang berada di lereng-lereng perbukitan diimbau untuk tetap waspada, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi memicu pergerakan tanah susulan.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna penanganan lebih lanjut, terutama untuk memulihkan aliran irigasi yang menjadi urat nadi pertanian warga, serta melakukan langkah pengamanan di area rawan longsor susulan,” pungkas Sofyan.

Berita Terkait
Berita Terkini