SUKABUMIUPDATE.com - Di bawah naungan terpal biru yang disangga tiang bambu seadanya, sejumlah warga Kampung Cibening, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, tampak berkumpul mengitari potongan-potongan besi baja yang berserakan di tanah yang basah sehabis hujan deras, Rabu siang (1/4/2026).
Suara denting logam terdengar sesekali memecah keheningan saat mereka memotong besi beton dan merakit baja ringan. Aktivitas di bawah tenda darurat ini diketahui merupakan awal dari persiapan pemasangan kerangka jembatan permanen pengganti jembatan darurat yang berada di atas aliran Sungai Ciseureuh.
Informasi yang dihimpun, sejak jembatan utama ambruk diterjang longsor pada November 2025 lalu, akses vital sepanjang 5 meter yang menghubungkan Kampung Cibening dan Kampung Pasapen tersebut tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah.
Baca Juga: Didominasi Longsor, 20 Bencana Terjadi di Kabupaten Sukabumi dalam 2 Hari Akibat Cuaca Ekstrem
Warga kini memilih untuk kembali bergerak mandiri daripada terus bertaruh nyawa melintasi jembatan darurat. Kondisi titian kayu dan bambu jembatan tersebut kian melapuk dan dihantui ancaman longsor susulan, serta menjadi sangat licin dan berbahaya setiap kali usai diguyur hujan.
"Warga berinisiatif untuk membangun jembatan (darurat) tersebut dengan bahan seadanya menggunakan bambu dan kayu, lantaran jembatan itu jadi akses satu-satunya warga Kampung Cibening," ujar Anggara, salah seorang warga yang ditemui di lokasi.
Anggara menjelaskan, bahwa persiapan pembangunan jembatan permanen ini dilakukan setelah warga kehilangan harapan pada janji pemerintah desa maupun kecamatan. Meski survei telah dilakukan pihak terkait sesaat setelah kejadian tahun lalu, hingga kini belum ada solusi nyata yang mendarat di lokasi.
Pantauan di lokasi, Rabu (1/4/2026), warga Cibening tampak sibuk memotong besi beton yang nantinya digunakan untuk tiang jembatan permanen.
Untuk membangunnya, warga mengandalkan donasi material berupa besi beton dan baja ringan. Selain itu, warga juga sepakat patungan sebesar Rp50.000 per kepala keluarga.
"Warga mendapatkan donasi berupa bahan bangunan, ada besi beton sampai baja ringan, warga juga mengumpulkan uang, terkumpul Rp7 juta, kemudian dibelikan pasir, batu split dan semen," jelas Anggara.
Baca Juga: Ditengah Penghematan Anggaran, Warga Sukabumi Lintasi Jembatan Uji Nyali
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Bantargadung, Uus Amrullah, membantah jika pihaknya membiarkan kondisi tersebut. Ia mengklaim telah mengupayakan perbaikan melalui jalur kemitraan dengan TNI.
"Kami sudah menyerahkan perbaikan jembatan ini kepada program Bakti TNI, alhamdulillah diterima, cuma memang kebetulan keburu mendapatkan donasi dan diperbaiki lewat swadaya masyarakat," ungkapnya.
Uus menyebut perbaikan jembatan penghubung antarkampung tersebut tak masuk anggaran Dana Desa. Pasalnya, Dana Desa sebesar Rp300 juta dialokasikan untuk insentif lembaga, kebencanaan, hingga bantuan langsung tunai (BLT).
"Dana Desa Bantargadung sekarang ada Rp300 juta itu pun buat insentif lembaga, kebencanaan dan BLT. Jadi anggarannya udah dipenggal sama pusat," paparnya.





