Dari Tugu Adipura, Gelombang Kritik Mahasiswa Sukabumi Belum Berakhir

Sukabumiupdate.com
Senin 15 Jun 2026, 19:16 WIB
Dari Tugu Adipura, Gelombang Kritik Mahasiswa Sukabumi Belum Berakhir

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi, Pendidikan, dan Ideologi DPC GMNI Sukabumi Raya, Septian Hidayat saat diwawancarai. (Sumber: SU/Turangga Anom)

SUKABUMIUPDATE.com - Gelombang kritik dari kalangan mahasiswa di Sukabumi tampaknya belum akan berhenti. Setelah menggelar Mimbar Rakyat bertajuk "Pemimpin dan Birokrasi Negara Gagal" di kawasan Tugu Adipura, Jalan R.E. Martadinata, Kota Sukabumi, Senin (15/6/2026), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) DPC Sukabumi Raya membuka peluang menggelar aksi lanjutan dengan melibatkan lebih banyak elemen mahasiswa.

Isu mengenai aksi lanjutan yang disebut-sebut akan digelar pada 17 Juni 2026 pun mulai beredar di kalangan aktivis. Meski demikian, GMNI menegaskan belum mengambil keputusan resmi dan masih menunggu hasil konsolidasi internal bersama sejumlah organisasi mahasiswa.

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi, Pendidikan, dan Ideologi DPC GMNI Sukabumi Raya, Septian Hidayat, menegaskan aksi yang digelar di Tugu Adipura merupakan bentuk sikap mahasiswa Sukabumi terhadap berbagai persoalan nasional yang belakangan menjadi sorotan.

Baca Juga: Kunjungan Luar Negeri Prabowo Telan Rp1,1 Triliun, CELIOS: Saat Daerah Kesulitan Bayar Gaji Guru

Menurutnya, tuntutan yang dibawa mahasiswa mencakup penolakan terhadap rencana kenaikan harga BBM, kritik terhadap multifungsi ABRI, hingga penolakan terhadap pengesahan RUU Polri menjadi undang-undang.

"Mahasiswa, khususnya di Kota Sukabumi, tidak diam terhadap isu-isu nasional yang terjadi. Dengan narasi dan tuntutan yang kami bawa, mulai dari persoalan kenaikan BBM, multifungsi ABRI, hingga pengesahan RUU Polri menjadi undang-undang. Ketika berbicara soal RUU Polri, kami melihat ruang kebebasan sipil semakin menyempit. Ditambah dengan disahkannya Undang-Undang TNI, kami menilai rezim Prabowo hari ini mulai mengarah pada praktik-praktik yang mengkhawatirkan bagi demokrasi. Karena itu, teman-teman Sukabumi terus menyuarakan berbagai persoalan nasional maupun kedaerahan," ujar Septian saat diwawancarai sukabumiupdate.com ketika aksi masih berlangsung, Senin sore (15/6/2026).

GMNI pun membuka kemungkinan terbentuknya gerakan yang lebih besar. Organisasi tersebut berencana membangun konsolidasi dengan kelompok Cipayung dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebelum menentukan langkah berikutnya.

"Untuk rencana aksi lanjutan, kami akan berkonsolidasi kembali dengan teman-teman Cipayung dan BEM. Hasil konsolidasi tersebut nantinya akan menentukan langkah berikutnya dan akan kami sampaikan kembali kepada publik," katanya.

Baca Juga: Lina Ruslinawati Tampung Aspirasi Warga Desa Cidadap, Infrastruktur hingga Pertanian Mengemuka

Septian menyebut, aksi berikutnya berpotensi digelar dengan cakupan yang lebih luas dibandingkan aksi yang hanya terpusat di Tugu Adipura pada Senin sore.

"Hari ini teman-teman GMNI hanya terfokus di bundaran ini. Ke depan, apabila konsolidasi dengan seluruh elemen Cipayung dan BEM telah dilakukan, titik aksi kemungkinan akan diperluas," ucapnya.

Tak hanya menyampaikan orasi politik, mahasiswa juga berupaya menjaga semangat gerakan hingga malam hari melalui musikalisasi yang dikemas sebagai ruang ekspresi dan konsolidasi.

"Kami juga akan melanjutkan kegiatan hingga malam hari melalui musikalisasi bersama teman-teman yang membawa perangkat suara dan gitar. Ini menjadi bagian dari upaya menjaga nalar berpikir dan semangat perlawanan. Sebab ketika nalar kritis tidak dijaga, fungsi check and balance terhadap pemerintahan juga akan melemah," tutur Septian.

Sebelum aksi berlangsung, sejumlah kader GMNI terlebih dahulu melakukan penempelan stiker di sejumlah gedung dan instansi pemerintahan. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi kampanye gerakan.

Baca Juga: Dinas PU Mulai Rekonstruksi Jalan Parungkuda-Langbow, Telan Anggaran Rp916,8 Juta

"Penempelan stiker itu merupakan bentuk agitasi dan propaganda kepada masyarakat. Kami melihat adanya penindakan terhadap berbagai materi kampanye di media sosial. Karena itu, kami melakukan penyebaran pesan melalui penempelan stiker di sejumlah gedung dan instansi pemerintah sebagai bentuk perlawanan," katanya.

Sementara terkait isu aksi yang disebut-sebut akan berlangsung pada 17 Juni mendatang, Septian kembali menegaskan bahwa GMNI belum mengeluarkan sikap resmi. Namun, pihaknya memastikan akan turut mengambil bagian apabila agenda tersebut berpihak kepada kepentingan rakyat.

"Sampai saat ini GMNI belum mengeluarkan sikap resmi terkait agenda tersebut karena masih menunggu hasil konsolidasi internal. Namun ketika isu yang diperjuangkan menyangkut kepentingan rakyat, tentu kami akan membersamai aksi tersebut," pungkasnya.

Berita Terkait
Berita Terkini