SUKABUMIUPDATE.com - Paguyuban Armada Cilawang bersama Aliansi Masyarakat Jampangtengah menyampaikan pernyataan sikap atas bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada Senin 29 Desember 2025. Warga menilai bencana alam yang makin masif dipicu oleh kerusakan lingkungan akibat keberadaan sejumlah tambang di wilayah Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi
Pernyataan tersebut dibacakan secara terbuka, Selasa, 30 Desember 2025, di Alun-alun Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi. Dalam pernyataannya, Paguyuban Armada Cilawang mengungkapkan rasa simpati dan keprihatinan mendalam kepada masyarakat terdampak banjir dan longsor.
Mereka menilai bahwa bencana yang terjadi tidak sepenuhnya disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan, melainkan kuat dugaan adanya kerusakan lingkungan hidup. Paguyuban menyoroti aktivitas pertambangan di beberapa titik wilayah Kecamatan Jampangtengah yang diduga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Baca Juga: 30 Persen Warga Indonesia Curhat ke AI, Anak Muda Lebih Nyaman Ngobrol dengan Robot
Oleh karena itu, mereka mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) agar segera turun tangan menangani kerusakan lingkungan demi terciptanya lingkungan hidup yang aman dan berkelanjutan.Paguyuban Armada Cilawang menuntut pemerintah untuk bertindak tegas dengan memberikan sanksi kepada para pelaku perusakan dan pencemaran lingkungan, khususnya dalam kegiatan usaha industri.
Mereka berharap wilayah terdampak banjir dan longsor dapat segera pulih serta pemerintah segera melakukan penertiban terhadap pihak-pihak yang merusak lingkungan.
Wakil Paguyuban Armada Cilawang, Fadel, menyampaikan Kamis, 2 Januari 2026, telah dilaksanakan audiensi bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat wilayah I di Cianjur. Audiensi tersebut turut dihadiri oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Forkopimcam, serta pihak direktur perusahaan terkait.
Baca Juga: AS Culik Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Pakar Sebut 'Kematian' Hukum Internasional
Sementara itu, Camat Jampangtengah, Chaerul Ichwan, menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Paguyuban Armada Cilawang bukanlah bentuk tuntutan, melainkan wujud kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan di wilayahnya.
Ia menyebutkan bahwa permasalahan tersebut telah dibahas dan dinyatakan jelas dalam pertemuan bersama Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat wilayah I di Cianjur, DLH, Dinas Tata Ruang, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Forkopimcam, Kepala Desa Panumbangan, Kepala Desa Jampangtengah, perwakilan perusahaan, serta Paguyuban Armada Cilawang.
“Perusahaan yang dimaksud memang telah mengantongi izin resmi. Hasil kesepakatan bersama adalah akan dilakukan perbaikan atau normalisasi drainase, dan insya Allah pekerjaan tersebut akan dimulai pada hari Senin mendatang,” ujar Chaerul Ichwan.
Baca Juga: Puncak Arus Balik Nataru Mulai Terasa, Jalur Sukabumi–Bogor Diterapkan 2 Kali One Way Malam Ini
Banjir lumpur yang berasal dari Tambang
Apa yang disampaikan warga ini bukan tanpa dasar. Mereka mendokumentasikan saat banjir menyergap jalan raya dan pemukiman di kampung cilawang, ternyata berasal dari lokasi tambang diatas pemukiman.



