SUKABUMIUPDATE.com - AI atau Artificial Intelligence menjadi teknologi yang pemanfaatannya makin meluas, tak hanya fungsi praktis. Robot dengan kecerdasan buatan ini mulai diperlakukan sebagai teman curhat dan pendamping emosional, terutama di kalangan generasi muda.
Dalam survei terbaru Kaspersky mencatat lebih dari 30 persen pengguna di Indonesia memilih berinteraksi dengan Al ketika merasa sedih atau tidak bahagia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 29 persen.
"Kadang saya hanya ingin ada yang mendengarkan tanpa menghakimi. Al bisa merespons dengan cepat dan menenangkan, itu cukup membantu saat suasana hati sedang buruk," ungkap salah satu responden survei Kaspersky dari Indonesia.
Baca Juga: Dinkes Sukabumi Siagakan Nakes dari 6 Puskesmas di Pos Pam Exit Tol Parungkuda Selama Nataru
Fenomena ini paling menonjol di kalangan Generasi Z dan milenial, dengan 35 persen responden usia muda mengaku tertarik memanfaatkan Al sebagai sumber dukungan emosional.
Sebaliknya, generasi yang lebih tua cenderung kurang antusias karena hanya 19 persen responden berusia di atas 55 tahun yang mempertimbangkan berbicara dengan Al saat sedang kesal.
Teman Liburan Digital
Popularitas Al juga melonjak tajam selama musim liburan 2025/2026. Sekitar 74 persen responden global menyatakan akan menggunakan Al dalam aktivitas liburan mereka, mulai dari mencari resep hingga merencanakan perjalanan.
Baca Juga: AS Culik Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Pakar Sebut 'Kematian' Hukum Internasional
Antusiasme paling tinggi datang dari kelompok usia 18-34 tahun, dengan 86 persen responden berniat mengandalkan Al. Al paling banyak digunakan untuk mencari resep makanan (56 persen), menentukan restoran dan akomodasi (54 persen), mencari ide hadiah dan dekorasi liburan (50 persen), dan mengisi waktu luang dengan ide aktivitas (50 persen).
Tak hanya itu, separuh responden juga menganggap Al sebagai asisten belanja virtual yang mampu menyusun daftar belanja, membandingkan harga, hingga menganalisis ulasan produk.
Lindungi Privasi Data
Melansir suara.com, meski menawarkan kenyamanan dan bahkan dukungan emosional, para ahli Kaspersky mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada Al tetap menyimpan risiko, terutama terkait keamanan dan privasi data.
Baca Juga: Menang 2-0 atas Persijap, Persija Jakarta Geser Persib di Tabel Klasemen
"Seiring pesatnya perkembangan model LLM, kemampuan Al untuk terlibat dalam dialog yang terasa personal memang semakin meningkat," ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky Al Technology Research Center.
Namun ia menegaskan bahwa Al tetap belajar dari data internet yang tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan dan bias. "Sangat disarankan untuk menyikapi saran Al dengan skeptisisme yang sehat dan menghindari berbagi informasi secara berlebihan," tambahnya.
Kaspersky juga menekankan pentingnya memeriksa tautan yang dihasilkan chatbot Al karena berpotensi mengarah pada phishing atau konten berbahaya. Penggunaan solusi keamanan siber berbasis Al dinilai penting untuk meminimalkan risiko tersebut.
Baca Juga: Viral Dugaan Intimidasi Warga di Cisewu Garut, KDM Ingatkan Kades Jangan Antikritik
Meskipun percakapan dengan Al terasa pribadi, pengguna diingatkan bahwa sebagian besar chatbot dimiliki oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan data masing-masing.
"Al mungkin terasa seperti teman yang aman untuk berbagi perasaan, tapi jangan lupa data tetaplah data," ujar Tushkanov dalam keterangan resminya, Jumat 2 Desember 2025.
Karena itu, pengguna disarankan untuk meninjau kebijakan privasi sebelum menggunakan Jayanan Al, menghindari membagikan informasi sensitif atau finansial, dan memilih platform Al dari penyedia terpercaya.





