Ramai - ramai Anti Proyek Geothermal, Warga Sirnarasa Sukabumi Tolak Pengeboran Panas Bumi di Gunung Halimun

Sukabumiupdate.com
Jumat 16 Jan 2026, 14:25 WIB
Ramai - ramai Anti Proyek Geothermal, Warga Sirnarasa Sukabumi Tolak Pengeboran Panas Bumi di Gunung Halimun

Ilustrasi proyek Geothermal (Sumber : edit by copilot)

SUKABUMIUPDATE.com - Program pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi listrik melalui geothermal menghadapi kendala serius. Setelah penolakan di gunung gede pangrango oleh warga Cianjur, kini giliran warga Sukabumi menolak rencana proyek Geothermal di kaki Gunung Halimun.

Sebuah video dengan durasi 2.37 detik, pernyataan sikap puluhan warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, warga secara terbuka menyuarakan penolakan keras terhadap rencana proyek eksplorasi panas bumi atau geothermal di kawasan kaki Gunung Halimun.

Video yang direkam di sebuah madrasah itu dimotori tokoh agama setempat, Ustaz Hilman atau yang akrab disapa Ustaz Embang. Ia bersama warga mendesak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi serta pihak terkait untuk membatalkan rencana pengeboran, yang dinilai mengancam keselamatan warga dan kelestarian tanah adat.

Baca Juga: Mendebat Aturan dan Sanksi untuk Merokok Saat Berkendara di Mahkamah Konstitusi

Penolakan warga didasari kekhawatiran akan potensi bencana alam. Lokasi pengeboran geothermal yang direncanakan di kawasan Pasir Sikabayan disebut berada di wilayah dengan kondisi geologi labil dan rawan longsor.

"Ini bukan sekadar hasil pemeriksaan di atas kertas, tapi fakta lapangan. Di sisi kampung kami sudah beberapa kali terjadi longsor. Kami tinggal di perut gunung. Kalau dipaksakan dibor, kami khawatir akan terjadi bencana besar seperti yang pernah terjadi di Sumatera," kata Ustaz Embang, pada Jumat (16/1/2026).

Ia menegaskan bahwa kawasan tersebut merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling menopang. "Ada Gunung Pasir Kabayan, Gunung Batu, dan Gunung Halimun. Semuanya saling bahu-membahu. Kalau satu titik diganggu, semua terdampak," ujarnya.

Baca Juga: Antusias Pelajar Sukabumi, Hidup Sehat Tanpa Cacingan dengan KUCING UNYU

Gelombang penolakan semakin menguat lantaran proyek geothermal dinilai mengancam keberadaan sawah produktif yang sebagian masuk wilayah kampung adat. Ustaz Embang menilai pendekatan ganti rugi finansial tidak sebanding dengan nilai keberlanjutan lahan pertanian.

"Memang uang ganti rugi itu banyak, harganya bisa naik dua kali lipat. Tapi kekuatan uang tidak seperti sawah. Uang mah sanajan (walaupun) sakoper bisa habis dalam sehari, tapi sawah dari zaman karuhun (leluhur) sampai sekarang masih turun-temurun memberi makan kami," Ucap Embang.

Ia menyebutkan bahwa tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat. Menurutnya, aktivitas proyek sudah berjalan secara senyap, mulai dari pemasangan patok, pita pembatas, hingga pembelian lahan, sebelum adanya penjelasan terbuka kepada seluruh warga desa.

Baca Juga: Catatan dari Local Media Community di Yogyakarta: AI Tools Training for Journalists

"Sosialisasi jangan hanya ke warga yang lahannya digusur. Semua warga desa harus tahu, karena dampaknya dirasakan bersama, termasuk rusaknya jalan akibat lalu-lalang truk tronton nanti," tegasnya.

Ustaz Embang mengungkapkan pihaknya telah mengirimkan video penolakan serta surat pengaduan kepada Gubernur Jawa Barat sejak sebulan lalu, dan sempat berkomunikasi dengan tim Jabar Istimewa.

"Kami sudah kirim video ini ke Gubernur. Kami juga sudah berangkat ke Pakuan dan berkomunikasi dengan tim utusan Pak Dedi Mulyadi. Keluhan warga sudah mereka dengar langsung," ungkapnya.

Baca Juga: Pantauan Tol Bocimi Long Weekend Isra Miraj 2026: Arah Sukabumi Padat

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Sirnarasa, Okih Suryadi, membenarkan adanya gejolak penolakan di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa proyek geothermal tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan perizinan yang diklaim telah terbit sejak 1998.

"Secara kewenangan, pemerintah desa tidak bisa menolak karena ini program pusat. Namun, jika masyarakat tidak setuju, kami pun tidak setuju. Kenyamanan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas," kata Okih saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada aktivitas pengeboran di lapangan. Kegiatan yang berlangsung baru sebatas survei awal. "Belum ada aksi pengeboran. Masih tahap perencanaan dan survei," ujarnya.

Baca Juga: Leher Terjerat Tali, Sopir Truk Asal Sukabumi Ditemukan Tak Bernyawa di Nagan Raya Aceh

Terkait lahan, Okih menyebut rencana pembangunan mencakup tiga titik pengeboran atau wellpad dengan estimasi total lahan antara 3 hingga 6 hektare. "Setiap wellpad diperkirakan sekitar satu sampai dua hektar. Untuk akses jalan sendiri belum ada kepastian," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak perusahaan berencana melakukan sosialisasi ulang secara bertahap di empat kedusunan Desa Sirnarasa. "Sosialisasi akan dilakukan per dusun agar masyarakat mendapatkan penjelasan langsung. Sosialisasi menyeluruh di kantor desa akan dilakukan setelah tahapan survei dan kajian lingkungan selesai," pungkasnya.

 

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini