SUKABUMIUPDATE.com - Jembatan penghubung Desa Sekarwangi dan Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mengalami longsor pada bagian penyangga. Peristiwa terhadi pada Jumat (13/2/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Kondisi tersebut membuat akses warga menjadi rawan, terutama di tengah musim hujan dan derasnya arus Sungai Cicatih.
Kepala Desa Sekarwangi, Abeng Baenuri, menjelaskan jembatan tersebut berada di perbatasan dua desa. Bagian timur masuk wilayah Desa Sekarwangi dan di bagian barat masuk Desa Tenjojaya. “Jadi itu jembatan batas desa, di bawahnya Sungai Cicatih. Sebelah timur Sekarwangi, sebelah barat Tenjojaya,” ujarnya kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (14/2/2026).
Ia mengatakan, lokasi longsor berada di wilayah Desa Tenjojaya. Namun, warga yang terdampak merupakan warga Desa Sekarwangi yang menempati wilayah tersebut.
Abeng menyebutkan, terdapat dua jembatan di lokasi yang dikenal warga sebagai Rawayan Leuwi Pariuk. Satu jembatan merupakan peninggalan zaman Belanda berbahan bambu yang sempat diperbaiki oleh pihak PLN karena menjadi akses penyeberangan menuju PLTA.
Baca Juga: Kembali Berburu Impun di Perairan Pantai Citepus Sukabumi
Sementara jembatan yang mengalami longsor dibangun sekitar 11–12 tahun lalu melalui pokok pikiran (pokir) anggota dewan. “Yang longsor itu usianya sekitar 11–12 tahun. Sekarang yang sebelahnya juga sudah rawan longsor,” katanya.
Menurutnya, kondisi diperparah musim hujan dan derasnya arus Sungai Cicatih. Dinding penahan di sekitar jembatan sudah berlubang sehingga air hujan masuk ke badan jalan. “Dari atas terdorong, dari bawah terkikis,” ucapnya.
Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 42–45 meter dan lebar 1,5 meter, sehingga masih cukup leluasa dilintasi sepeda motor. Namun pasca longsor, jembatan dari pokir dewan ditutup oleh pemerintah desa bersama warga karena dinilai membahayakan.
Jika jembatan tersebut putus total, warga harus memutar arah melalui Kebon Randu, Kelurahan Cibadak, atau Bukit Panenjoan dengan jarak lebih dari tiga kilometer. Saat ini, jembatan lama berbahan bambu masih bisa digunakan secara terbatas. Warga yang melintas dengan sepeda motor memilih untuk mendorong kendaraan karena khawatir.
Baca Juga: Tottenham Hotspurs Menunjuk Igor Tudor Sebagai Pelatih Interim Hingga Akhir Musim
Usai kejadian, Abeng bersama Babinsa dan Ketua LPM langsung meninjau lokasi. Ia juga telah berkoordinasi dengan Kepala Desa Tenjojaya untuk penanganan lebih lanjut. “Kami sudah mengajukan ke Dinas Perkim. Desa Tenjojaya juga mengajukan ke provinsi. Mudah-mudahan bisa segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.






