SUKABUMIUPDATE.com - Ketegangan di Timur Tengah mulai mereda seiring tercapainya kesepakatan damai terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Rekonsiliasi ini menandai dibukanya kembali jalur maritim vital Selat Hormuz, dibarengi dengan keputusan AS untuk mencabut blokade angkatan laut mereka di kawasan tersebut.
Keputusan besar ini dikonfirmasi dalam pernyataan bersama Presiden AS Donald Trump dan PM Pakistan Shehbaz Sharif pada Minggu (14/6/2026).
Sementara itu, dari pihak Teheran, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memastikan bahwa teks dokumen Memorandum of Understanding (MoU) sudah selesai difinalisasi. Berbicara dalam siaran televisi nasional Iran yang dilansir Asia Today, ia menyebutkan bahwa kedua belah pihak akan bertemu di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026, untuk meresmikan penandatanganan piagam perdamaian tersebut.
Baca Juga: Lantik 720 ASN Jabar di Lapangan Desa, KDM Tegaskan Birokrat Harus Dekat dengan Rakyat
Mengutip Tempo.co, Trump menyatakan "Kesepakatan dengan Iran telah SELESAI... Kapal-kapal Dunia, Nyalakan Mesin Anda!"—menyetujui pencabutan segera blokade angkatan laut
Presiden Trump menyatakan di platform media sosialnya, Truth Social, "Kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah SELESAI. Selamat kepada semua!"
"Saya memberikan persetujuan penuh untuk pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan pada saat yang sama, menyetujui pencabutan segera blokade Angkatan Laut AS. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!"
Baca Juga: Curug Cikurutug, Air Terjun Bertingkat yang Tersembunyi di Jampangtengah Sukabumi
Dalam unggahan terpisah, Presiden Trump mengklaim, "Kesepakatan hebat ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh wilayah.” Ia juga menegaskan bahwa "banyak Presiden telah mencoba untuk berdamai dengan Iran, tetapi mereka semua gagal sebelum saya," meski ia lupa menambahkan bahwa tak ada presiden AS lain yang menyerang Iran secara sepihak sebelumnya.
PM Pakistan Sharif dalam kesempatan terpisahmengatakan, "Penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front—penandatanganan di Swiss pada tanggal 19"
Sebelumnya, Perdana Menteri Sharif yang menjadi mediator dalam pembicaraan tersebut, mengumumkan di X (sebelumnya Twitter) bahwa kedua belah pihak menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk Libanon, dengan upacara penandatanganan resmi dijadwalkan pada 19 Juni di Swiss.
Baca Juga: Kunjungan Luar Negeri Prabowo Telan Rp1,1 Triliun, CELIOS: Saat Daerah Kesulitan Bayar Gaji Guru
Menyampaikan rasa terima kasih kepada Qatar, Arab Saudi, dan Turki atas kontribusi mereka dalam mediasi, Perdana Menteri Sharif menambahkan bahwa diskusi pra-implementasi akan berlangsung pekan ini.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa nota kesepahaman (MOU) tersebut dirancang di bawah rasa tidak percaya yang aktif, sementara media pemerintah melaporkan bahwa AS terpaksa menerima pengakhiran perang.
Wakil Menteri Luar Negeri Gharibabadi menekankan, "Nota kesepahaman ini bukan berarti kami mempercayai musuh. Nota kesepahaman ini dirancang di bawah rasa tidak percaya yang aktif."
Baca Juga: Dinas PU Mulai Rekonstruksi Jalan Parungkuda-Langbow, Telan Anggaran Rp916,8 Juta
Ia menambahkan bahwa Iran akan memantau dengan cermat kepatuhan AS terhadap kewajibannya. Gharibabadi juga menyatakan bahwa Iran tidak akan memulai implementasi sampai penandatanganan resmi dan akan mengungkapkan teks lengkap MOU tersebut setelahnya.
Stasiun penyiaran pemerintah Iran, IRIB, menayangkan keterangan yang berbunyi, "AS terpaksa menerima pengakhiran perang."
Sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian memposting di X bersama foto Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan menulis, "Kesepakatan tercapai. Salam kepada Jenderal Diplomasi."
Harga minyak global turun 4 persen sementara indeks berjangka S&P 500 naik 0,8 persen setelah pengumuman kesepakatan damai tersebut.
Sumber: Tempo.co



