SUKABUMIUPDATE.com – Nama Andrie Yunus menjadi sorotan publik setelah dirinya menjadi korban penyerangan berupa penyiraman air keras di Jakarta. Aktivis hak asasi manusia yang kini dikenal sebagai pengacara publik di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) tersebut ternyata memiliki jejak pendidikan di Kabupaten Sukabumi, tepatnya sebagai alumni SMA Negeri 1 Cicurug.
Mengutip dari wikipedia, Andrie Yunus lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 16 Juni 1998. Saat menempuh pendidikan di SMAN 1 Cicurug, ia dikenal aktif dalam kegiatan organisasi sekolah. Bahkan pada periode 2014–2015, Andrie dipercaya menjabat sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Setelah lulus dari sekolah menengah, Andrie melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera dengan mengambil peminatan di bidang hukum tata negara dan legisprudensi. Ia kemudian meraih gelar Sarjana Hukum pada Agustus 2020 dengan skripsi yang membahas peran paralegal dalam mewujudkan persamaan di hadapan hukum.
Selama masa kuliah, Andrie juga aktif dalam organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STH Indonesia Jentera pada periode 2018–2019.
Kariernya di dunia advokasi dimulai melalui berbagai pelatihan bantuan hukum. Pada 2019, ia mengikuti pelatihan bantuan hukum struktural dan gender yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK). Pada 2020, Andrie juga mengikuti program Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) di LBH Jakarta serta pelatihan paralegal dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Baca Juga: Muhibah Ramadan Pemkab Sukabumi di 10 Kecamatan Berakhir di Cidahu
Setelah lulus kuliah, Andrie bekerja sebagai Asisten Pengabdi Bantuan Hukum (APBH) di LBH Jakarta hingga Januari 2022. Ia kemudian melanjutkan pengembangan kapasitas dengan mengikuti Anti-Corruption Academy (ACA) yang diselenggarakan oleh IM57+ Institute pada Juni 2023 serta memperoleh lisensi advokat dari Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) pada November 2023.
Pada Maret 2022, Andrie bergabung dengan KontraS sebagai pengacara publik. Kiprahnya di organisasi tersebut terus berkembang hingga dipercaya menjabat sebagai Kepala Divisi Advokasi Hak Asasi Manusia pada September 2023. Pada Februari 2025, ia kemudian dipilih sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS.
Dalam perannya di KontraS, Andrie terlibat dalam berbagai investigasi dan advokasi kasus pelanggaran HAM, di antaranya kasus pembunuhan dan mutilasi warga sipil di Timika, Papua Tengah, kasus kerangkeng manusia di Langkat, Sumatera Utara, serta penembakan demonstran warga sipil dalam konflik lahan di Seruyan, Kalimantan Tengah.
Namun aktivitas advokasinya diwarnai peristiwa tragis. Pada 12 Maret 2026, Andrie Yunus diserang dengan air keras saat mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat, sekitar pukul 23.37 WIB.
Sebelumnya pada hari yang sama, Andrie menghadiri pertemuan Komisi Penyelidikan Fakta (KPF) Agustus 2025 sekitar pukul 15.30 WIB untuk membahas tindak lanjut investigasi dan rencana advokasi. Setelah itu, ia juga merekam sebuah siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang membahas isu militerisme dan uji materi di Mahkamah Konstitusi.
Baca Juga: Jalan Mulus Baru 62 Persen, Bupati Sukabumi Pastikan Pembangunan Digenjot di 2026
Akibat serangan tersebut, Andrie mengalami luka bakar di bagian kanan tubuhnya, termasuk pada mata, wajah, dada, dan tangan. Ia kemudian menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Peristiwa tersebut mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan menyampaikan kecaman keras terhadap serangan tersebut, termasuk Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pembela HAM Mary Lawlor, Menteri HAM Natalius Pigai, Ketua Komnas HAM Anis Hidayah, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, serta Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso.
Serangan terhadap Andrie Yunus menjadi perhatian publik sekaligus mengingatkan kembali besarnya risiko yang dihadapi para pembela hak asasi manusia dalam menjalankan aktivitas advokasi di Indonesia.
Kondisi terkini Andrie Yunus
Mengutip dari tempo.co, kondisi Andrie mulai membaik setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Luka bakar akibat air keras disebut sudah dapat ditangani.
Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Amiruddin Al Rahab mengatakan belum bisa bertemu langsung dengan Andrie karena korban masih diisolasi untuk mencegah infeksi. "Matanya juga agak lebih baik dari kemarin," kata Amiruddin saat dihubungi, Senin, 16 Maret 2026.
Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS Jane Rosalina mengatakan dokter telah menangani reaksi inflamasi pada mata Andrie akibat cairan asam. "Sudah diantisipasi dan diberikan pertolongan oleh pihak rumah sakit," kata Jane di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta.
Baca Juga: Falcon Pictures Rilis Teaser Perdana Film Dilan ITB 1997, Dibintangi Ariel NOAH dan Raline Shah
Penyerangan Diduga Sistematis, Pelaku Dinilai Terlatih
Masih mengutip dari tempo.co, pengacara Andrie Yunus dari TAUD menduga penyerangan terhadap kliennya dilakukan secara terencana. Perwakilan TAUD, Alghiffari Aqsa, menilai pelaku kemungkinan merupakan orang yang terlatih.
"Sangat sulit membayangkan serangan yang dilakukan terorganisir sedemikian rupa ini dilakukan oleh sipil," ujar Alghiffari pada Senin, 16 Maret 2026.
Menurut Alghiffari, penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) itu diduga melibatkan lebih dari satu orang dan dijalankan secara sistematis. Ia menilai pelaku yang menyiram air keras hanya berperan sebagai eksekutor di lapangan. "Ada aktor intelektual dan juga ada pendananya," kata Alghiffari dalam konferensi pers.
Sumber : berbagai sumber






