SUKABUMIUPDATE.com – Rentetan kasus kekerasan ekstrem terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Sukabumi belakangan ini memicu gelombang keprihatinan luas. Mulai dari tragedi kematian bocah berinisial NS yang melibatkan ibu tiri di Jampangkulon, hingga dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati di Cicantayan oleh oknum pimpinan pondok pesantren, menjadi rapor merah bagi sistem perlindungan anak di daerah tersebut.
Menanggapi situasi, Forum Anak Kabupaten Sukabumi (Forbumi) menyatakan keprihatinan sekaligus kecaman terhadap berbagai bentuk kekerasan yang menimpa anak.
Fasilitator Forbumi, Muhammad Faisal, mengatakan pihaknya sangat menaruh perhatian terhadap situasi tersebut. Ia menyebut meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Sukabumi menjadi alarm bagi semua pihak untuk lebih serius memperkuat perlindungan terhadap anak.
“Melihat dari banyaknya kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Sukabumi yang akhir-akhir ini terjadi, Forum Anak Kabupaten Sukabumi tentu concern dengan situasi tersebut,” kata Faisal saat diwawancarai sukabumiupdate.com, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: DP3A Sukabumi Dampingi Korban Dugaan Tindak Asusila Pimpinan Ponpes Cicantayan
Ia menegaskan bahwa Forbumi mengutuk keras segala bentuk kekerasan terhadap anak, terlebih jika peristiwa tersebut terjadi di wilayah Kabupaten Sukabumi.
“Forum Anak Kabupaten Sukabumi mengutuk keras kekerasan terhadap anak, khususnya yang terjadi di Kabupaten Sukabumi ini,” ujarnya.
Menurutnya, perlindungan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.
“Kami berpesan perlindungan terhadap anak harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik masyarakatnya itu sendiri maupun pemerintah. Bicara tentang anak maka mereka adalah tanggung jawab kita semua (orang dewasa) untuk memberikan perlindungan kepada mereka,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Faisal juga memberikan sejumlah saran kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia.
Ia menilai perbaikan sistem perlindungan anak sangat penting karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang kelak akan memimpin masa depan.
“Saran dari kami terhadap pemerintah pusat maupun daerah, segera benahi sistem perlindungan anak di Indonesia. Anak-anak adalah regenerasi bangsa ini yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya. Jika anak-anak terpuruk dalam masa perkembangannya, bagaimana Indonesia bisa menciptakan pemimpin yang baik di masa depan?” katanya.
Baca Juga: DP3A: Kematian NS di Jampangkulon Harus Dijawab dengan Fakta Objektif Hukum dan Medis
Dalam pernyataannya, Forbumi juga menyampaikan sejumlah rekomendasi mendesak. Di antaranya meminta pemerintah mengalokasikan anggaran untuk merealisasikan sekolah ramah anak sesuai standar yang telah ditetapkan, termasuk meningkatkan kapasitas kepala sekolah dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.
Selain itu, mereka juga mendorong pemanfaatan dana desa untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya para orang tua, dalam pola pengasuhan anak yang benar.
Forbumi juga menekankan pentingnya melibatkan ahli perlindungan anak dalam penyusunan maupun pelaksanaan program, serta memastikan anggaran yang dialokasikan benar-benar digunakan untuk kepentingan perlindungan anak.
“Dan terakhir anggarannya jangan di korupsi,” ujarnya.
Faisal berharap dengan berbagai langkah tersebut praktik kekerasan terhadap anak dapat ditekan, sehingga anak-anak merasa aman baik di lingkungan rumah maupun di sekolah.
“InsyaAllah dengan saran tersebut praktik kekerasan terhadap anak dapat menurun. Karena dari rumah atau lingkungan masyarakat mereka terlindungi, pergi ke sekolah juga sama halnya,” tandasnya. (adv)





