SUKABUMIUPDATE.com - Tidak banyak yang tahu bahwa di Sukabumi memiliki pesantren yang secara khusus mengajarkan seni kaligrafi Al-Qur’an. Selain itu, lembaga pendidikan ini juga dikenal sebagai pesantren kaligrafi pertama di Indonesia dan telah melahirkan banyak kaligrafer berprestasi hingga tingkat internasional.
Di tempat ini Lemka (Lembaga Kaligrafi Al-Qur'an), para santri tidak hanya belajar ilmu agama, juga mendalami seni menulis huruf Arab dengan berbagai gaya kaligrafi yang memiliki kaidah dan teknik tersendiri. Setiap goresan tinta para kaligrafer menjadi bagian dari proses panjang yang menuntut ketelitian, kesabaran, serta kepekaan artistik.
Salah seorang santri, Nauratul Iffah (18), mengaku datang dari Aceh untuk memperdalam kemampuan kaligrafinya. Ia telah belajar di Sukabumi selama sekitar delapan bulan dan mempelajari berbagai jenis khat yang menjadi dasar dalam seni kaligrafi.
Baca Juga: Janji Palsu Pembayaran Lahan Rp14 Miliar di Cianjur, BPRS HIK Parahyangan Bungkam
“Aku udah belajar di Lemka sekitar 8 bulan. Di Lemka ini belajar khat naskhi, tsuluts, diwani, diwani jali, farisi, kufi, dan riq’ah,” ujarnya, kepada Sukabumiupdate.com.
Menurutnya, setiap jenis khat memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Salah satu yang cukup menantang adalah khat tsuluts karena memiliki kaidah penulisan yang cukup rumit.
“Tsuluts itu seperti buat kepala wau nya dan lafadz Allah yang kaidahnya lumayan sulit. Sulitnya di kaidahnya,” ungkapnya.
Untuk menyelesaikan satu karya kaligrafi, seorang santri bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Prosesnya dimulai dari membuat sketsa dasar, menyusun komposisi huruf, hingga tahap pewarnaan dan penyelesaian akhir.
Baca Juga: Jelang Idulfitri, Bupati Sukabumi Instruksikan Camat Jaga Kesiapsiagaan Pelayanan Publik
Pimpinan lembaga kaligrafi tersebut, Didin Sirojuddin AR menjelaskan bahwa pesantren kaligrafi ini berdiri pada 9 Agustus 1998. Sejak awal, tempat ini dirintis sebagai pusat pembelajaran seni kaligrafi Al-Qur’an yang serius dan terstruktur.
“Berarti umur pesantren ini sudah 27 tahun ya di sini. Jadi perjalanan panjang itu. Jadi kita tidak menemukan hasil dalam waktu sekejap, tapi perjalanannya begitu panjang,” kata Didin.
Saat ini sekitar 130 santri dari berbagai daerah di Indonesia menimba ilmu di tempat tersebut. Mereka datang dari sekitar 30 provinsi dengan latar belakang yang beragam, namun memiliki minat yang sama terhadap seni kaligrafi.
Menurut Didin, banyak santri dan alumni yang berhasil meraih prestasi di berbagai ajang kaligrafi, baik tingkat nasional maupun internasional. Bahkan dalam beberapa perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional, banyak finalis berasal dari lembaga tersebut.
Baca Juga: Ramadan di Cidadap Sukabumi: Warga Ngabuburit dan Berburu Takjil di Cibarengkok
Selain dikenal sebagai pusat pembelajaran kaligrafi, karya para santri juga telah menembus pasar internasional. Salah satu pengalaman menarik terjadi ketika rombongan tamu dari Malaysia datang berkunjung dan membeli sejumlah karya kaligrafi yang dipamerkan.
Karya para santri kemudian diketahui oleh keluarga Kesultanan Brunei Darussalam. Didin mengungkapkan, perwakilan keluarga Sultan bahkan sempat menghubunginya untuk memesan beberapa karya kaligrafi.
“Kemudian ada telpon dari masih keluarga Sultan Hassanal Bolkiah katanya ‘Pak Didin kami ingin mengoleksi dekorasi bisa tidak empat buah’,” ujarnya.
Bagi Didin, seni kaligrafi tidak hanya menghadirkan keindahan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menjadi media dakwah sekaligus peluang ekonomi bagi para kaligrafer yang tekun menekuninya. Karya yang lahir dari ketelatenan para santri itu kini tidak hanya menghiasi ruang-ruang ibadah di dalam negeri, tetapi juga diminati hingga ke luar negeri.




